Ibu Rosmiza Setiap Hari Shalat Ashar dan Maghrib di Pinggir Jalan Gatot Subroto


Hidup adalah ujian. Setiap menit bahkan di setiap desah nafas hidup manusia selalu penuh dengan ujian. Yang kaya diuji dengan kekayaannya sedangkan yang miskin diuji dengan kemiskinannya. Sehingga pada hakikatnya derajat dan kedudukan manusia di dunia ini sama, yakni sama-sama sedang diuji. Hal yang akan membedakannya dengan segara adalah sikap manusia terhadap  berbagai macam ujian. Akan kah seseorang akan bersyukur tatkala diuji dengan kebaikan ataukah justru ia kufur terhadapa nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Akankah seseorang sabar dengan ujian kekurangan dan ketidakbaikannya ataukah justru mampu bersabar dan tetap melakukan ketaatan di tengah kekurangan dan beban hidup yang Allah ujikan kepadanya.

Karenanya, sekali sekali salah jika ada orang yang mengatakan bahwa dirinya telah dimuliakan Allah tatkala diuji dengan kekayaan, dan salah juga tatkala ada orang yang mengatakan dan menyangka telah dihinakan Allah tatkala diuji dengan kekurangan dan penderitaan hidup. Sebagaimana telah dibantah oleh Allah dalam QS. AL Fajar ayat 15-16


Sekali lagi bukanlah kemuliaan dan kehinaan seseorang itu ditentukan oleh jenis ujian apa yang diberikan oleh Allah kepada seseorang. Tetapi ditentukan oleh seberapa bisa kita bersyukur tatkala diuji oleh Allah dengan ujian kebaikan dan seberapa bisa kita bersabar tatkala diuji dengan kekurangan. Untuk itu janganlah merasa lelah beribadah gara-gara merasa telah lama beribadah kepada Allah tetapi derita dan kekurangan hidup masih menimpa.

Lihatlah dan belajarlah daru Ibu Rosmiza. Seorang ibu yang telah berumur 57 tahun.  Sehari-hari berjualan kue lemang dan nagasari di Medan. Tiap pagi hari membantu orang berdagang di pasar, Siang hari jualan kue keliling dengan mengayuh sepeda dan semua demi kebutuhan hidup sehari-harinya.

Meski demikian, setiap hari, dia menyelesaikan shalat dua waktu (Ashar dan Maghrib) di pinggir Jalan Gatot Subroto,tepat di sebelah sepeda dagangannya. Ya, selama itu pula Rosmiza tak pernah meninggalkan sholat, meski harus melakukannya di atas trotoar di pinggir jalan raya.

Terik mentari dan guyuran hujan bukanlah alasan baginya untuk tidak menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah. Suara knalpot sepeda motor dan bunyi riuh klakson kendaraan tak sedikit pun mengurangi kekhusukannya.

Nah, lalu bagaimana dengan kita ? (Anggi)
Share on Google Plus

Tentang Al Inshof

Al Inshof merupakan situs yang mencoba memberi gambaran kepada pembaca tentang Islam dan informasi-informasi terkait dunia Islam. Semoga apa yang ada di Al Inshof bermanfaat bagi Anda semua. Kritik dan saran dapat Anda emailkan ke buletinalinshof@gmail.com