Bagian 4 Syarah Hadits Ka’b bin Malik oleh Syaikh Usamah bin Ladin –hafizhahullah-

Ka’b: “Saya adalah yang paling muda daripada dua orang temanku.” Sebagaimana disebutkan di awal hadits. Ka’b: “Adapun dua temanku, mereka berdua pasrah dan duduk menangis.” Hati yang hidup apabila diingatkan akan segera sadar. Dua temannya menangis selama 40 hari. Kepada mereka berdua juga diutus utusan untuk menyampaikan agar mereka berdua meniggalkan istri-istri mereka. Istri Hilal bin Umayyah ra datang. Ia berkata: “Wahai Rasulullah SAW …” –perhatikan wahai para hamba Allah-. Ia berkata: “Wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya Hilal
adalah orang yang sudah tua renta. Apakah  Anda tidak berkenan aku membantunya?” Lelaki yang sudah lanjut usia dan tua renta. Namun, ketika absent dari membela jihad, sangsi pun menimpanya. Ia mampu untuk keluar berangkat sehingga bisa memperbanyak pasukan dan menjaga barang-barang bawaan ra. “Sesungguhnya Hilal adalah orang yang sudah tua renta, apakah  Anda tidak berkenan aku membantunya?” Rasulullah SAW: “Tidak, namun jangan sekali-kali ia mendekatimu.” Istri Hilal: “Demi Allah, ia sudah tidak punya gerakan sama sekali.” Ra.

Apa udzurmu wahai hamba Allah untuk duduk berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah. Padahal Allah SWT telah mengayakanmu dengan kesehatan, penglihatan, hati dan harta benda. Engkau juga bisa pergi ke bumi bagian timur dan barat. Bagaimana engkau duduk berpangku tangan dari membela Allah Dzat Yang menjadi Pencipta dan Penolongmu. Gunakan masa mudamu, kesehatanmu, kekayaanmu dan hidupmu sebelum kematian datang menjemputmu dengan tiba-tiba. Ketika itu, penyesalan sudah tidak bermanfaat lagi untukmu. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Ka’b ra berkata melengkapi kisah yang agung ini, kisah yang menjelaskan tabiat jiwa manusia dalam menyikapi ibadah ini; ibadah jihad. Ia mengatakan bahwa istri Hilal ra berkata: Demi Allah wahai Rasulullah, ia masih menangis dirumahnya semenjak kejadian itu. Jiwa yang merdeka lagi bersih dan beriman akan terbunuh dengan melakukan berbagai maksiat dan air matanya yang akan membersihkan dosa-dosanya. Para sahabat ra pada perang Tabuk mendatangi Rasulullah SAW agar sudi membawa mereka berjihad. Namun beliau SAW tidak mempunyai sesuatu yang bisa membawa serta mereka. Ketika beliau meminta maaf kepada mereka, apa firman Allah SWT yang menggambarkan kondisi mereka dalam kitab-Nya:

(( تَوَلَّواْ وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلاَّ يَجِدُواْ مَا يُنفِقُونَ )) .

“Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” [QS. At-Taubah (9): 92].

Maka bagaimana dengan orang yang ajal hampir menjemputnya sedangkan ia belum pernah berperang sekalipun di jalan Allah SWT. Ia tidak meneteskan air mata. Tidak sadar. Wajahnya tidak memerah marah dengan berbagai musibah bencana besar yang menimpa umat Islam dan kaum Muslimin pada dien mereka. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Ka’b: “Ketika saya sedang duduk -dalam keadaan yang sudah kami sebutkan-, tiba-tiba ada suara yang sampai kepadaku dengan nada memberi kabar gembira.” Ada seorang lelaki, setelah turun taubat atas Rasul kita SAW. Seorang lelaki naik ke bukit Salwa berteriak dengan suaranya yang paling keras memberi kabar gembira kepada Ka’b. Ka’b: “Saya tersungkur sujud sambil menangis karena saking gembiranya dengan diterima taubatnya oleh Allah.” Karena menelantarkan laa ilaaha illallaah termasuk dosa yang terbesar. Kita ringkas. Sebagian sahabat ada yang mengirim kuda kepadanya. Sebagian yang lain pergi bersemangat untuk meyampaikan kabar gembira kepadanya sebagai bukti perhatian sahabat terhadap ampunan Allah kepada taubat saudara mereka yang telah melakukan kejahatan besar ini. Ka’b: “Ketika orang yang saya dengar suaranya datang, saya memberinya dua buah baju.” Kemudian ia pergi menghadap Rasulullah SAW. Perhatikan wahai para hamba Allah keadaan para salaf ra.

