Antara Manusia dan Binatang


Qod fataya bil'ilmi wa tuqo, sesungguhnya kehidupan seorang pemuda tergantung pada ilmu dan taqwanya.

Begitulah Allah berfirman dalam hadits Qudsi-Nya. Hal yang membedakan antara manusia dan hewan terletak pada ilmu dan taqwanya. Selamanya, hewan tak pernah berfikir saat bertindak. Selamanya mereka hanya mengandalkan naluri (instink) kebinatangannya. Karena itulah tidak ada pertanggungjawaban yang dituntut oleh seekor hewan.

Lain halnya dengan manusia. Ia diciptakan oleh Allah dengan perangkat yang menjadikan ia paling tinggi derajatnya dari semua makhluk Allah, bahkan dari malaikat. Ya, semuanya terletak pada pikirannya. Dengan pikiran yang dikaruniakan-Nya manusia bisa membedakan mana tindakan dan perilaku yang baik dan yang buruk. Manusia diberi kebebasan untuk memilihnya. Apakah ia memilih yang buruk dan mengutamakannya, ataukan memilih yang baik yang mendatangkan manfaat kepada kehidupannya, baik kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Semua terserah manusia. Tetapi tentu dalam setiap pilihan mendatangkan konsekuensi yang berbeda.

Dengan mengoptimalkan potensi yang berupa pikiran ini manusia akan diangkat ke derajat yang lebih mulia bahkan paling mulia. Pun sebaliknya, manusia akan dibalik menjadi serendah-rendahnya makhluk tatkala ia tidak mampu mengoptimalkan pikirannya untuk mendapatkan kemuliaan.  Sebagaimana Allah berfirman dalam sebuah ayat Al Qur'an Surat Al A'raf ayat 179,
 yang artinya:
"dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai."
Hal itu merupakan hukuman di dunia sedang di akhirat kelak orang yang tidak mau mengoptimalkan pikirannya untuk mendapatkan kemuliaan tentu kedasyatan siksa yang akan ia dapatkan.

Dan kemuliaan pada manusia itu terletak pada taqwanya pada Allah, Dzat sang pemberi nikmat. Sekarang kembali kepada diri manusia sendiri, apakah ia akan berusaha menggapai kemuliaan ataukan akan menceburkan dirinya ke dalam kebinatangan yang membinasakan. Sungguh kehidupan seorang pemuda itu tergantung pada ilmu dan taqwanya, demikian Allah mengingatkan kepada kita semua khusunya kepada para pemuda. 
Share on Google Plus

About Buletin Alinshof