Al Inshof

Menimbang hidup dengan kejernihan Islam

Rabu, April 08, 2020

Malam Nisfu Sya'ban Bid'ahkah? Inilah Penjelasannya


Malam Nishfu Sya’ban, Malam Diturunkannya Al Qur’an (?)

Di antara kaum muslimin ada yang menganggap bahwa malam Nishfu Sya’ban (malam pertengahan bulan Sya’ban) adalah malam yang istimewa. Di antara keyakinan mereka adalah bahwa malam tersebut adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Sandaran mereka adalah perkataan ‘Ikrimah tatkala beliau menjelaskan maksud firman Allah,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Qs. Ad Dukhan: 3-4)

Yang dimaksud dengan malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam Lailatul Qadar, menurut mayoritas ulama. Sedangkan ‘Ikrimah –semoga Allah merahmati beliau- memiliki pendapat yang lain. Beliau berpendapat bahwa malam tersebut adalah malam nishfu sya’ban. (Zaadul Maysir, 5/346)

Namun pendapat yang mengatakan bahwa Al Qur’an itu turun pada malam Nishfu Sya’ban adalah pendapat yang lemah karena pendapat tersebut telah menyelisihi dalil tegas Al Qur’an. Ayat di atas (surat Ad Dukhan) itu masih global dan diperjelas lagi dengan ayat,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an.” (Qs. Al Baqarah: 185)

Dan dijelaskan pula dengan firman Allah,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadr.” (Qs. Al Qadr: 1)

Syeikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Klaim yang mengatakan bahwa malam yang penuh berkah (pada surat Ad Dukhan ayat 3-4) adalah malam Nishfu Sya’ban –sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Ikrimah dan lain-lain-, tidak diragukan lagi bahwasanya itu adalah klaim yang jelas keliru yang menyelisihi dalil tegas dari Al Qur’an. Dan tidak diragukan lagi bahwa apa saja yang menyelisihi al haq (kebenaran) itulah kebatilan. Sedangkan berbagai hadits yang menerangkan bahwa yang dimaksudkan dengan malam tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban, itu jelas-jelas telah menyelisihi dalil Al Qur’an yang tegas dan hadits tersebut sungguh tidak berdasar. Begitu pula sanad dari hadits-hadits tersebut tidaklah shahih sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul ‘Arobi dan para peneliti hadits lainnya. Sungguh sangat mengherankan, ada seorang muslim yang menyelisihi dalil Al Qur’an yang tegas, padahal dia sendiri tidak memiliki sandaran dalil, baik dari Al Qur’an atau hadits yang shahih.” (Adhwaul Bayan, 1552)

Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban dengan Shalat dan Do’a (?)

Sebagian ulama negeri Syam ada yang menganjurkan untuk menghidupkan atau memeriahkan malam tersebut dengan berkumpul ramai-ramai di masjid. Landasan mereka sebenarnya adalah dari berita Bani Isroil (berita Isroiliyat). Sedangkan mayoritas ulama berpendapat bahwa berkumpul di masjid pada malam Nishfu Sya’ban –dengan shalat, berdo’a atau membaca berbagai kisah- untuk menghidupkan malam tersebut adalah sesuatu yang terlarang. Mereka berpendapat bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan berkumpul di masjid rutin setiap tahunnya adalah suatu amalan yang tidak ada tuntunannya (baca: bid’ah).
Namun bagaimanakah jika menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat di rumah dan khusus untuk dirinya sendiri atau mungkin dilakukan dengan jama’ah tertentu (tanpa terang-terangan, pen)? Sebagian ulama tidak melarang hal ini. Namun, mayoritas ulama -di antaranya adalah ‘Atho, Ibnu Abi Mulaikah, para fuqoha (pakar fiqih) penduduk Madinah, dan ulama Malikiyah- mengatakan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya (baca: bid’ah). (Lathoif Al Ma’arif, 247-248). Dan di sini pendapat mayoritas ulama itu lebih kuat dengan beberapa alasan berikut:

Pertama, tidak ada satu dalil pun yang shahih yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Bahkan Ibnu Rajab sendiri mengatakan, “Tidak ada satu dalil pun yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Dan dalil yang ada hanyalah dari beberapa tabi’in yang merupakan fuqoha’ negeri Syam.” (Lathoif Al Ma’arif, 248).

Seorang ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa di Saudi Arabia) yaitu Syeikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (At Tahdzir minal Bida’, 20). Begitu juga Syeikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah, jika memang terdapat penguat atau pendukung dari hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk hadits yang lemah tadi.” (At Tahdzir minal Bida’, 20)

Kedua, ulama yang mengatakan tidak mengapa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan  menyebutkan bahwa ada sebagian tabi’in yang menghidupkan malam tersebut, sebenarnya sandaran mereka adalah dari berita Isroiliyat. Lalu jika sandarannya dari berita tersebut, bagaimana mungkin bisa jadi dalil untuk beramal[?] Juga orang-orang yang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, sandaran mereka adalah dari perbuatan tabi’in. Kami katakan, “Bagaimana mungkin hanya sekedar perbuatan tabi’in itu menjadi dalil untuk beramal[?]” (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 296)

Ketiga, adapun orang-orang yang berdalil dengan pendapat bahwa tidak terlarang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat sendirian sebenarnya mereka tidak memiliki satu dalil pun. Seandainya ada dalil tentang hal ini, tentu saja mereka akan menyebutkannya. Maka cukup kami mengingkari alasan semacam ini dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718). Ingatlah, ibadah itu haruslah tauqifiyah yang harus dibangun di atas dalil yang shahih dan tidak boleh kita beribadah tanpa dalil dan tanpa tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 296-297)

Keempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ

“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya untuk shalat. Dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dari hari lainnya untuk berpuasa.” (HR. Muslim no. 1144)

Seandainya ada pengkhususan suatu malam tertentu untuk ibadah, tentu malam Jum’at lebih utama dikhususkan daripada malam lainnya. Karena malam Jum’at lebih utama daripada malam-malam lainnya. Dan hari Jum’at adalah hari yang lebih baik dari hari lainnya karena dalam hadits dikatakan, “Hari yang baik saat terbitnya matahari adalah hari Jum’at.” (HR. Muslim). Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar jangan mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya dengan shalat tertentu, hal ini  menunjukkan bahwa malam-malam lainnya lebih utama untuk tidak boleh dikhususkan suatu ibadah di dalamnya kecuali jika ada suatu dalil yang mengkhususkannya. (At Tahdzir minal Bida’, 28).

