Monday, June 11, 2018

Buletin Alinshof

Musibah Terbesar dalam Kehidupan Manusia


Hidup adalah ujian. Demikian yang kita pahami dari firman Allah, yang artinya "Dialah Allah yang telah menciptakan hidup dan mati untuk menguji siapa di antara kamu yang bertakwa"

Ujian yang dilami oleh manusia ada yang terlihat dan ada yang tidak terlihat. Ujian yang terlihat ini tentu saja lebih mudah mengenalinya daripada yang tidak terlihat. Karena mudah dikenali seseorang akan merasa bahwa dirinya mendapat musibah sehingga ia dapat melakukan sesuatu untuk menghadapi musibah itu.

Contoh musibah ini antara lain, ketika seseorang ditimpa sakit, ketika harga-harga barang melambung, ketika padinya terkena hama dan sebagainya. Musibah-musibah ini dapat dengan mudah dikenali sebagai musibah. Sehingga orang lain bisa melihat juga dan mungkin kemudian bisa membantu menghadapi musibah tersebut.

Lain halnya dengan musibah yang tidak terlihat. Bisa jadi orang yang mendapatkan musibah tidak merasa bahwa dirinya terkena musibah. Bahkan bisa jadi dalam kesehariannya dia bisa tertawa lebar. Orang lain pun tidak bisa melihat bahwa orang tersebut sedang mendapatkan musibah. Sehingga mustahil ia akan memikirkan solusi dari sebuah musibah. 

Musibah yang tidak terlihat yang dimaksud adalah musibah ketidaktahuan seseorang terhadap Dinul Islam. Musibah kebodohan, fitnatusy syahwat. Orang seperti tidak adalah orang yang buta di kehidupan dunianya. Dan kebutaannya di dunia ini menyebabkan kebutaannya di akhirat, akibatnya ia tidak tahu jalan ke surga. Ini adalah fitnah yang luar biasa bagi manusia. 

Karenanya, ketika melihat seorang pendeta yang sudah tua dan khusuk dalam beribadah kuat dalam beramal, sahabat Umar bin Khaththab menangis.

Dikisahkan pada suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berhenti di suatu gereja kecil, ia melihat seorang pendeta berada di dalamnya. Pendeta itu diberi tahu bahwa ada Amirul Mukminin datang kepadanya, maka ia berdiri dengan gemetar karena badannya lemah. Melihat keadaan pendeta itu, maka Umar menangis. Ketika diberitahu bahwa laki-laki itu adalah orang Nasrani maka Umar berkata, “Aku tahu bahwa ia adalah orang Nasrani, tapi (yang membuatku menangis) aku ingat firman Allah:

“(Ia) bekerja keras lagi kepayahan, lalu memasuki api yang panas (neraka)” (Terjemah QS. Al-Ghasiyah: 3-4)

Karena sesungguhnya amalan dan segala kebaikan bagi orang kafir bagaikan fatamorgana. 

“Orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ‘air’ itu, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (an-Nur: 39—40)

Inilah yang ditangisi Umar bin Khathab, dirinya merasa takut akan kehilangan iman yang menjadikannya dapat masuk ke neraka. Sekeras apapun usaha dan ibadah yang dilakukan,  dan berbagai kebaikan tidak akan ada artinya tatkala kita tidak beriman pada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengakui Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam sebagai utusan Allah.

Hal itu menjadi pelajaran bagi kita semua, hendaknya selalu berhati hati terhadap musibah yang tidak kelihatan, yakni fitnah subhat yang akibatnya akan menyengsarakan kehidupan kita di akhirat kelak. Untuk mengobati fitnah subhat tersebut tidak ada cara lain kecuali mengkaji dengan benar.

Tiga hal yang perlu kita kaji, adalah mengenal Allah (makrifatullah), mengenal Rasulullah (makrifaturrasul) dan mengenal agama islam (makrifatud dinul Islam)

Semoga Allah Subhanahu wa ta 'ala selalu memberi hidayah kepada kita semua baik hidayah irsyad maupun hidayan taufik.



Selengkapnya

Monday, May 28, 2018

Buletin Alinshof

Tiga Hal yang Menjadikan Seseorang Rugi di Bulan Ramadhan


Ibarat sebuah gedung, bulan Ramadhan adalah gedung pertemuan yang sangat megah. Di dalamnya berbagai fasilitas dan pelayanan tersedia. Obral bonus bagi para tamu yang memasukinya pun ada pada setiap saat. Bahkan setiap desah nafas seseorang yang berada di ruangan itu mempunyai nilai dan keutamaan yang luar biasa. Tentu menjadi kesempatan yang luar biasa jika seseorang dapat memasuki ruangan tersebut. 

