Mengapa Kita Qurban di Bumi Syam


Salah satu ibadah yang disyariatkan pada bulan Dzulhijjah adalah penyembelihan hewan kurban. Ibadah kurban disyari’atkan berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ (konsensus kaum muslimin). Meskipun ibadah ini tidak diwajibkan (minimal masih diperdebatkan hukum wajibnya) tetapi ibadah ini sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Bahkan Ketika Rasulullah ditanya oleh Zaid ibn Arqam mengenai qurban, Rasulullah menjawab, qurban adalah sunnahnya Bapak kalian, Nabi Ibrahim as.” Merekapun menjawab,”Apa keutamaan yang kami peroleh dengan kurban itu?”. Rasulullah menjawab,”Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan”. Mereka menjawab: “Bagaimana dengan bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah)
Bagi kaum muslimin di Indonesia mendapatkan daging kurban bukanlah persoalan yang sulit, bahkan di beberapa daerah terkadang daging kurban berlebih hingga mereka harus menyimpannya di lemari-lemari es. Kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi di Suriah dan Palestina. Sekerat daging sangat sulit mereka dapatkan. Jangankan daging bahkan untuk dapat makan dengan menu normal saja sulit mereka dapatkan. Karenanya, Syam Organizer mengajak kaum muslimin di Indonesia berkurban untuk kaum muslimin di bumi Syam khususnya Suriah dan Palestina.
Lalu mengapa harus di Bumi Syam?
Berikut ini beberapa alasannya:
  1. Keterkaitan muslim Suriah dengan muslim Indonesia diikat dengan ikatan persaudaraan yang ditetapkan oleh Allah ta’ala. Sebuah ikatan persaudaraan yang menembus batas teritorial negara dan letak geografis. Sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” [ QS. Al Hujurot (49) : 10 ].
  2. Negeri Suriah adalah kawasan yang termasuk wilayah bumi Syam yang diberkahi oleh Allah ta’ala. Bahkan negeri Suriah menjadi jantung bumi Syam. Negeri Suriah juga bagian dari bumi yang dinaungi oleh para malaikat Ar Rohmân. Hal itu seperti yang dikabarkan oleh Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- : “Beruntunglah negeri Syam, -beliau ucapkan tiga kali-. Sesungguhnya para malaikat Ar Rohman membentangkan sayap-sayapnya di atas bumi Syam” [HR. Ahmad]. Inilah bentuk kemuliaan bumi Syam atas negeri-negeri lainnya yang ditetapkan oleh Allah Robbul ‘Izzah. Menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk memuliakan apa yang dimuliakan oleh Allah ta’ala dan mengagungkan apa yang diagungkan oleh-Nya. Itulah konsokwensi iman. Namun, hari ini bumi Syam telah kehilangan kemuliaan dan kemerdekaannya. Akankah kita membiarkannya ?!
  3. Kebaikan dan keburukan kaum muslimin di seluruh dunia ditentukan dengan kebaikan dan keburukan penduduk negeri Syam. Hal itu telah dinyatakan oleh baginda Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dalam sabdanya : “Apabila telah rusak penduduk negeri Syam, maka tidak ada lagi kebaikan bagi kalian” [HR. Ahmad]. Jika kita mengabaikan persoalan negeri Syam maka keburukan dan kebinasaan juga akan menimpa kita semua. Inilah yang dipahami oleh para pendahulu kita dari generasi terbaik umat ini yaitu dari kalangan sahabat Nabi. Tidak mengherankan jika dalam catatan sejarah telah mengabadikan bagaimana kegigihan mereka dalam mebebaskan bumi Syam dari cengkeraman penguasa dzolim. Akankah kita mengabaikannya sementara darah ribuan syuhada telah dipersembahkan untuk membebaskan dan memuliakannya?!
  4. Sudah banyak dari kalangan rakyat Suriah yang tertindas mengirimkan pesan-pesan dan permohonan bantuan kemanusiaan ke seluruh penjuru dunia melalui media sosial. Beraneka ragam bentuk permohonan bantuan yang mereka kirimkan, mulai dari keamanan diri, bantuan makanan, bantuan pakaian dan kebutuhan hidup lain. Masihkah kita berdiam diri tatkala ada sebagian dari saudara kita berteriak meminta pertolongan? sementara dalam hadits qudsi Allah meminta pertanggung-jawaban kepada seorang hamba ketika ada saudaranya meminta bantuan namun dia tidak membantunya. Sebagaimana dalam hadits shohih Muslim, Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda : Allah berfirman : “Wahai anak Adam, Aku sakit dan engkau tidak menjenguk-Ku. Berkata sang hamba :”Ya Robb, bagaimana mungkin aku menjengu-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?! Allah berfirman : tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku fulan sedang sakit, jikalau engkau menjenguknya niscaya akan kau dapati Aku di sisinya. Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu dan engkau tidak memberi-Ku makan. Berkatalah sang hamba : wahai Robb, bagaimana aku memberi-Mu makan sedangkan Engkau adalah Robb semesta alam?! Tidakkah kau ketahui bahwa hamba-Ku fulan meminta kepadamu makan dan engkau tidak memberinya makan, tahukan engkau jikalau kau memberinya makan niscaya engkau akan mendapatinya di sisi-Ku” [HR. Muslim]. Lalu, akankah kita menghindar dari pertanyaan tersebut di hari kiamat kelak ?! alasan apakah yang akan kita sodorkan tatkala kita menghindar dari tanggung jawab itu, sementara informasi tentang penderitaan mereka telah sampai kepada kita?!
  5. Saat ini tragedi kemanusiaan yang terjadi di Suriah sudah ditetapkan oleh PBB sebagai krisis kemanusiaan terbesar pasca perang dingin. Hal itu telah disampaikan oleh sekjen PBB Ban Ki Moon dalam banyak moment. Masihkah kita menganggap remeh permasalahan ini?! tidak peduli kah kita dengan mereka?!
  6. Urusan peduli dan rasa kemanusiaan tidaklah selamanya diukur dengan dekat atau jauhnya jarak yang ditempuh. Tidak pula selamanya yang dekat lebih penting dari pada yang jauh. Bisa jadi kenestapaan dan penderitaan yang berada jauh dari kita, lebih mendesak kebutuhannya dari pada yang lebih dekat. Dan boleh jadi kepeduliaan kita dengan orang yang terjauh dari kita menjadi sebab turunnya barokah dan rohmah untuk orang-orang yang lebih dekat dengan kita. Tidakkah kita ambil pelajaran dari kebijakan kholifah Abu Bakar –rodliyallohu ‘anhu- tatkala beliau berpendirian kuat untuk memberangkatkan pasukan Usamah bin Zaid ke Syam sementara kondisi di Madinah sendiri dalam keadaan labil. Banyaknya gerakan pemurtadan dan pemberontakan dan pembangkangan di sekitar Madinah, menjadi pertimbangan bagi sebagian besar sahabat Nabi tidak terkecuali Umar bin Khotthob untuk memberikan saran kepada Kholifah Abu Bakar menunda pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid. Namun secara tegas Abu Bakar menolak penundaan tersebut dan tetap memberangkatkan pasukan Usamah menuju ke Syam untuk membebaskan para penduduknya dari penguasa dzolim Romawi saat itu. Di luar dugaan, keberangkatan pasukan tersebut justru membuat kondisi di Madinah stabil.
  7. Beberapa waktu yang lalu, kaum muslimin di Gaza-Palestina juga mengadakan penggalangan dana untuk muslimin Suriah. Subhanalloh, mereka dalam kondisi yang memprihatinkan masih mau peduli dengan yang lain. Lalu bagaimana dengan kita?! Tidak malukah kita sebagai kaum muslimin Indonesia yang hidupnya relatif lebih aman dan nyaman ketimbang saudara-saudara kita di Gaza-Palestina?! seharusnya info ini menjadi motivasi bagi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Semoga beberapa alasan ini bisa membuka mata hati kita untuk lebih peduli dengan saudara-saudara kita yang tertindas di negeri Syam. Kita pun berharap semoga Allah ta’ala melimpahkan keberkahan bagi negeri ini dikarenakan kepedulian kita terhadap saudara-saudara yang ada di sana.[BS]
====================================================
Mari sirami berkah bumi syam dengan darah qurban Anda.
Gabung bersama syam organizer di Qurban tahun ini :
‪#‎Palestina‬ 
US$ 450 (per ekor domba)
Transfer ke:
- Bank Mandiri 1370011025976 a.n Yayasan Amal Syam Abadi
‪#‎Suriah‬
US$ 400
Transfer ke:
- BSM 7068692088 a.n Yayasan Amal Syam Abadi
Paling lambat transfer tgl 16 September 2015
Konfirmasi Transfer
+6287839590200
www.syamorganizer.com
Share on Google Plus

Tentang Al Inshof

Al Inshof merupakan situs yang mencoba memberi gambaran kepada pembaca tentang Islam dan informasi-informasi terkait dunia Islam. Semoga apa yang ada di Al Inshof bermanfaat bagi Anda semua. Kritik dan saran dapat Anda emailkan ke buletinalinshof@gmail.com