Syeikh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan, “Seandainya malam Nishfu Sya’ban, malam jum’at pertama di bulan Rajab, atau malam Isra’ Mi’raj boleh dijadikan perayaan (hari besar Islam) atau ibadah lainnya, tentu Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberi petunjuk kepada kita umat Islam mengenai hal ini atau beliau sendiri merayakannya. Jika memang seperti itu beliau lakukan, tentu para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan menyampaikan hal tersebut pada kita umat Islam dan tidak mungkin para sahabat menyembunyikannya. Ingatlah, para sahabat adalah sebaik-baik manusia di masa itu dan mereka paling bagus dalam penyampaian setelah para Nabi ‘alaihimus shalatu was salaam. … Dan kalian pun telah mengetahui sebelumnya, para ulama sendiri mengatakan bahwa tidak ada satu dalil yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau para sahabat yang menunjukkan keutamaan malam jumat pertama dari bulan Rajab dan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Oleh karena itu, menjadikan hari tersebut sebagai perayaan termasuk amalan yang tidak ada tuntunannya sama sekali dalam Islam.” (At Tahdzir minal Bida’, 30). Semoga Allah selalu memberi hidayah kepada kaum muslimin yang masih ragu dengan berbagai alasan ini. [Silakan lihat penilaian kelemahan beberapa hadits mengenai malam Nishfu Sya’ban di akhir pembahasan ini]

Adapun mengenai Shalat Alfiyah, apakah shalat ini adalah suatu amalan yang dituntukan ketika malam Nishfu Sya’ban?

Perlu diketahui, orang yang pertama kali menghidupkan shalat ini pada malam Nishfu Sya’ban adalah seseorang yang dikenal dengan Babin Abul Hamroo’. Dia tinggal di Baitul Maqdis pada tahun 448 H. Dia memiliki bacaan Qur’an yang bagus. Suatu saat di malam Nishfu Sya’ban dia melaksanakan shalat di Masjidil Aqsho. Kemudian ketika itu ikut pula di belakangnya seorang pria. Kemudian datang lagi tiga atau empat orang bermakmum di belakangnya. Lalu akhirnya jama’ah yang ikut di belakangnya bertambah banyak. Ketika datang tahun berikutnya, semakin banyak yang shalat bersamanya pada malam Nishfu Sya’ban. Kemudian amalan yang dia lakukan tersebarlah di Masjidil Aqsho dan di rumah-rumah kaum muslimin, sehingga shalat tersebut seakan-akan menjadi sunnah Nabi. (Al Bida’ Al Hawliyah, 299)

Lalu kenapa shalat ini dinamakan shalat Alfiyah? Alfiyah berarti 1000. Shalat ini dinamakan demikian karena di dalam shalat tersebut dibacakan surat Al Ikhlas sebanyak 1000 kali. Shalat tersebut berjumlah 100 raka’at dan setiap raka’at dibacakan surat Al Ikhlas sebanyak 10 kali. Jadi total surat Al Ikhlas yang dibaca adalah 1000 kali. Oleh karena itu, dinamakanlah shalat alfiyah.

Adapun hadits yang membicarakan mengenai tata cara dan pahala mengerjakan shalat alfiyah ini terdapat beberapa riwayat sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Jauziy dalam Al Maudhu’at (Kumpulan Hadits-hadits palsu). Ibnul Jauzi mengatakan, “Hadits yang membicarakan keutamaan shalat alfiyah tidak diragukan lagi bahwa hadits tersebut adalah hadits palsu (maudhu’). Mayoritas jalan dalam tiga jalur adalah majhul (tidak diketahui), bahkan di dalamnya banyak periwayat yang lemah. 

Oleh karena itu, dipastikan haditsnya sangat tidak mungkin sebagai dalil.” (Al Maudhu’at, 2/127-130)

Sumber: https://muslim.or.id

Selasa, Februari 25, 2020

Memuliakan Bulan Rajab Sesuai Tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah


Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan Haram (bulan agung), selain bulan Dzulqa’dah, Dzulhijah, dan Muharram. Amal kebajikan di bulan haram lebih besar pahalanya dibanding amal kebajikan di bulan-bulan “biasa”. Demikian pula, amal kemaksiatan di bulan haram lebih besar dosanya dibanding amal kemaksiatan di bulan-bulan “biasa”.

Para ulama sepakat bahwa kaum muslimin diperintahkan untuk memuliakan bulan Rajab, sebagai bagian dari memuliakan bulan-bulan haram. Caranya adalah dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas amal shalih di bulan Rajab. Di samping itu adalah dengan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, yang tampak maupun tidak tampak.

Allah ‘azza wajalla berfirman,


إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah 12 bulan di dalam kitab Allah pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dari antaranya terdapat empat bulan Haram (bulan mulia). Demikian itu adalah ketentuan dalam agama yang lurus (Islam). Maka janganlah kalian berbuat zalim kepada diri kalian sendiri (yaitu berbuat kemaksiatan) dalam bulan-bulan Haram tersebut.” (QS. At-Tawbah: 36)

Ayat tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh hadits shahih berikut ini:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya waktu telah beredar kepada bentuknya semula sebagaimana dahulu saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada 12 bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram (mulia), yaitu tiga bulan yang bersambung; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Dan bulan Rajab bulannya suku Mudhar yang berada di antara bulan Jumadil Akhirah dan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari no. 1741, 3197, 4662, 5520 dan Muslim no. 1679)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

“Allah mengkhususkan empat bulan dan menjadikannya bulan-bulan haram (mulia), di mana Allah mengagungkan kemuliaan bulan-bulan tersebut. Allah menjadikan amal keburukan pada bulan-bulan tersebut lebih besar dosanya, dan Allah menjadikan amal kebaikan pada bulan-bulan tersebut lebih besar pahalanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/198)



Amalan Bulan Rajab

Amalan-amalan shalih yang selayaknya ditingkatkan di bulan Rajab adalah amalan-amalan shalih yang biasa dikerjakan di bulan-bulan lainnya. Seorang muslim selayaknya melaksanakan ibadah-ibadah fardhu maupun ibadah-ibadah sunah di bulan Rajab sebaik-baiknya.

Maka di antara bentuk peningkatan amal kebaikan yang harus dijaga di bulan Rajab adalah:


  1. Melaksanakan shalat wajib secara berjamaah di masjid pada awal waktu (bagi kaum laki-laki)
  2. Memperbanyak tilawatul Quran, diusahakan satu hari minimal satu juz.
  3. Melaksanakan shalat tahajud (minimal 2 rekaat) dan shalat witir (minimal 1 rekaat)
  4. Melaksanakan shaum sunnah; shaum senin-kamis, shaum Daud, atau shaum ayyamul bidh (shaum tanggal 13, 14 dan 15 tiap bulan dalam kalender hijriyah)
  5. Memperbanyak infak-sedekah kepada fakir-miskin, anak yatim, janda dan orang-orang yang membutuhkan bantuan.
  6. Berbakti kepada orang tua.
  7. Memuliakan tamu.
  8. Memuliakan dan berbuat baik kepada tetangga.
  9. Mengajarkan ilmu kepada orang-orang yang membutuhkan.
  10. Membayar hutang shaum Ramadhan bagi orang-orang yang memiliki hutang shaum Ramadhan.
  11. Melaksanakan umrah jika mampu dan tidak ada kemaslahatan pribadi/keluarga/umat yang lebih penting dari umrah.