Namun, ternyata tidak setiap orang sadar akan hal itu. Banyak di antara umat islam yang lalai terhadap peluang itu hingga menjadikan mereka merugi. Hal-hal berikut yang dapat menjadi penyebab seseorang tidak mendapatkan kebaikan dari bulan Ramadhan.

1. Tidak Berpuasa dan Tidak Beribadah dengan Maksimal

Bagaimana pendapat Anda jika di suatu pasar sedang ada obral besar-besaran. Apakah orang yang di rumah dan tidak berangkat ke pasar tersebut akan mendapat obralan itu? Atau bagaimana pula pendapat Anda jika ada seoang yang berada di pasar tersebut ia hanya melihat-lihat orang yang ramai dan semangat memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan barang-barang mewah dengan harga yang sangat murah. Ya, tentu Anda sepakat dengan saya. Orang itu tidak akan mendapatkan apa-apa. Bisa jadi yang dia dapatkan hanyalah kelelahan yang luar biasa.

Itulah gambaran orang yang tidak memanfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Padahal banyak dijelaskan oleh Rasulullah keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan. Rasulullah menjelaskan dalam khutbahnya bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, di dalamnya Allah mewajibkan orang yeng beriman untuk berpuasa, di dalamnya pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat serta setan-setan dibelenggu. Pada bulan Ramadhan, ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dan barangsiapa tidak mendapati malam itu maka dia telah kehilangan pahala seribu bulan.

Meski bulan Ramadhan penuh dengan keberkahan tetap saja orang yang tidak mau berpuasa atau tidak mau optimal dalam ibadahnya, dia akan mendapatkan kerugian.

2. Hanya Menahan Diri dari Makan dan Minum dan Membiarkan liar Anggota Badan yang lain

Hal itu pernah dikatakan oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya, yang artinya kurang lebih:
"Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga". (HR. Ath Thabrani)

Seluruh apa yang ada pada diri manusia mempunyai potensi untuk mendatangkan kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah dan juga potensi untuk berbuat maksiat, yang menyebabkan seseorang jauh dari Allah. Karenanya, kalau puasa yang dilakukan manusia hanya untuk menjaga perutnya dari makan dan minum sementara membiarkan anggota badan yang lain liar, tentu akan banyak kemaksiatan yang akan ia lakukan. Matanya mempunyai potensi yang besar untuk bermaksiat kepada Allah dengan melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah demikian juga telinga, pikiran, kaki dan tangannya.

Orang seperti inipun nantinya tidak akan mendapatkan keutamaan bulan Ramadhan meski saat itu Allah mengobral pahala dan ampunan.

3. Tidak Mengikuti Taraweh hingga Selesai

Ia mungkin beralasan akan menambah shalat malamnya sehingga ia memilih pulang daripada mengikuti imam menyelesaikan tarawehnya. Pertanyaanya, apakah ia dapat menjamin dirinya dapat bangun malam? Atau apakah ia dapat memastikan bahwa Allah masih memberinya kesempatan. Bukankan ajal seseorang itu bersifat baghtah atau sekonyong-konyong. Tidakkah ia khawatir akan hal itu. Orang yang seperti ini lebih memilih berspekulasi daripada memaksimalkan kesempatan yang ada di depan matanya.

"Orang yang shalat taraweh mengikuti imam sampai selesai, ditulis baginya shalat semalam suntuk" (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Itulah yang dikatakan oleh Rasulullah. Jadi mengapa Anda meninggalkan shalat taraweh bersama imam untuk melakukan ibadah yang belum tentu Anda mempunyai kesempatan. Rugilah kalau ada orang memilih meninggalkan kebaikan yang sudah jelas ia mempunyai kesempatan untuk melaksanakannya demi mengharap dapat melaksaknakan ibadah yang belum tentu ada kesempatan baginya.

Itulah tiga hal yang jika Anda lakukan, maka siap-siap saja Anda mengalami kerugian yang sangat besar. Semoga Allah selalu memudahkan diri kita dalam memaksimalkan kesempatan yang telah diberikan kepada kita semua, yakni kesempatan menemui bulan Ramadhan.
Selengkapnya

Saturday, November 18, 2017

edris ernawan

Yang Paling Durhaka dan Paling Berbakti


Al-Ashma’I berkata, “Ada seorang Arab dusun bercerita kepadaku, “Suatu kali saya keluar dari kampungku untuk mencari orang yang paling durhaka kepada orangtuanya dan orang yang paling berbakti kepada orangtuanya. Maka saya berkeliling dari kampung ke kampung. Hingga saya mendapatkan seorang yang sudah tua, di lehernya ada kalung tali yang digantungi ember besar berisi air sangat panas. Di belakang orang tua itu ada seorang pemuda yang tangannya mencambuk oorangtua itu. Punggung orangtua itu babak belur karena cambukannya.