Ka’b: “Orang-orang bangkit memberi selamat kepadaku. Berbahagialah atas diterimanya taubatmu oleh Allah. Mereka berbondong-bondong menyampaikan kabar gembira kepadaku berkat turunnya ampunan atas kejahatan besar yang telah saya lakukan. Yang mereka lakukan dengan menelantarkan laa ilaaha illallaah.” Ka’b: “Saya mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW yang wajahnya bersinar bahagia dengan turunnya ampunan Allah.” Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah dari Anda ataukah dari Allah? Belaiu menjawab: “Tidak, tetapi dari Allah SWT.” Ka’b: “Wahai Rasulullah –lihatlah bagaimana para sahabat ra menyikapi ibadah jihad. Hanya absent sekali saja padahal sudah berperang berkali-kali-. Ka’b: “Wahai Rasulullah sesungguhnya termasuk bagian dari taubatku, saya akan melepas semua hartaku.” Lalu Rasulullah SAW menjelaskan kepadanya, ia cukup melepaskan sepertiga hartanya ra.

Sekarang, seluruh hartamu tidak diminta. Hartamu adalah milik Allah SWT. Berangkatlah. Gunakan kesempatan sebelum datang hari Taghabun (hari dinampakkan kesalahan-kesalahan) dan engkau telah tertipu dalam semua waktumu dan tahun-tahun yang telah berlalu. Dalam hadits shahih dari Nabi kita SAW, beliau bersabda: “Berdiri sesaat di barisan mujahidin untuk berperang di jalan Allah lebih baik daripada shalat malam selama 60 tahun.” Ketertipuan yang mana lagi yang lebih parah dari ini. Sesaat di barisan mujahidin, engkau bisa pergi ke sana untuk membela laa ilaaha illallaah melawan orang-orang Yahudi dan Nasrani serta para pembantu mereka. Kesempatan –dengan keutamaan dari Allah- masih terbuka dan mudah untuk beri’dad (melakukan persiapan), tadrib dan berangkat untuk membela laa ilaaha illallaah tapi kamu tetap duduk-duduk saja? Padahal ini ketika kondisi jihad merupakan fardhu kifayah. “Berdiri sesaat di barisan perang di jalan Allah lebih baik daripada beribadah selama 60 tahun.” Dalam hadits lain, “Ribath (berjaga-jaga di daerah perbatasan) selama sebulan lebih baik daripada puasa setahun.”

Kebaikan agung dan kemuliaan yang banyak dari Dzat Yang Maha Mulia SWT. Sampai perawi berkata: Ka’b: Saya berkata: Saya menahan bagianku di Khaibar. Ka’b: Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku karena kejujuran. Maka termasuk bagian dari taubatku, saya tidak akan berbicara kecuali dengan jujur. Perawi: Demi Allah saya tidak tahu ia menyebutkan keutamaan Allah SWT kepadanya dalam hal ia diberi hidayah menjadi orang jujur. Dan kejujuran ini merupakan nikmat Allah SWT tergung kepadanya. Dan kejujuranlah yang menyelamatkannya sampai ia tidak binasa sebagaimana mereka (yang berdusta) binasa. Perawi: Sesungguhnya orang-orang yang berdusta, Allah SWT berfirman kepadanya dengan sejelek-jelek firman yang belum pernah disampaikan kepada seorangpun.