Di samping amal-amal kebaikan, di bulan Rajab seorang muslim juga harus lebih ekstra hati-hati agar tidak melakukan amal-amal keburukan. Di antara amal-amal keburukan yang harus dijauhi oleh setiap muslim pada bulan Rajab adalah:


  1. Kesyirikan dengan segala bentuknya.
  2. Kekufuran dengan segala bentuknya.
  3. Kemunafikan dengan segala bentuknya.
  4. Dosa-dosa besar yang tampak, seperti membunuh, merampok, mencuri, makan harta riba, makan harta anak yatim, sihir, menipu, berdusta, berkhianat, korupsi, suap, menggunjing, mengadu domba, durhaka kepada orang tua, berbuat buruk kepada tetangga, dan lain-lain.
  5. Dosa-dosa besar yang tidak tampak, seperti riya’, sum’ah, ujub, takabbur, iri-dengki, dendam, berburuk sangka, dan lain-lain.

Inilah di antara hal-hal yang disepakati oleh seluruh ulama tentang amalan di bulan Rajab.

Selebihnya, di kalangan ulama timbul perbedaan pendapat tentang sebagian amalan di bulan
Rajab. Salah satunya adalah keutamaan shaum khusus di bulan Rajab.


 Sunah Shaum Seluruh Rajab


Mayoritas ulama fikih dalam mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i berpendapat disunahkan secara khusus untuk melakukan shaum Rajab, baik seluruh hari dalam bulan Rajab maupun sebagian hari saja. (Al-Fatawa Al-Hindiyah, 1/202; Al-Fawakih Ad-Dawani ‘ala Risalah Ibni Abi Zaid Al-Qairawani, 2/444; Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/463)

Mereka berargumentasi dengan beberapa dalil.


Pertama, keumuman hadits-hadits tentang keutamaan shaum secara mutlak, tanpa penentuan
waktu tertentu. Seperti hadits qudsi, “Semua amal anak keturunan Adam itu untuk dirinya, kecuali shaum, sebab ia adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, keumuman hadits-hadits tentang anjuran shaum di bulan-bulan haram. Di antaranya hadits dari Mujibah al-Bahiliyah dari bapaknya atau pamannya,

“صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَيَوْماً مِنْ كُلِّ شَهْرٍ” قَالَ: زِدْنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً، قَالَ: “صُمْ يَوْمَيْنِ” قَالَ: زِدْنِي، قَالَ: “صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ” قَالَ: زِدْنِي، قَالَ: “صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ” وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةَ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Lakukanlah shaum sunah tiga hari setiap bulan!” Ia menjawab, “Saya lebih kuat dari itu, tambahkanlah untukku!” Maka beliau bersabda, “Lakukanlah shaum sebagian dari bulan-bulan haram, dan jangan shaum pada beberapa sisanya!” Beliau mengulang perintah tersebut sebanyak tiga kali. (HR. Abu Daud, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dan Ahmad)

Dan dalam riwayat Ibnu Majah dengan lafal,

صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ، وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُمِ

“Lakukanlah shaum pada bulan-bulan haram!”

Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Zakaria Al-Anshari, dan Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan bahwa sahabat ini diperintahkan tidak shaum pada sebagian hari dalam bulan Haram. Sebab, banyak shaum akan melemahkan fisiknya, sebagaimana disebutkan dalam bagian awal hadits di atas. Adapun bagi orang yang fisiknya tidak lemah, shaum satu bulan penuh pada bulan haram adalah sebuah keutamaan. (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/438-439)

Materi Khutbah Jumat 9 Tanda Cinta Rasulullah
Dalil lainnya adalah hadits:

حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat Anda melakukan shaum sunah dalam satu bulan yang lebih banyak daripada shaum bulan Sya’ban.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Hal itu karena banyak manusia lalai di bulan Sya’ban, yang terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan, padahal ia adalah bulan dimana amal-amal dinaikkan kepada Allah Rabb semesta alam. Maka aku senang apabila amalku dinaikkan saat aku dalam kondisi shaum.” (HR. An-Nasai, Ahmad, dan At-Thahawi)

Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Asy-Syaukani menjelaskan bahwa lahiriah hadits ini menunjukkan bahwa di bulan Rajab dan Ramadhan generasi sahabat menyibukkan diri dengan ibadah, termasuk shaum. Namun mereka cenderung lalai di bulan Sya’ban. (Tabyin al-‘Ajab bi maa Warada fi Rajab, 26; Nailul Authar Syarh Muntaqal Akhbar, 8/413)

Ketiga, hadits-hadits yang secara khusus menganjurkan shaum pada bulan Rajab. Hadits-hadits tersebut secara sanad adalah lemah, namun boleh diamalkan karena berkaitan dengan fadhail a’mal (keutamaan amal shalih). Demikian pendapat Izzuddin bin Abdus Salam dan Ibnu Hajar Al-Haitami.

Di antaranya adalah hadits dari Mujibah Al-Bahili dari bapaknya atau pamannya bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Lakukanlah shaum pada bulan kesabaran (yaitu Ramadhan) dan shaum sunah satu hari tiap bulan.”

Ia berkata, “Tambahkanlah wahai Rasul, sebab badan saya kuat.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lakukanlah shaum dua hari tiap bulan.”

Ia berkata, “Tambahkanlah wahai Rasul, sebab badan saya kuat.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lakukanlah shaum tiga hari tiap bulan.”

Ia berkata, “Tambahkanlah wahai Rasul, sebab badan saya kuat.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lakukanlah shaum pada sebagian hari dalam bulan-bulan Haram! Lakukanlah shaum pada sebagian hari dalam bulan-bulan Haram! Lakukanlah shaum pada sebagian hari dalam bulan-bulan Haram!” (HR. Abu Daud, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, Ibnu Majah dan Ahmad)

Juga hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ لَهُ رَجَبٌ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ يَوْمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرُ

“Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah sungai bernama Rajab. Airnya lebih bening daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa melakukan shaum satu hari saja di bulan Rajab, niscaya Allah memberinya minum dari sungai tersebut.” (HR. Abul Qasim At-Taimi, Al-Baihaqi, Abu Sa’id An-Naqasy, Ibnu Syahin, dan Abu Syaikh)

Juga hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ شَهْرِ حَرَامِ الْخَمِيْسُ وَالْجُمُعَةُ وَالسَّبْتُ كَتَبَ اللهُ لَهُ عِبَادَةً سَبْعِمِائَةِ عَامٍ  

“Barang siapa melakukan shaum Kamis, Jumat, dan Sabtu pada tiap bulan haram, niscaya dicatat untuknya pahala ibadah selama 700 tahun.” (HR. Tamam Ar-Razi, Al-Azdi, dan Muhammad Abdul Baqi Al-Ayubi)

