Menakar Taqwa Pasca Ramadan

Sumber gbr. dinalislam1.wordpress.com
Ramadan telah berlalu. Baru beberapa hari memang. Namun perubahan yang terjadi sangat luar biasa. Masjid yang tadinya penuh dengan kegiatan kini mulai sepi. Bacaan Al Qur'an yang hampir terdengar setiap hari di dalam masjid kini telah menghilang. Shaf shalat jamaah di masjid pun kini tak sebanyak shaf seperti bulan Ramadan. 

Ramadan memang istimewa. Di dalamnya kebaikan dipermudah dan kemaksiatan dipersulit. Ramadan adalah bulan madrasah yang tujuannya menjadikan taqwa pada setiap diri orang yang beriman. Lalu sudahkan taqwa itu kita dapatkan?

Memang Ramadan bukan bulan jaminan seseorang dapat meraih derajat tertinggi itu. Derajat taqwa itu hanya akan diperoleh bagi siapa saja yang menjalani Ramadan dengan penuh iman dan ihtisab (selalu berhitung dan memperhitungkan amalan serta penuh keyakinan bahwa dirinya dapat melakukan ibadah puasa hanya karena hidayah dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta'ala). Karenanya, untuk menilai apakah derajat taqwa itu telah kita dapatkan ataukah belum, mari kita bercermin dari definisi taqwa yang dijelaskan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Beliau menjelaskan bahwa makna taqwa itu meliputi 4 hal.

الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ وَاْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ وَالرِّضَا بِالْقَلِيْلِ

Takut kepada Allah yang Maha Mulia, mengamalkan apa yang termuat dalam at tanzil (Al-Qur’an), mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia dan ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit)

Pertama, Takut kepada Allah. Inilah yang seharusnya bertambah dalam diri seorang yang telah menghabiskan bulan Ramadannya. Meningkatnya rasa takutnya kepada Allah. Ketakutan inilah yang akhirnya mendorongnya untuk berdekat dan selalu berkomunikasi kepada Allah. 

Rasa takut ini pula yang akan menjadi filter dalam menjalani kehidupan. Selalu mendahulukan keridlaan Allah dalam setiap aktivitas hidupnya dan menjauhi segala hal yang menyebabkan kemurkaan-Nya. Kalaulah suatu saat orang ini melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah maka dengan kesadaran yang penuh dia akan segera kembali dan bertaubat kepada Allah. 

Kedua, beramal dengan Al Qur'an. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt untuk menjadi petunjuk bagi manusia agar bisa bertaqwa kepada-Nya. Karena itu, orang yang bertaqwa akan selalu beramal atau melakukan sesuatu berdasarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah swt, termasuk wahyu adalah hadits atau sunnah Rasulullah saw karena ucapan dan perilaku Nabi memang didasari oleh wahyu. 

Al Qur'an adalah petunjuk yang mengarahkan dimana manusia harus berhenti dan dimana manusia harus berjalan. Sebagai sebuah petunjuk, Al Qur'an wajib untuk dipelajari sebagaimana seseorang harus membaca dan mempelajari petunjuk dokter tatkala akan meminum obat. Seseorang tidak akan pernah tahu apa yang mendatangkan keridhaan dan mengundang kemurkaan Allah kalau dia tidak pernah membaca dan mempelajari Al Qur'an. Akibatnya tidak ada amal yang dapat ia laksanakan. Karena sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-Nya untuk mengikuti Rasulullah saw dalam beribadah dan mewujudkan kecintaannya kepada-Nya.


Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian”, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS Ali’Imrân [3]: 31)

Ketiga, Mempersiapkan diri untuk Akhirat. Setiap kehidupan pasti ada akan mengalami kematian. Inilah kepastian yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Celakanya, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan kematian adalah pintu gerbang pertama yang mengantarkan manusia kepada kehidupan yang sebenarnya. 

Hanya ada satu di antara dua kemungkinan yang akan dihadapi oleh manusia setelah kematiannya. Akankah ia hidup bahagia selamanya atau menderita yang tiada habisnya. Inilah kengerian di atas kengerian. Ngeri karena itu adalah teka-teki yang tidak dapat dijawab oleh manusia. Ngeri karena salah dari kemungkinan itu pasti akan dialaminya.

Karenanya, seorang yang cerdas adalah orang yang selalu memikirkan bakal kehidupannya yang kekal kemudian mempersiapkannya. Sebaliknya orang yang bodoh adalah orang yang fokus pikirannya kepada apa yang pasti akan ditinggalkannya.

Sahabat Abdullah bin Umar pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya diantara mereka”. Lalu bertanya lagi, ‘‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’’. Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Keempat, Ridla denga yang Sedikit. Secara naluri siapapun pasti menginginkan yang banyak terutama dalam hal keduniaan. Tetapi keinginan itu sering dan tidak selalu terpenuhi. Orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu menerima, mencukupkan dengan pemberian Allah, seberapa pun pemberian itu. Kisah berikut dapat menjadi ibrah (pelajaran) bagi siapa saja yang menginginkan pelajaran.

Suatu ketika, Ali bin Abi Thalib baru pulang lebih sore dari biasanya. Isterinya, Fatimah putri Rasulullah menyambut kedatangan suaminya dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.

Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah, “Aku mohon maaf karena tidak membawa uang sepeserpun.” Tidak nampak sedikitpun kekecewaan pada wajah Fatimah, bahkan ia tetap tersenyum dan bisa memaklumi keadaan suami yang dicintainya.

Ali amat terharu terhadap isterinya yang begitu tawakkal meskipun ia tidak bisa memasak malam itu karena memang tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak.

Ketika waktu shalat tiba, seperti biasa Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama’ah. Sepulang dari shalat, seorang yang sudah tua menghentikan langkahnya menuju rumah. “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali, anaknya Abu Thalib?”, tanya orang itu.
“Betul”, jawab Ali heran.

Orang tua itu merogoh kantungnya seraya berkata, “Dulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.”

Dengan amat gembira Ali mengambil uang itu yang berjumlah 30 dinar. Sesampai di rumah, Ali kemukakan kepada isterinya rizki yang tidak terduga itu. Tentu saja Fatimah sangat gembira ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari. Tanpa berpikir panjang, Ali langsung berangkat menuju pasar.

Ketika hampir tiba ke pasar, Ali melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepadaku, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.”

Tanpa berpikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu dan Ali pulang dengan tangan kosong. Tentu saja melihat sang suami pulang tidak membawa apa-apa, Fatimah terheran-heran. Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya dan ini justeru membuat Fatimah begitu terharu terhadap sang suami. Dengan diiringi senyum yang manis, Fatimah berkata: “Apa yang engkau lakukan juga akan aku lakukan seandainya aku yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang dimurkai-Nya.”

Itulah keempat hal yang harus ada dalam setiap diri manusia yang bertaqwa. Keempat hal itu dapat menjadi tolak ukur ketaqwaan seseorang kepada Allah. Adakah keempat hal itu meningkat setelah melaksanakan puasa atau justru sebaliknya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. (alf)
Share on Google Plus

About Buletin Alinshof