Kenapa Harus Sholat?

o1 : “Bukankah Allah memiliki karunia dan pemberian?”
o2 : “Benar”
o1 : “Bukankah Dia perlu disyukuri atas semua itu?”

o2 : “Benar”
o1 : “Lalu bagaimana cara mensyukurinya?”
Diam beberapa saat tanpa ada jawaban. o1 menunggu, yang boleh jadi o2 sedang memeras pikirannya.
o2 : “Aku tidak tahu” (dengan mimik tidak puas).

Setelah diam sejenak, dia berkata,
o2 : “Tunjukkan padaku bagaimana cara mensyukuri karunia itu!”
o1 : “Di sana ada dua cara untuk mewujudkan syukur atas keberadan karunia dan pemberian itu secara bersamaan, yaitu : pertama, engkau harus mengakui karunia dan peberian itu hanya milik-Nya. Pengakuan itu harus muncul dari dalam hatimu dan bukan sebatas pada lisanmu, alalu engkau merunduk kepada-Nya dengan meletakkan kening di atas tanah, bersujud dan tunduk kepada-Nya. Kedua, engkau harus menjaga nikmat itu dan engkau harus meletakannya di tempat yang diridhai-Nya”
(diambil dari buku “Mengapa Saya Harus Shalat” yang ditulis oleh Abdurrauf Al-Hannawy dan Dr. Abdul Adzim Badawy dengan sedikit perubahan pada cara penulisan, yaitu dalam bentuk dialog, dan orang pertama ditulis o1 dan orang kedua ditulis o2)


Shalat.. shalat…
Kadang2.. kalo lagi males atau tersibukkan sama hal lain.. ada yang gampang banget ninggalin shalat. Padahal dengan begitu, secara nggak sadar dia udah membuat dirinya “mesen kapling” di neraka. Serem? ember! but it’s true!
Dulu.. waktu smp.. gw masih susah kalo disuruh shalat.. meskipun dari sekolah (yaitu dari guru agama) udah ngasih formulir yang isinya kayak evaluasi ibadah shalat gitu. Jadi, kalau udah ngerjain shalat, bisa diceklis di tabel yang ada disitu. Ketauan kan kalo ga shalat. Tapi tetep we… masih juga suka bolong2 shalatnya…
Kenapa bisa gitu? Mungkin gini.. Coba bayangin lu ketemu sama seseorang. Trus lu gak kenal sama orang itu. Tapi, elu disuruh ketemu sama orang itu 5 kali sehari, dengan waktu yang ditentukan sama dia, dan saat ketemu dia, lu harus membaca serangkaian bacaan yang merupakan bahasa asing yang gak lu ngerti artinya…
Yap… gak kenal sama yang nyuruh shalat, dan gak ngerti makna shalat itu sendiri..
Hm.. ternyata kita harus mengenal Allah juga ya.. Bahkan membangun hubungan denganNya juga. Karena seharusnya kita kan gak cuma gaul sama manusia aja (habluminannas), tapi hubungan sama Allah jg harus ada (habluminallah).
Tapi gimana caranya? Kan Allah gak keliatan.. Ya, mengenalnya bukan dari dzatnya.. bukan mengenai begimana wujud Allah, tapi mengenalNya lewat tanda2 kekuasaanNya yg tersebar di alam. Misalnya.. gimana bulan bintang dan benda langit lainnya beredar menurut garis edarnya, dengan patuh, tanpa pernah bertabrakan. Itu pasti Allah yang mengaturnya. Dan tanda2 lainnya. Kalau yg suka mentoring (hehe), pasti tau nih yg begini namanya Ma’rifatullah.
Kalau udah kenal dan cinta, biasanya kita mau kan ngelakuin apa aja buat orang yang kita cinta itu? Begitu juga kalau kita kenal dan cinta Allah.. apa aja rela dilakukan deh! Dan cinta pada Allah itulah yg harusnya jadi cinta tertinggi.
Kalau udah begitu, insya Allah shalat gak berat lagi. Dari yang dirasanya kewajiban yang memberatkan, jadi kebutuhan untuk men-charge rohani dan melepas stress.
Tapi selain itu, perlu diperhatikan juga cara shalatnya, udah sesuai tuntunan Rasul belum… Nah, jangan kapok2 nyari ilmu tentang ini. Kalo mau, ikutan kajian aja… Di MUI (mesjid UI) setiap hari selasa jam 4 sore biasanya ada kajian yang ngebahas fiqih (tata cara beribadah). Kemaren2 sih ngebahas shalat. Enak lho, nambah ilmu banget. Jadi tau ttg ilmu hadits juga. Ustadznya juga gaul n kocak=)
Share on Google Plus

About Buletin Alinshof