Juga hadits dari Abdul Aziz bin Said dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ كَانَ كَصِيَامِ سَنَةٍ، وَمَنْ صَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ غُلِّقَتْ عَنْهُ سَبْعَةُ أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، وَمَنْ صَامَ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ صَامَ عَشَرَةَ أَيَّامٍ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ، وَمَنْ صَامَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا نَادَى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: قَدْ غَفَرْتُ لَكَ مَا سَلَفَ فَاسْتَأْنِفِ الْعَمَلَ قَدْ بَدَّلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ، وَمَنْ زَادَ زَادَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Rajab adalah bulan yang agung, di dalamnya Allah melipatgandakan amal-amal kebaikan. Barang siapa melakukan shaum sehari di bulan Rajab, maka seakan-akan ia telah shaum satu tahun. Siapa shaum tujuh hari di bulan Rajab, maka ditutup atas dirinya ketujuh pintu neraka Jahanam. Siapa shaum delapan hari di bulan Rajab, maka dibukakan untuk dirinya kedelapan pintu surga. Siapa shaum sepuluh hari di bulan Rajab, niscaya apapun yang dimintanya akan dikabulkan Allah. Siapa shaum lima belas hari di bulan Rajab, seorang penyeru dari langit akan mengumumkan ‘dosa-dosamu yang lalu telah diampuni, maka mulailah lembaran amalan yang baru!’. Siapa melakukan shaum lebih banyak lagi di bulan Rajab, niscaya Allah pun akan menambah balasannya.” (HR. Ath-Thabarani, Al-Baihaqi, dan Abul Qasim At-Taimi)



Makruh Shaum Seluruh Rajab
Para ulama mazhab Hambali berpendapat tidak ada perintah khusus untuk melaksanakan shaum sunah pada bulan Rajab. Jika melakukan shaum sunah sebulan penuh dalam bulan Rajab, maka hukumnya makruh. Adapun jika shaum sunah di bulan Rajab tidak sebulan penuh, maka baik dan tidak mengapa. (Al-Mughni Syarh Mukhtashar Al-Khiraqi, 4/429; Lathaif Al-Ma’arif, 229-230)

Pendapat ini didasarkan kepada beberapa argumen.

Pertama, Hadits-hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah, Ibnu Abbas, dan lainnya menegaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam paling banyak melakukan shaum sunah pada bulan Sya’ban. Namun shaum tersebut tidak sebulan penuh.

Kedua, kaum musyrik pada zaman jahiliyah mengagungkan bulan Rajab dengan cara shaum dan menyembelih kurban. Para ulama sahabat seperti Umar bin Khathab, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhum memaksa kaum muslimin yang shaum sebulan penuh di bulan Rajab untuk makan. Hal itu agar kaum muslimin tidak menyerupai tradisi jahiliyah kaum musyrik. 

Ketiga, tidak ada hadits yang shahih maupun hasan, yang secara khusus menjelaskan keutamaan shaum pada hari-hari dalam bulan Rajab. Hadits-hadits yang secara khusus menjelaskan keutamaan shaum pada hari-hari dalam bulan Rajab berstatus lemah, lemah sekali, atau palsu.

Demikian hasil penelitian para ulama hadits seperti Ibnul Jauzi, Ibnu Rajab Al-Hambali, Abu Ismail Al-Harawi, Syamsuddin Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syamsuddin As-Sakhawi, dan lainnya.

Hadits pertama, yaitu hadits dari Mujibah Al-Bahili RA adalah hadits yang lemah, sebab Mujibah adalah perawi yang majhul.

Hadits kedua yaitu hadits dari riwayat Anas bin Malik, di dalam sanadnya terdapat perawi majhul yaitu Musa bin Imran, dan perawi yang memalsukan hadits yaitu Muhammad bin Mughirah As-Syahrzuri. Imam Adz-Dzahabi dan Ibnu ‘Adi menyatakan hadits tersebut palsu.

Hadits ketiga yaitu hadits dari Anas bin Malik, di dalam sanadnya terdapat perawi lemah bernama Maslamah bin Rasyid dan beberapa perawi yang tidak dikenal. Imam Syamsuddin As-Sakhawi dan Ibnul Jauzi menyatakan matan hadits ini palsu.

Hadits keempat yaitu hadits dari Abdul Aziz bin Sa’id dari bapaknya, di dalam sanadnya terdapat dua orang perawi bernama Utsman bin Mathar dan Abu Shabah Abdul Ghafur Al-Wasithi. Imam Ibnu Hibban menegaskan kedua perawi itu adalah pemalsu hadits. Semua ulama hadits sepakat menyatakan keduanya perawi yang sangat lemah. Imam Ibnu Hibban, Ibnul Jauzi, Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar Al-Asqalani dan ulama hadits lainnya menegaskan hadits tersebut adalah hadits palsu.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan.

Pertama, Tidak ada hadits yang shahih maupun hasan tentang keutamaan shaum hari khusus pada bulan Rajab. Kedudukan hadits-hadits tentang shaum hari tertentu pada bulan Rajab itu bukanlah sekedar lemah, melainkan sangat lemah atau bahkan palsu.

Kedua, Shaum sunah pada bulan Rajab dikembalikan kepada hadits-hadits umum yang shahih. Maka dianjurkan untuk melakukan shaum-shaum sunah yang umum selama bulan Rajab, yaitu shaum Senin dan Kamis, shaum tiga hari setiap bulan, shaum hari-hari bidh (tanggal 13, 14, dan 15 Rajab), dan shaum Daud.

Ketiga, Boleh atau sunah melakukan shaum pada sebagian besar hari dalam bulan Rajab. Namun makruh melakukan shaum sunah satu bulan penuh di bulan Rajab. Sebagaimana ditegaskan oleh sahabat Umar bin Khathab, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Bakrah dan tabi’in Sa’id bin Jubair. Inilah pendapat yang dipegangi oleh Imam Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal. Wallahu a’lam bish-shawab [dakwah.id]

Penulis: Ustadz Abu Ammar
Editor: Sodiq Fajar
REFERENSI:

Nizhamuddin Al-Hindi Al-Hanafi, Al-Fatawa Al-Hindiyah, Bulaq: Mathba’ah Kubra Amiriyah, cet. 1, 1310 H.
Ahmad bin Ghanim Al-Azhari Al-Maliki, Al-Fawakih Ad-Dawani ‘ala Risalah Ibni Abi Zaid Al-Qairawani, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1, 1418 H.
An-Nawawi Asy-Syafi’i, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadz-dzab, Jeddah: Maktabah Al-Irsyad, cet. 1, t.t.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Al-Mughni, Riyadh: Dar ‘Alam Al-Fawaid, cet. 3, 1417 H.
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Tabyinu Al-‘Ajab bi Maa Warada fi Rajab, Kairo: Muassasah Qurthubah, cet. 1, t.t.
Asy-Syaukani, Nailul Authar Syarh Min Asrar Muntaqal Akhbar, Dammam: Dar Ibnil Jauzi, cet. 1, 1427 H.
Ibnu Rajab Al-Hambali, Lathaif Al-Ma’arif, Damaskus: Dar Ibni Katsir, cet. 5, 1420 H.

Sumber: dakwah.id

Selasa, Januari 07, 2020

5 Makna Kemenangan bagi Seorang Mujahid


Kemenangan tidak selalunya harus diartikan menang dalam medan pertempuran. Kemenangan jenis itu hanyalah salah satu dari kemenangan-kemenangan yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hambanya yang senantiasa berjuang dengan penuh keikhlasan.

Ya, hanya orang orang yang berjuang saja yang akan mendapat kemenangan. Dan kemenangan itu akan menjadi sempurna manakala setiap langkah perjuangan disertai dengan keikhlasan mengharap ridlo Allah. Karena hanya dengan penyertaan ikhlas dalam setiap amal perbuatan itulah sekecil apapun amal itu pasti akan beramal.

