Syiah-Sunni dalam Diskusi (Bagian 2)

Dari postingan sebelumnya kita telah mengenal bagaimana kesesatan syiah tatkala mensifati iman dan shahabat Ali, kita akan lanjutkan postingan hari ini. Semoga lebih menjelaskan dan menyakinkan para pembaca blog ini akan sesatnya syiah.
Selamat menyimak: 
***
(4) Kaum Syiah beranggapan bahwa Abu Bakar dan Umar r.a. itu kafir. Tapi di sisi lain kita dapati fakta bahwa Ali r.a., -yang dianggap ma’shum oleh kaum syiah-, telah rela dengan kekhilafahan keduanya, Ali r.a. juga membaiat mereka berdua, satu demi satu, dan tidak pernah keluar dari pemerintahan mereka.
****
Fakta ini melazimkan ke-tidak ma’shum-an Ali r.a., Mengapa? Karena ia telah setuju dan bersedia membaiat dua orang yang menurut keyakinan mereka adalah kafir, dholim, dan memusuhi ahlul bait. Padahal perbuatan tersebut dapat merusak ke-ma’shum-an seseorang, karena sama saja menolong orang yang dzolim dalam melakukan kedzolimannya, dan ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang ma’shum.
Atau, mereka akan mengatakan bahwa perbuatan tersebut benar, karena Abu bakar dan Umar r.a. adalah kholifah yang mukmin, jujur, dan adil. Dan jika fakta ini benar adanya, berarti kaum syiah telah menyelisihi imam mereka dalam mengkafirkan, menghujat, melaknat dan tidak rela dengan kekhilafahan keduanya.
Kenyataan ini, tentunya membuat kita bingung sendiri, kita akan mengikuti jalan siapa? jalan yang dipilih oleh Ali r.a. (yang ma’shum), atau kita akan mengikuti jalan pengikutnya yang bergelimang kemaksiatan??!
****
(5) Setelah meninggalnya Fatimah r.a. Ali telah menikah dengan baberapa wanita, dan lahir dari mereka banyak anak, diantaranya:
****
Lahir dari rahim Ummul Banin binti Hizam: Abbas, Abdulloh, Ja’far, Utsman.
Lahir dari rahim Laila binti Mas’ud: Ubaidulloh dan Abu Bakar.
Lahir dari rahim Asma’ binti Umais: Yahya, Muhammad al-Ashghor, dan Aun.
Lahir dari Ummu Habib binti Robi’ah: Ruqoyyah dan Umar yang meninggal pada usia 35 tahun.
Lahir dari Ummu Mas’ud binti Urwah: Ummul Hasan dan Romlah al-Kubro.
Lihatlah bagaiman Ali menamai Anaknya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Pertanyaannya: Apakah seorang ayah akan memberikan nama kepada buah hatinya dengan nama musuh bebuyutannya?! Apalagi jika ayah tersebut adalah sang Ali r.a. [2]
Bagaimana mungkin Ali r.a. menamai anak-anaknya dengan nama orang yang kalian anggap sebagai musuhnya?! Apakah orang yang berakal mau menamai anak kesayangannya dengan nama-nama musuhnya??!
***
(6) Pengarang kitab Nahjul Balaghoh -yakni salah satu kitab sandaran kaum syiah- meriwayatkan, bahwa Ali telah mengundurkan diri untuk menerima tampuk khilafah, ia mengatakan: “Tinggalkan aku, dan carilah orang selainku”.[3]
****
Fakta ini menunjukkan batilnya pemahaman syiah, mengapa?? Karena, bagaiamana mungkin ia mengundurkan diri untuk menerima tampuk khilafah, padahal menurut kalian, pengangkatan dirinya sebagai imam dan kholifah adalah sebuah kewajiban dari Alloh, bahkan menurut anggapan kalian ia pernah meminta kekhilafan tersebut kepada Abu bakar r.a.??!
***
(7) Kaum syiah beranggapan bahwa, Fatimah r.a. adalah buah hati Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- yang di masa Abu Bakar r.a., telah dihinakan, dipatahkan tulang rusuknya, hendak dibakar rumahnya, dan hendak digugurkan kandungannya yang dinamai Muhsin!!
***
Pertanyaanya: Dimanakah Ali saat terjadinya semua peristiwa ini??! Mengapa ia tidak membela Fatimah, padahal ia adalah seorang yang dikenal sangat dan sangat pemberani sekali??! Ini menunjukkan bahwa kabar tersebut, hanyalah kebohongan yang disebar-sebarkan oleh syiah, untuk menghujat ahlus sunnah… semoga Alloh membalas keburukan mereka dengan balasan yang setimpal… amin.
Bersambung.....
Share on Google Plus

About Buletin Alinshof