Rumah, Tempat Mendapat Ketenangan

Sudah menjadi fitrah manusia bahkan semua makhluk hidup untuk membangun tempat tinggal. Pada binatang tempat tinggal itu disebut sarang sedang di kalangan manusia tempat tinggal disebut dengan rumah. Al Qur'an menyebut tempat tinggal itu dengan dua istilah. Pertama Allah menyebutnya dengan bait, sebagaimana yang Allah firmankan dalan QS. An Nahl ayat 68, yang artinya,
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.”
Bait secara harfiah berarti tempat bermalam. Rumah disebut bait karena rumah itu berfungsi untuk beristirahat setelah sehari bekerja. Binatang pun juga menjadikan sarangnya sebagai tempat bermalam, beristirahat setelah sehari mencari makan.
Di samping itu rumah juga berfugsi bagi pemiliknya sebagai tempat berlindung dari cuaca dan gangguan binatang. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam QS. Al Baqarah: 125, yang artinya,
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman……”
Istilah kedua yang digunakan oleh Allah untuk menyebut rumah adalah maskan, sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. An Taubah ayat 72, yang artinya
“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu'min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di syurga `Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.”
Kata maskan berasal dari kata sakana yang berarti tenang, tentram, bahagia. Sehingga rumah dalam pandangan islam bukan hanya sekedar sebagai tempat istirahat dan bermalam tetapi lebih sebagai tempat mendapatkan ketenangan dan ketenteraman. 
Jika rumah hanya dijadikan sebagai bait, maka rumah bisa menjadi neraka bagi penghuninya. Rumah yang seperti inilah yang disinggung oleh Allah dalam firman-Nya QS. Al Ankabut ayat 41, yang artinya
“…Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah (rapuh) adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”
Allah menyebut rumah laba-laba sebagi rumah yang paling lemah. Di samping lemah secara struktural rumah laba-laba juga rapuh dari sisi penghuninya. Rumah tersebut tidak bisa melindungi penghuninya dari gangguan cuaca dan makhluk laiinya.

Menurur penelitian, terbukti bahwa laba-laba betina setelah melakukan perkawinan langsung membunuh laba-laba jantan. Begitu juga anak laba-laba, berjumlah sangat banyak namun diletakan dalam wadah yang kecil dan sempit, sehingga seluruh anaknya terlibat saling injak dan saling tindas, yang menyebabkan lebih separuh anaknya mati karena pertarungan sesamanya. 

Karenanya, menjadikan rumah bukan hanya sebatas bait tetapi juga maskan sangat penting dilakukan dalam upaya menciptakan keluarga sakinah, mawadah wa rahmah.
Share on Google Plus

Tentang Al Inshof

Al Inshof merupakan situs yang mencoba memberi gambaran kepada pembaca tentang Islam dan informasi-informasi terkait dunia Islam. Semoga apa yang ada di Al Inshof bermanfaat bagi Anda semua. Kritik dan saran dapat Anda emailkan ke buletinalinshof@gmail.com