Dan inilah beberapa kemenangan yang Allah janjikan kepada orang yang senantiasa ikhlas dalam beramal.

1. Kemenangan karena telah mampu menaklukan hawa nafsu

Nafsu yang selalu mengajak kepada kesenangan dunia. Nafsu yang selalu mengajak untuk memilih tetap tinggal di rumah bersama harta anak dan istri. Betapapun bagi seorang manusia dirinya akan selalu diuji dengan delapan hal yang menyebabkan dia akan berada dalam jurang kehancuran. Ke delapan hal itu terangkum dalam QS. At Taubah ayat 24, yang artinya kurang lebih:

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Itulah beberapa hal yang menjadi penghalang manusia untuk berangkat berjihad di jalan Allah. Pada bagian akhir ayat Allah mengancam jika manusia lebih memilih penghalang-penghalang itu dari Allah, Rasul dan jihad pasti Allah akan mendatangkan keputusannya. Di samping orang tadi digolongkan ke dalam golongan orang orang yang fasik, ia juga mendapat ancaman yang luar biasa dasyatnya.

2. Kemenangan dari godaan setan yang selalu menghembuskan keragu raguan pada orang yang akan melangkahkan kakinya di jalan Allah.

Diriwayatkan dari Sabrah bin Abi Fâkih z berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya syaitan duduk untuk menghalang-halangi seorang anak Adam dari berbagai jalan. Syaitan duduk menghalangi jalan untuk masuk Islam. Syaitan berkata, ‘(Apakah) kamu masuk ke dalam Islam dan kamu tinggalkan agamamu, agama bapak-bapakmu dan agama nenek moyangmu?’ Anak Adam tersebut tidak mentaatinya, kemudian dia masuk Islam. Kemudian syaitan pun menghalangi jalan untuk berhijrah dan dia berkata, ‘(Apakah) kamu akan berhijrah dan kamu meninggalkan bumi dan langitmu[6]? Sesungguhnya perumpamaan orang yang berhijrah adalah seperti kuda yang diikat dengan tali[7].’ Kemudian anak Adam tesebut tidak mentaatinya dan terus berhijrah. Kemudian syaitan duduk untuk menghalangi jalan untuk berjihad. Syaitan berkata, ‘(Apakah) kamu akan berjihad? Jihad itu adalah perjuangan dengan jiwa dan harta. Engkau berperang, dan nanti kami terbunuh, istrimu akan dinikahi (oleh orang lain) dan hartamu akan dibagi-bagi.’ Kemudian anak tersebut tidak mentaatinya, kemudian terus berjihad.” Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barang siapa yang melakukan hal tersebut, maka Allâh berkewajiban untuk memasukkannya ke dalam surga…”

Sejak setan memproklamirkan bahwa ia akan menyesatkan manusia dari jalan Allah, sejak itulah ia berusaha sekuat tenaga untuk menyimpangkan manusia dari jalan Allah. Tidak ada jalan lurus kecuali setan telah berada di kanan kiri jalan itu untuk menyimpangkan manusia dari jalan tersebut hingga manusia mengikuti arahannya.

Karenanya, merupakan satu kemenangan bagi manusia yang tetap teguh berada dalam jalan lurus, jalan yang para nabi, syuhada dan shalihin. Jalannya orang-orang yang tetap berjalan menuju perjuangan untuk menegakkan islam hingga tidak ada lagi din di dunia ini kecuali dinul Islam yang diridloi oleh Allah.

3. Kemenangan karena mendapat bimbingan dari Allah

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut : 69)

Demikian Allah berjanji kepada hamba-hambaNya yang teguh di jalan jihad. Teguh di jalan Allah. Allah akan menganugerahi sebuah petunjuk dan memasukkan orang yang berjihad di jalan Allah sebagai orang yang berbuat baik.

Apalagi yang diperlukan manusia selain bimbingan dari Allah yang akan mengantarkan kepada kemenangan hidup dan kebahagiaanya baik ketika masih berada di dunia maupun besok ketika telah menghadap Allah SWT.

4. Kemenangan dari orang orang munafik

Hanya orang orang munafik lah yang enggan untuk berangkat berjihad. Bahkan orang munafik ini kalaupun dia ikut berangkat ke medan jihad tidaklah dia akan menambah pada barisan orang orang beriman kecuali kekacauan barisan jihad saja. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kemudian justru menghembuskan kata kata yang menyebabkan kekuatan umat islam tercerai berai.

Karenanya, seorang yang tetap teguh di jalan jihad adalah orang orang yang telah menang dari hembusan hembusan orang munafik yang berusaha nggembosi. Membuat keragu raguan pada orang yang mau melangkah di jalah jihad.

5. Ketegaran di jalan jihad

Ketika seorang mujahid mampu bertahan dan tegar di jalan jihad, maka itu adalah suatu capaian kemenangan. Medan jihad dipenuhi berbagai macam godaan dan cobaan. Hanya orang-orang yang dirahmati Allah SWT saja yang mampu terus bertahan.

Zaman ini sangatlah berbeda dengan zaman Rasulullah SAW. Dulu, ketika seorang mujahid kembali dari medan perang, maka ia akan dielu-elukan sebagai pahlawan Islam, kisahnya di medan perang akan dijadikan teladan, dan keluarga menanti di rumah dengan kebahagiaan.

Zaman ini semua bertolak belakang. Para mujahid yang berjuang dikatakan sebagai teroris oleh kebanyakan orang dan media sekuler. Hingga, tidak sedikit kaum Muslimin yang terhasut berita bualan itu. Jadi, ketika mujahid kembali dari medan juang, maka dia akan dijauhi, dicemooh sebagai teroris dan mungkin akan ditangkap dan disiksa.

Begitu beratnya menjadi mujahid. Jadi, ketika seorang pejuang mampu bertahan di medan juang dan tegar dengan segala rintangannya, maka itu adalah salah satu bentuk kemenangan. Keadaan di zaman ini menjadi ujian tersendiri bagi para mujahid masa kini. Jika ia benar-benar mempunyai niat yang ikhlas dan lurus, niscaya seberat apapun cobaannya, atas izin Allah SWT pasti akan mampu dilewati.

Sabtu, Oktober 05, 2019

Jeda (Pemisah) antara Shalat Wajib dengan Shalat Sunnah


Haruskah Ada Jeda (Pemisah) ?

Petunjuk syariat menuntunkan bahwa hendaknya terdapat jeda antara shalat wajib dengan shalat sunnah, misalnya shalat sunnah rawatib ba’diyah. Jeda ini bisa berupa melakukan dzikir-dzikir yang disyariatkan setelah shalat wajib, atau berbicara (bercakap-cakap) dengan orang lain, atau berpindah dari tempat pelaksanaan shalat wajib ke tempat (sudut) lain untuk mendirikan shalat sunnah. Adanya jeda ini disyariatkan untuk siapa saja, baik dia statusnya imam, makmum, atau baik dia itu laki-laki atau perempuan. Karena dalil dalam masalah ini bersifat umum.