Orang-orang yang duduk-duduk berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah Allah menetapkan keadaan dan sifat mereka dan mempermalukan mereka dalam surat Al-Faadhihah, dalam surat Baro-ah, dalam surat At-Taubah. Surat itu mempermalukan orang-orang munafik. Bacalah surat itu dengan penuh penghayatan. Hendaknya setiap orang dari kalian menyendiri dengan ayat-ayat Al-Qur’an, dengan ayat-ayat perang, dengan ayat-ayat jihad dan surat-surat perang. Agar ia bisa melihat dimana ia berada. Apakah ia berada di atas manhaj Muhammad SAW atau malah telah menjauh dari manhaj ini dan mendekati sifat-sifat qo’idun (orang-orang yang duduk-duduk saja). Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Allah Ta’ala berfirman memperingatkan,

(( وَإِذَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُواْ بِاللّهِ وَجَاهِدُواْ مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُوْلُواْ الطَّوْلِ مِنْهُمْ )),

“Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): "Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya", niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad).” [QS. At-Taubah (9): 86].

Orang-orang memiliki kesanggupan dalam hal harta, kesehatan, kekuatan, akal, penglihatan dan segala sesuatu yang Allah berikan nimat-nikmat-Nya kepada mereka. Siapa yang minta izin? Mereka adalah orang-orang yang mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah SWT telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka (maksudnya yaitu orang-orang munafik).

(( وَإِذَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُواْ بِاللّهِ وَجَاهِدُواْ مَعَ رَسُولِهِ)),

“Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): "Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya".” [QS. At-Taubah (9): 86].

Ibadah yang agung ini disebut di antara lafzhul jalalah (lafal Allah) dan Rasul kita SAW.


 (( وَإِذَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُواْ بِاللّهِ وَجَاهِدُواْ مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُوْلُواْ الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُواْ ذَرْنَا نَكُن مَّعَ الْقَاعِدِينَ * رَضُواْ بِأَن يَكُونُواْ مَعَ الْخَوَالِفِ )) ,

“Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): "Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya", niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: "Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk". Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang.” [QS. At-Taubah (9): 86-87].

Mereka rela bersama-sama kaum wanita. Kaum wanita yang telah saya sebutkan tentang keadaan mereka, tidak diwajibkan untuk berjihad. Mereka hanya diwajibkan berjihad tanpa senjata, yakni haji, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Wanita-wanita merdeka itu dihalalkan untuk kita di atas kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya SAW. Rasul kita SAW tidak membaiat mereka kecuali untuk berislam. Beliau membaiat kaum wanita dan para budak untuk berislam. Sedangkan kaum lelaki dibaiat untuk berislam dan berjihad. Bagaimana engkau jika berubah menjadi seperti mereka kaum wanita. Apakah kita harus mendatangkan orang-orang Nasrani, bahkan anak-anak perempuan Yahudi dan Nasrani untuk membela negeri Haromain, untuk membela anak cucu Sa’ad dan Al-Mutsanna. Tidakkah ada kaum lelaki? Demi Allah, nenek moyang kita sebelum Islam tidak mungkin rela dengan hal ini. Bagaimana bisa demikian, padahal Allah SWT telah mengaruniai kita dien yang agung ini dan shirat al-mustaqim (jalan yang lurus) ini. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Dan hanya kepada Allah-lah tempat mengadu.

Setelah itu, kami sebutkan keadaan orang-orang munafik agar waspada dari mereka dengan tingkatan celaan yang terbutuk yaitu dengan disifati rela, hanya sekadar rela.

(( رَضُواْ بِأَن يَكُونُواْ مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لاَ يَفْقَهُونَ * لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ جَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ َأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ )) .

“Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang, dan hati mereka telah dikunci mati maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad). Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [QS. At-Taubah (9): 87-88].