Akupun berkata, “Tidakkah kamu takut kepada Allah dalam memperlakukan orangua yang lemah ini? Tidakkah cukup bagimu membebaninya dengan tali di lehernya, mengapa kamu masih pula mencambuknya? Dia berkata, “(biarkan Saja), meskipun ini ayahku sendiri.” Aku berkata, “Allah tidak akan membalasmu dengan kebaikan!.” Dia berkata, “Diam! Beginilah dia dahulu telah memperlakukan ayahnya, dan begini pula ayahnya dahulu memperlakukan kakeknya.” Saya berkata,”Inilah orang yang paling durhaka.”

Kemudian aku berkeliling lagi, hingga bertemu dengan seorang pemuda yang mengalungkan keranjang di lehernya. Di dalam keranjang itu ada orang yang sudah tua, keadaannya lemah seperti bayi. Pemuda itu menggendongnya dengan kedua tangannya setiap saat, dia juga mencebokinya seperti seorang menceboki anaknya. Lalu saya berkata, “Ada apa ini?” pemuda itu menjawab, “Ini adalah ayahku, beliau telah pikun, dan saya yang merawatnya.” Maka saya katakan, inilah orang yang paling berbakti.” Akupun kembali dan telah bertemu dengan orang yang paling durhaka dan kemudian orang yang paling berbakti.”
Selengkapnya
edris ernawan

Tiga Ciri Orang yang Dicintai Allah


Khutbah Pertama:
الحمد لله الذي أصلحَ الضمائرَ، ونقّى السرائرَ، فهدى القلبَ الحائرَ إلى طريقِ أولي البصائرِ، وأشهدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبينا محمداً عبدُ اللهِ ورسولُه، أنقى العالمينَ سريرةً وأزكاهم سيرةً، (وعلى آله وصحبِه ومَنْ سارَ على هديهِ إلى يومِ الدينِ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah

Marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ta’ala. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dengan senantiasa mengingat Allah dalam banyak kesempatan.
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah

Di dalam sebuah hadits yang shahih diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ
“Siapa yang memusuhi wali-Ku maka telah Aku umumkan perang terhadapnya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai kecuali beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah diluar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi.” (Riwayat Bukhari).

Hadits ini menunjukkan kecintaan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Lantas bagaimana Allah mencintai hamba-Nya? Adakalanya, seseorang sering melakukan kemaksiatan, namun rezekinya lapang. Ia lalu beranggapan bahwa Allah tidak murka kepadanya, Allah tidak marah kepadanya. Allah masih mencintainya karena Allah masih melapangkan rezekinya.

Al-Hakim dalam Mustadraknya yang disetujui oleh Imam Adz-dzahabi akan kesahihannya, menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَة
“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akhirat”.

Orang seperti itu mirip dengan orang kafir yang Allah sebut dalam surat Ar-Rum:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 7)

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah

Lantas apa ciri-ciri orang yang dicintai Allah? Pertama, dia dibimbing oleh Allah. Ketika Allah mencintai seorang hamba, maka hamba tersebut akan berada dalam tuntunan Allah Ta’ala. Allah Arahkan dia dalam kebaikan. Allah tidak ridho langkahnya menuju hal yang dibenci Allah. Allah tidak Ridho matanya melihat apa yang dibenci oleh Allah. Allah tidak Ridha pendengarannya mendengar apa yang dibenci Allah ta’ala. Apakah artinya dia maksum?

Dia tidak maksum. Dosa adalah sebuah keniscayaan, tetapi orang yang dicintai oleh Allah ketika melakukan perbuatan dosa, dengan tuntunan Allah yang baik, kepadanya diarahkan kepada kebaikan, maka dia dipercepat. Dia akan dibimbing oleh Allah untuk mudah sadar dan kembali kepada-Nya dengan bertobat.

Lihatlah Bagaimana Allah ta’ala menjaga sahabat Ma’iz radiallahu anhu, sahabat yang dia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia mengatakan, “Ya Rasulullah sucikan aku!” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menanyakan kepada para sahabat apakah sahabat Maiz sudah gila? Para sahabat mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia dalam keadaan waras.”
Ma’iz disuruh pulang, namun hari berikutnya datang kembali kepada Rasulullah seraya mengatakan “Ya Rasulullah, sucikan aku.” Ia berkata begitu karena telah melakukan perbuatan zina. Rasulullah masih belum yakin dan memastikan apakah ia berbicara secara sadar.