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Atha’ bahwa Nafi’ bin Jubair mengutusnya kepada Sa’ib, yaitu putra dari saudara perempuan Namir, untuk menanyakan sesuatu yang pernah dilihat oleh Mu’awiyah dalam shalat. Sa’ib berkata, “Benar, aku pernah shalat Jum’at bersama Mu’awiyah di dalam maqshurah (suatu ruangan yang dibangun di dalam masjid). Setelah imam salam, aku berdiri di tempatku kemudian menunaikan shalat sunnah. Ketika Mu’awiyah masuk, ia mengutus seseorang kepadaku. Utusan itu mengatakan,

لَا تَعُدْ لِمَا فَعَلْتَ، إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ، فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ، أَنْ لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ

“Jangan kamu ulangi perbuatanmu tadi. Jika kamu telah selesai mengerjakan shalat Jum’at, janganlah kamu sambung dengan shalat sunnah sebelum kamu berbincang-bincang atau sebelum kamu keluar dari masjid. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu kepada kita yaitu, “Janganlah suatu shalat disambung dengan shalat lain, kecuali setelah kita mengucapkan kata-kata atau keluar dari masjid.”” (HR. Muslim no. 883)

Ketika menjelaskan hadits ini, An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

فيه دليل لما قاله أصحابنا أن النافلة الراتبة وغيرها يستحب أن يتحول لها عن موضع الفريضة إلى موضع آخر وأفضله التحول إلى بيته وإلا فموضع آخر من المسجد أو غيره ليكثر مواضع سجوده ولتنفصل صورة النافلة عن صورة الفريضة وقوله حتى نتكلم دليل على أن الفصل بينهما يحصل بالكلام أيضا ولكن بالانتقال أفضل لما ذكرناه والله أعلم

“Dalam hadits ini terdapat dalil pendapat ulama madzhab Syafi’i bahwa shalat sunnah rawatib dan lainnya itu dianjurkan dengan berpindah tempat dari tempat mendirikan shalat wajib ke tempat yang lainnya. Yang lebih afdhal adalah berpindah ke rumahnya. Jika tidak memungkinkan, dia berpindah ke sudut lain di masjid atau yang lainnya. Hal ini agar dia memperbanyak tempat untuk sujud, dan memisahkan antara shalat wajib dengan shalat sunnah.

Adapun perkataan Nabi, “setelah mengucapkan kata-kata” terdapat dalil bahwa jeda (pemisah) antara shalat wajib dan shalat sunnah itu juga bisa dengan ucapan. Akan tetapi, jeda berupa berpindah (ke tempat lain) itu yang lebih utama, sebagaimana yang telah kami sebutkan. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 420)

Diriwayatkan dari salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ashar, lalu ada seseorang yang langsung berdiri untuk shalat. ‘Umar melihatnya, lalu mengatakan,

اجْلِسْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ لِصَلَاتِهِمْ فَصْلٌ

“Duduklah, karena sesungguhnya kebinasaan ahlu kitab adalah karena tidak ada jeda antara shalat-shalat mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحْسَنَ ابْنُ الْخَطَّابِ

“Sungguh baik (benar) apa yang dikatakan oleh Ibnu Khaththab (‘Umar).” (HR. Ahmad no. 23121, dan sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

مَنَ صَلَّى الْمَكْتُوبَةَ، ثُمَّ بَدَا لَهُ أَنْ يَتَطَوَّعَ فَلْيَتَكَلَّمْ، أَوْ فَلْيَمْشِ، وَلْيُصَلِّ أَمَامَ ذَلِكَ ؛ قَالَ: وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: إِنِّي لَأَقُولُ لِلْجَارِيَةِ: انْظُرِي كَمْ ذَهَبَ مِنَ اللَّيْلِ؟ مَا بِي إِلَّا أَنْ أَفْصِلَ بَيْنَهُمَا

“Siapa saja yang mendirikan shalat wajib, kemudian ingin mendirikan shalat sunnah, hendaklah dia berkata-kata (mengucapkan suatu kalimat), atau berjalan, lalu shalatlah setelahnya.” Perawi berkata, “Ibnu ‘Abbas berkata, “Sesungguhnya aku berkata kepada budak perempuan itu, “Lihatlah, berapa banyak malam yang telah berlalu? Tidak ada maksud aku mengucapkan kalimat itu, kecuali karena ingin memisahkan antara shalat wajib dan shalat sunnah.” (HR. ‘Abdur Razaq dalam Mushannaf no. 3914 dengan sanad shahih)

Kesimpulan dan Penjelasan Dalil

Terdapat dua kesimpulan yang didapatkan dari dalil-dalil di atas:

Kesimpulan Pertama

Jeda (pemisah) antara shalat wajib dan shalat sunnah itu bisa jadi dengan waktu/zaman (meskipun tetap shalat di tempat yang sama), atau bisa jadi dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya (baik maju atau mundur), atau bisa jadi dengan ucapan (bercakap-cakap dengan orang lain).

Yang paling afdhal adalah membuat jeda dengan berpindah melaksanakan shalat sunnah (rawatib) di rumah. Berdasarkan hadits dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا المَكْتُوبَةَ

“Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian. Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalat yang dilakukan seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari no. 731 dan Muslim no. 781)

Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

“Dirikanlah shalat-shalat kalian di rumah-rumah kalian. Dan jangan kalian jadikan rumah kalian seperti pemakaman.” (HR. Bukhari no. 432 dan Muslim 777) [1]

Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ، فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ، فَإِنَّ اللهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا

“Jika salah seorang dari kalian telah menunaikan shalat di masjid, hendaknya dia menyisakan sebagian shalatnya untuk (dikerjakan) di rumah. Karena dari shalatnya itu, Allah akan menjadikan kebaikan di dalam rumahnya.” (HR. Muslim no. 778)

Dan di antara kebaikan yang ditimbulkan dari melaksanakan shalat sunnah di rumah adalah memakmurkan rumah dengan dzikir kepada Allah Ta’ala; taat kepada-Nya; juga doa dan permohonan ampunan dari para malaikat; dan juga pahala dan keberkahan bagi pemilik (penghuni) rumah. Kebaikan lainnya adalah mendidik anak dan istri agar mereka mencintai dan memperhatikan shalat dan juga mendirikan shalat dalam sebaik-baik keadaan.

Kesimpulan Kedua

Dari dalil-dalil terdapat isyarat bahwa hikmah dari perintah membuat jeda antara shalat wajib dan shalat sunnah adalah untuk memisahkan dan membedakan antara ibadah wajib dan ibadah sunnah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“Disunnahkan untuk memisahkan antara shalat wajib dan shalat sunnah, baik shalat Jum’at atau (shalat wajib) lainnya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang dari perbuatan menyambung antara shalat satu (shalat wajib) dengan shalat lainnya (shalat sunnah), sampai keduanya dipisahkan dengan berdiri atau ucapan. Maka janganlah melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh mayoritas manusia yang langsung menyambung antara salam (dari shalat wajib) dengan dua raka’at shalat sunnah. Karena hal ini berarti dia terjatuh dalam larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam syariat ini terdapat hikmah berupa membedakan antara ibadah wajib dan ibadah non-wajib, sebagaimana dibedakan antara ibadah dan non-ibadah. Oleh karena itu, disunnahkan untuk menyegerakan berbuka puasa, mengakhirkan makan sahur, juga sebagaimana disunnahkan untuk makan di hari raya ‘Idul Fithri sebelum shalat ‘id, dan larangan untuk menyambut Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya.

