Syiah-Sunni dalam Diskusi (Bagian 1)

Perbincangan untuk mengkritisi ajaran syiah, memang sangat menarik untuk disimak. Apalagi di masa sekarang ini… masa dimana mereka lagi gencar-gencarnya menyebarkan paham sesat itu ke seantero dunia… terutama negara kita tercinta INDONESIA…
Dengan NEGARA IRAN sebagai pusat kekuatan jasmani dan rohaninya… mereka tidak ragu-ragu untuk mendakwahkan idiologinya dengan dinar dan dolar yang besar… Karena pada akhirnya nanti, mereka akan meraup keuntungan yang berlipat ganda… mereka akan tajir bin kaya raya, dengan kewajiban membayar seperlima kekayaan dari setiap pengikutnya… Tidak hanya itu, mereka juga akan mampu dengan bebas merenggut kehormatan setiap wanita super cantik yang diinginkannya, dengan iming-iming pahala kawin mut’ah yang mereka buat-buat dan palsukan…
Memang, sekarang kita belum banyak melihat perbedaan antara SUNNI dan SYIAH… Itu karena mereka selalu berlindung di balik tabir TAKIYAH (baca: kedustaan)… tabir yang mereka gunakan untuk menghalangi sinar matahari yang akan menampakkan wajah buruk mereka…
Tapi kita tak perlu khawatir… bi idznillah dengan berjalannya waktu, kita yakin tabir itu akan rapuh dan koyak… kita yakin, -dengan pertolongan Alloh, usaha dan sumabangsih umat sunni-  sinar matahari hidayah itu, akan dapat menembus tabir setan itu… dan kita akan tahu, siapa sebenarnya mereka…?!!
Tulisan ini ibarat lentera kecil, yang akan membantu anda menerangi  dalam menjelajahi alam kelabu ajaran sesat ini, semoga bisa memberikan tambahan pencerahan dalam pikiran… sehingga kita bisa melihat dan mengerti… mana yang benar yang harus diikuti… dan mana yang batil, yang harus dijauhi…
Selanjutnya, kami persilahkan anda menyimak diskusi antara SUNNAH dengan SYIAH…, semoga bermanfaat… amin:
*******
*******
(1) Al-Kulainiy menyebutkan dalam kitabnya al-Kafi (1/258): “Sebenarnya para imam kita itu tahu kapan mereka akan meninggal, dan mereka tidak akan meninggal kecuali setelah mereka memilihnya”. Di sisi lain, Al-Majlisiy dalam kitabnya Biharul Anwar (43/364), menyebutkan sebuah hadits yang berbunyi: “Tidak ada imam yang mati, melainkan dibunuh atau diracun”.
****
Seandainya seorang imam itu mengetahui hal yang ghaib, sebagaimana dikatakan oleh Kulainiy, tentunya ia akan tahu setiap makanan dan minuman yang disuguhkan kepadanya. Apabila makanan itu mengandung racun, tentunya ia tahu hal tersebut dan akan menjauhinya. Karena apabila ia tetap memakannya, berarti matinya bunuh diri! Mengapa? Karena ia tahu bahwa makanan itu mengandung racun, dan ia akan membunuh dirinya sendiri jika memakannya. Padahal Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah mengabarkan bahwa orang bunuh diri tempatnya di neraka! Apakah kaum syiah rela hal ini diterapkan kepada para imam mereka??!!
***
 (2) Apabila Ali r.a. mengetahui, bahwa dirinya adalah kholifah dari Alloh (langsung sepeninggal Rosul -shollallohu alaihi wasallam-) yang termaktub dalam wasiat beliau.
***
Pertanyannya: Mengapa Ali r.a. malah membaiat Abu bakar r.a., kemudian Umar r.a., kemudian Utsman r.a., untuk menjadi kholifah??!
Apabila kalian mengatakan: “Pada waktu itu ia sedang lemah”. Maka kami katakan: Seharusnya orang yang lemah tidaklah pantas menjadi kholifah, karena kholifah hanya khusus bagi mereka yang mampu mengembannya.
Apabila kalian mengatakan: “Ia mampu, tapi tidak melakukannya”. Maka kami katakan: itu berarti sebuah penghianatan… padahal seorang penghianat tidak pantas menjadi kholifah, tidak pula dapat dipercaya. –sungguh Ali r.a. bersih dari semua tuduhan mereka itu-.
Jika demikian, lalu apa jawaban kalian…??!
***
(3) Kaum Syiah berkeyakinan bahwa Ali r.a. adalah imam yang ma’shum (bebas dosa). Tapi disisi lain, kita dapati fakta –yang juga diakui oleh kaum syiah[1]- bahwa dia mengawinkan putrinya, Ummu Kultsum (yang juga saudari kandung Hasan dan Husein), dengan Umar bin Khottob!!!
***
Menyikapi fakta ini, ada dua kemungkinan jawaban, yang dua-duanya bertentangan dengan keyakinan mereka:
Kemungkinan Pertama, Ali r.a. tidak ma’shum. Mengapa?? Karena ia telah menikahkan putrinya dengan orang yang (mereka anggap) telah kafir. Dan ini bertentangan dengan dasar-dasar keyakinan mereka.
Kemungkinan Kedua , Umar r.a. itu seorang muslim, yang telah diridhoi oleh Ali r.a. sebagai menantunya!! (Ini juga bertentangan dengan keyakinan mereka).
Dua jawaban…  yang sungguh sangat membingungkan…

Bersambung......
Share on Google Plus

Tentang Al Inshof

Al Inshof merupakan situs yang mencoba memberi gambaran kepada pembaca tentang Islam dan informasi-informasi terkait dunia Islam. Semoga apa yang ada di Al Inshof bermanfaat bagi Anda semua. Kritik dan saran dapat Anda emailkan ke buletinalinshof@gmail.com