Setelah tiga kali datang dan dipastikan, maka Ma’iz dihukum rajam. Setelah kematiannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لقد تاب توبة لو قسمت بين أمة لوسعتهم
“Maiz betul-betul telah bertaubat yang sempurna. Seandainya taubat Maiz dapat dibagi-bagikan di tengah-tengah ummat niscaya mencukupi buat mereka”.

Jadi, ciri pertama adalah dibimbing oleh Allah pada kebaikan. Ketika berbuat dosa, ia tidak kebablasan, tetapi dibimbing untuk sadar dan bertobat kepada-Nya.

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah 

Kemudian ciri yang kedua dari orang yang dicintai Allah ta’ala adalah Allah Ta’ala akan mengumpulkannya dengan orang yang mencintai dirinya karena Allah dan dia mencintai mereka karena Allah Ta’ala

Cinta karena Allah Ta’ala adalah faktor yang menyebabkan kecintaan Allah kepada seseorang. Oleh karena itu hati yang dipadu cinta bersama saudaranya karena Allah Ta’ala, akan mudah melekat. Seiring dengan berjalannya waktu dia akan tetap melekat. berbeda dengan kecintaan yang dibangun bukan atas dasar Allah ta’ala. Oleh karena itu dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan antipati karena Allah, serta cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ath-Thabarani)

Contoh dalam masalah ini adalah Saad bin Muadz Radiallahu anhu. Ibnu Al Jauzi mengisahkan ketika Saad bin Muadz sedang menderita sakit, maka beliau menangis karena melihat banyak temannya yang dekat dengan dirinya tidak menjenguk, sehingga kemudian dia bertanya kepada pembantunya, “Ada apa dengan teman-temanku ini? kenapa mereka tidak menjengukku?”

Maka pembantunya diminta untuk mencari sebabnya. Kemudian diketahui bahwa mereka tidak menjenguk Saad bin Muadz Karena mereka malu akibat memiliki hutang kepadanya. Maka Saad bin Muadz mengatakan, “Sungguh dunia telah memisahkan antara diriku dan para sahabatku yang membangun cinta karena Allah Ta’ala.”

Saat kemudian memerintahkan pembantunya untuk mengumpulkan kantong sebanyak orang yang berhutang kepadanya, kemudian kantong itu diisi dinar dan dirham. Kantong-kantong itu kemudian dibagikan kepada orang yang berhutang kepadanya dan dia mengatakan semua utang mereka bebas karena Allah Ta’ala.

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah

Kecintaan karena Allah Ta’ala tidak akan pudar dan sesungguhnya kecintaan kepada Allah Ta’ala akan menyebabkan kecintaan dari Allah Azza wa Jalla. Kemudian ciri berikutnya di antara tanda cinta Allah kepada hamba, yaitu diberi ujian oleh Allah.

Jangan memandang ujian sebagai hal yang negatif, karena ada di antara ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya itu baik untuk dirinya. Ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya merupakan bagian dari cara Allah menunjukkan rasa cintanya.

Oleh karena itu Ibnu Qayyim menyebutkan sesungguhnya dari sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah cinta dan cemburu. Allah cemburu jika hambanya sibuk jangan dunia sehingga fokusnya hanya pada dunia saja, dan lupa kepada Allah ta’ala. Kecemburuan Allah ini ditunjukkan dengan Allah memberikan ujian kepada-Nya, agar dia tahu ke mana dia pulang.

Dalam hal ini, para Nabi adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena mereka diberikan banyak ujian oleh Allah ta’ala. Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah menyatakan kepada para sahabat bahwa beliau adalah orang yang paling besar ujiannya di antara mereka.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah

Di khutbah kedua ini, marilah kita berdoa kepada Allah, agar selalu diberi kesadaran atas setiap dosa, sehingga kita menjadi orang yang bersegera untuk bertobat kepada-Nya. Semoga kita didekatkan dengan orang-orang yang saleh dan berteman dengan mereka, sehingga kita kelak dibangkitkan bersama mereka. Dan semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk sabar menghadapi setiap ujian, sehingga kita tetap di jalan-Nya dan menjadi orang-orang yang dicintai-Nya.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً، وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك أجمعين.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ :
(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ))

Naskah ditranskrip dari khotbah Ust. Muhajirin, Lc. oleh Azzam.
Editor: Salem
Selengkapnya

Friday, April 28, 2017

edris ernawan

Download Materi-materi Keluarga Sakinah



Materi Bimbingan Keluarga Sakinah. Semua materi di sini boleh didownload dan disebarkan. Semoga apa yang kami sediakan di ruang download ini dapat memberi manfaat pada keluarga muslim semuanya: Insya Allah materi materi download di sini selalua akan kami update:

1. Agar Rumah Tidak Sekedar Tempat Tinggal [DOWNLOAD]
Selengkapnya