Hal ini semuanya untuk memisahkan antara perkara yang diperintahkan (puasa) dengan yang tidak diperintahkan, atau memisahkan antara ibadah dan selain ibadah. Demikian pula memisahkan antara shalat Jum’at yang Allah Ta’ala wajibkan dengan ibadah lainnya.” (Majmu’ Al-Fataawa, 24: 202-203)

Para ulama juga menyebutkan hikmah lainnya dari disyariatkannya berpindah tempat, yaitu untuk memperbanyak tempat ibadah. Hal ini karena tempat pelaksanaan ibadah akan memberikan persaksian bagi seorang hamba di hari kiamat, sebagaimana cakupan makna umum dari firman Allah Ta’ala,

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka, dan mereka pun tidak diberi tangguh.” (QS. Ad-Dukhkhan [44]: 29)

Maksudnya, sesungguhnya bumi itu akan menangis untuk para hamba yang berbuat keta’atan. (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 239)

Demikian pula firman Allah Ta’ala,

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا

“Pada hari itu, bumi menceritakan beritanya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 4)

Maksudnya, bumi akan bersaksi atas hamba sesuai dengan apa yang mereka perbuatan di atasnya, baik berupa amal baik atau amal buruk. Hal ini karena bumi termasuk dalam saksi yang akan memberikan persaksian untuk manusia pada hari kiamat. (Taisiir Karimir Rahmaan, 5: 445)

Sumber: muslim.or.id

Bersyukurlah Karena Hidup Ibarat Berenang Dalam Lautan Nikmat


Hidup ibarat dalam lautan nikmat. Yah, ungkapan ini memang tidak bisa dipungkiri kebenarannya. Setiap detik dari desah nafas manusia adalah limpahan nikmat dari Allah. Tidak ada dari desah nafas yang dilalui manusia kecuali atas nikmat Allah. Karenanya, sewajarnya bahkan menjadi keharusan bagi manusia untuk selalu bersyukur atas nikmat tersebut.

Apakah Makna Syukur?

Syukur secara bahasa,

الثناء على المحسِن بما أَوْلاكَهُ من المعروف

“Syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut” (Lihat Ash Shahhah Fil Lughah karya Al Jauhari). Atau dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.

Sedangkan istilah syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim:

الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة

“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).

Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Semisal Qarun yang berkata,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki” (QS. Al-Qashash: 78).

Syukur Adalah Salah Satu Sifat Allah

Ketahuilah bahwa syukur merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang husna. Yaitu Allah pasti akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tanpa luput satu orang pun dan tanpa terlewat satu amalan pun. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur” (QS. Asy-Syura: 23).

Seorang ahli tafsir, Imam Abu Jarir Ath-Thabari, menafsirkan ayat ini dengan riwayat dari Qatadah, “Ghafur artinya Allah Maha Pengampun terhadap dosa, dan Syakur artinya Maha Pembalas Kebaikan sehingga Allah lipat-gandakan ganjarannya” (Tafsir Ath Thabari, 21/531).

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Allah itu Syakur lagi Haliim” (QS. At-Taghabun: 17).

Ibnu Katsir menafsirkan Syakur dalam ayat ini, “Maksudnya adalah memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 8/141).

Sehingga orang yang merenungi bahwa Allah adalah Maha Pembalas Kebaikan, dari Rabb kepada Hamba-Nya, ia akan menyadari bahwa tentu lebih layak lagi seorang hamba bersyukur kepada Rabb-Nya atas begitu banyak nikmat yang ia terima.

Syukur Adalah Sifat Para Nabi

Senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat Allah, walau cobaan datang dan rintangan menghadang, itulah sifat para Nabi dan Rasul Allah yang mulia. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘Alaihissalam,

ذرية من حملنا مع نوح إنه كان عبدا شكور

“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS. Al-Isra: 3).

Allah Ta’ala menceritakan sifat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:

إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين* شاكرا لأنعمه اجتباه وهداه إلى صراط مستقيم

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik, Dan ia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus” (QS. An-Nahl: 120-121).

Dan inilah dia sayyidul anbiya, pemimpin para Nabi, Nabi akhir zaman, Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, tidak luput dari syukur walaupun telah dijamin baginya surga. Diceritakan oleh Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu’anha,

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، إذا صلَّى ، قام حتى تفطَّر رجلاه . قالت عائشةُ : يا رسولَ اللهِ ! أتصنعُ هذا ، وقد غُفِر لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّرَ ؟ فقال ” يا عائشةُ ! أفلا أكونُ عبدًا شكورًا

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah besabda: ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’” (HR. Bukhari no. 1130, Muslim no. 2820).

Syukur Adalah Ibadah
Allah Ta’ala dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Maka syukur adalah ibadah dan bentuk ketaatan atas perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman,

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

“Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar” (QS. Al Baqarah: 152)

Allah Ta’ala juga berfirman,

يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al Baqarah: 172).

Maka bersyukur adalah menjalankan perintah Allah dan enggan bersyukur serta mengingkari nikmat Allah adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah.

Buah Manis dari Syukur

Syukur Adalah Sifat Orang Beriman

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim no.7692).

Merupakan Sebab Datangnya Ridha Allah

Allah Ta’ala berfirman,

وإن تشكروا يرضه لكم

“Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az-Zumar: 7).

Merupakan Sebab Selamatnya Seseorang Dari Azab Allah

Allah Ta’ala berfirman,

ما يفعل الله بعذابكم إن شكرتم وآمنتم

“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim” (QS. An-Nisa: 147).

Merupakan Sebab Ditambahnya Nikmat

Allah Ta’ala berfirman,

وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (QS. Ibrahim: 7).

Ganjaran Di Dunia dan Akhirat

Janganlah Anda menyangka bahwa bersyukur itu hanya sekedar pujian dan berterima kasih kepada Allah. Ketahuilah bahwa bersyukur itupun menuai pahala, bahkan juga membuka pintu rezeki di dunia. Allah Ta’ala berfirman,

وسنجزي الشاكرين

“Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Al Imran: 145).

Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq, “Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia” (Tafsir Ath Thabari, 7/263).

Tanda-Tanda Orang yang Bersyukur
Mengakui dan Menyadari Bahwa Allah Telah Memberinya Nikmat
Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah Ta’ala. Ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah semata lah nikmat tersebut bisa diperoleh. Sedangkan orang yang kufur nikmat senantiasa lupa akan hal ini. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, ia berkata,

مُطِرَ النَّاسُ على عهدِ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ أصبحَ منَ النَّاسِ شاكرٌ ومنهم كافرٌ قالوا هذهِ رحمةُ اللَّهِ وقالَ بعضُهم لقد صدقَ نوءُ كذا وكذا

“Ketika itu hujan turun di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu Nabi bersabda, ‘Atas hujan ini, ada manusia yang bersyukur dan ada yang kufur nikmat. Orang yang bersyukur berkata, ‘Inilah rahmat Allah.’ Orang yang kufur nikmat berkata, ‘Oh pantas saja tadi ada tanda begini dan begitu’” (HR. Muslim no.73).

Menyebut-Nyebut Nikmat yang Diberikan Allah

Mungkin kebanyakan kita lebih suka dan lebih sering menyebut-nyebut kesulitan yang kita hadapi dan mengeluhkannya kepada orang-orang. “Saya sedang sakit ini.” “Saya baru dapat musibah itu..” “Saya kemarin rugi sekian rupiah..”, dll. Namun sesungguhnya orang yang bersyukur itu lebih sering menyebut-nyebut kenikmatan yang Allah berikan. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya” (QS. Adh-Dhuha: 11).

Namun tentu saja tidak boleh takabbur (sombong) dan ‘ujub (merasa kagum atas diri sendiri).

Menunjukkan Rasa Syukur dalam Bentuk Ketaatan kepada Allah
Sungguh aneh jika ada orang yang mengaku bersyukur, ia menyadari segala yang ia miliki semata-mata atas keluasan rahmat Allah, namun di sisi lain melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya, ia enggan shalat, enggan belajar agama, enggan berzakat, memakan riba, dll. Jauh antara pengakuan dan kenyataan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS. Ali Imran: 123).

Maka rasa syukur itu ditunjukkan dengan ketakwaan.

Tips Agar Menjadi Orang yang Bersyukur

Senantiasa Berterima Kasih kepada Orang Lain

Salah cara untuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara sampainya nikmat Allah kepada kita. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

لا يشكر الله من لا يشكر الناس

“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Beliau juga bersabda,

مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Barangsiapa yang telah berbuat suatu kebaikan padamu, maka balaslah dengan yang serupa. Jika engkau tidak bisa membalasnya dengan yang serupa maka doakanlah ia hingga engkau mengira doamu tersebut bisa sudah membalas dengan serupa atas kebaikan ia” (HR. Abu Daud no. 1672, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Oleh karena itu, mengucapkan terima kasih adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

مَن صُنِعَ إليهِ معروفٌ فقالَ لفاعلِهِ : جزاكَ اللَّهُ خيرًا فقد أبلغَ في الثَّناءِ

“Barangsiapa yang diberikan satu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan, ‘Jazaakallahu khair’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupinya dalam menyatakan rasa syukurnya” (HR. Tirmidzi no.2167, ia berkata: “Hadits ini hasan jayyid gharib”, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Merenungkan Nikmat-Nikmat Allah

Dalam Al-Qur’an sering kali Allah menggugah hati manusia bahwa banyak sekali nikmat yang Ia limpahkan sejak kita datang ke dunia ini, agar kita sadar dan bersyukur kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 78).

Qana’ah

Senantiasa merasa cukup atas nikmat yang ada pada diri kita membuat kita selalu bersyukur kepada Allah. Sebaliknya, orang yang senantiasa merasa tidak puas, merasa kekurangan, ia merasa Allah tidak pernah memberi kenikmatan kepadanya sedikitpun. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

كن وَرِعًا تكن أعبدَ الناسِ ، و كن قنِعًا تكن أشْكَرَ الناسِ

“Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur”(HR. Ibnu Majah no. 3417, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah).

Sujud Syukur
Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur ketika mendapat kenikmatan yang begitu besar adalah dengan melakukan sujud syukur.

عن أبي بكرة نفيع بن الحارث رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا جاءه أمر بشر به خر ساجدا؛ شاكرا لله

“Dari Abu Bakrah Nafi’ Ibnu Harits Radhiallahu’anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika menjumpai sesuatu yang menggemberikan beliau bersimpuh untuk sujud. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah” (HR. Abu Daud no.2776, dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil).

Berdzikir

Berdzikir dan memuji Allah adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Ada beberapa dzikir tertentu yang diajarkan oleh Rasulullah khusus mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

من قال حين يصبح: اللهم ما أصبح بي من نعمة أو بأحد من خلقك فمنك وحدك لا شريك لك، فلك الحمد ولك الشكر. فقد أدى شكر يومه، ومن قال ذلك حين يمسي فقد أدى شكر ليلته

“Barangsiapa pada pagi hari berdzikir: Allahumma ashbaha bii min ni’matin au biahadin min khalqika faminka wahdaka laa syariikalaka falakal hamdu wa lakasy syukru.”
(Ya Allah, atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku hari ini atau yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sungguh nikmat itu hanya dari-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian dan ucap syukur hanya untuk-Mu)
Maka ia telah memenuhi harinya dengan rasa syukur. Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari, ia telah memenuhi malamnya dengan rasa syukur” (HR. Abu Daud no.5075, dihasankan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Raudhatul Muhadditsin).

Cara Bersyukur yang Salah

Bersyukur kepada Selain Allah

Sebagian orang ketika mendapat kenikmatan, mereka mengungkapkan rasa syukur kepada selain Allah, semisal kepada jin yang mengaku penguasa lautan, kepada berhala yang dianggap dewa bumi, atau kepada sesembahan lain selain Allah. Kita katakan kepada mereka,

أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

“Apakah engkau kufur kepada Dzat yang telah menciptakanmu dari tanah kemudian mengubahnya menjadi nutfah lalu menjadikanmu sebagai manusia?” (QS. Al-Kahfi: 37).

Allah Ta’ala yang menciptakan kita, menghidupkan kita, dari Allah sematalah segala kenikmatan, maka sungguh ‘tidak tahu terima kasih’ jika kita bersyukur kepada selain Allah. Dan telah kita ketahui bersama bahwa syukur adalah ibadah. Dan ibadah hanya pantas dan layak kita persembahkan kepada Allah semata. Tidak ada sekutu baginya. Allah Ta’ala juga berfirman,

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Beribadahlah hanya kepada Allah dan jadilah hamba yang bersyukur” (QS. Az-Zumar: 66).

Ritualiasasi Rasa Syukur yang Tidak Diajarkan Agama

Mengungkapkan rasa syukur dalam bentuk ritual sah-sah saja selama ritual tersebut diajarkan dan dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Misalnya dengan sujud syukur atau dengan melafalkan dzikir. Andaikan ada bentuk lain ritual rasa syukur yang baik untuk dilakukan tentu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabat. Lebih lagi sahabat Nabi yang paling fasih dalam urusan agama, paling bersyukur diantara ummat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, yang mereka jumlahnya puluhan ribu dan di antara mereka ada yang masih hidup satu abad setelah Rasulullah wafat, sebanyak dan selama itu tidak ada seorang pun yang terpikir untuk membuat ritual semacam perayaan hari ulang tahun, ulang tahun pernikahan, syukuran rumah baru, sebagai bentuk rasa syukur mereka. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang melakukan amalan (ibadah) yang tidak berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari no.20, Muslim no.4590).

Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya.

Allahumma a’inni ‘ala dzukrika wa syukrika wa huni ‘ibadatika
“Ya Allah aku memohon pertolonganmu agar Engkau menjadikan aku hamba yang senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik”

Sumber: muslim.or.id