Persaksian dari Rabb Pemilik alam semesta akan keberuntungan dan kebenaran jalan mereka. Jika engkau termasuk pengikut Muhammad SAW dan pengikut salaful ummah ra, maka inilah jalannya. Sangat jelas dan gamblang. Orang-orang munafik rela bersama dengan orang-orang yang tidak berperang, hal ini sebagai peringatan bagi kaum mukminin agar jangan sampai mengambil jalan orang-orang munafik. Setelah itu ada koreksi (Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia). Jika engkau termasuk pengikut Muhammad SAW maka inilah jalannya: (mereka berjihad dengan harta dan diri mereka). Orang-orang munafik itu merekalah orang-orang yang duduk-duduk berpangku tangan dan diperdaya oleh jiwa mereka dan berdusta atas Allah dan Rasul-Nya SAW.

Ia memuji Allah karena ia tidak terkena apa yang mengenai orang-orang munafik seandainya ia berdusta dan duduk-duduk berpangku tangan. Diantara yang diucapkannya sebelum itu ketika ia ditanya: Engkau minta udzur, tidakkah ampunan Rasulullah SAW sudah cukup bagimu? Ka’b menjawab: Saya tidak mau menggabungkan antara duduk-duduk berpangku tangan dengan berdusta atas Rasulullah SAW. Renungkanlah wahai para hamba Allah. Siapa yang diuji dengan sikap duduk-duduk berpangku tangan jangan sampai mengabungkannya dengan menelantarkan kaum mukminin dari jihad di jalan Allah. Kenapa engkau kikir dan memerintahkan orang lain agar kikir. Kikir ini termasuk sifat memalukan yang dicela Allah SWT

((الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ))

“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir.” [QS. An-Nisa (4): 37].

Kekikiran dari harta adalah bencana, apalagi kalau Allah mengujimu dengan kebakhilan dan pengecut. Mintalah ampun bagi dosamu. Kenapa engkau memerintahkan orang lain? Apa kepentinganmu apabila orang-orang absent dari menginfakkan harta bendanya di jalan Allah? Apa kepentinganmu apabila orang-orang absent dari membela dien mereka? Itulah syubhat-syubhat yang dilontarkan syaitan kepada manusia.

(( إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ )).


“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya.” [QS. An-Nisa (4): 175].

Seandainya ada belasan ribu orang berangkat tentu akan cukup dengan izin Allah Yang Maha Esa. Saya mengatakan perkataan ini berdasarkan pengetahuanku tentang jalan ini dan (pengalamanku) di kancah jihad ini –dengan keutamaan Allah dan hanya milik Allah-lah segala keutamaan dan anugerah- lebih dari 20 tahun. Bagaimana orang-orang akan berangkat (berjihad)? Mereka banyak beralasan dengan udzur-udzur yang lemah yang dibesar-besarkan dan dihiasi oleh syaitan di otak-otak mereka. Ada yang mengatakan kepadamu: Lalu siapa yang akan menjaga tsughur-tsughur (daerah-daerah perbatasan) yang lain?  Masih banyak orang yang ada di sana (medan jihad). Dosa telah gugur dari mereka dan panji laa ilaaha illallaah telah mendapat pertolongan.

Jauhilah wahai hamba Allah menggabungkan antara sikap duduk-duduk berpangku tangan dengan sikap menelantarkan dan menghalang-halangi (dari jihad).

(( قَدْ يَعْلَمُ ا
للَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ ))
“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang- halangi di antara kamu.” [QS. Al-Ahzab (33): 18].

Allah SWT mengetahui apa yang ada dalam hati kita. Periksalah jiwamu yang ada padamu, barangkali ia telah memperdayamu sebagaimana jiwa Ka’b ra dan saudara-saudaranya ra.

Ka’b melanjutkan: Segala puji bagi Allah yang menunjukiki kepada sifat jujur dan yang telah menganugerahiku dengan nikmat ini. Nikmat teragung yang Allah anugerahkan kepadaku setelah Islam, karena saya tidak pernah berdusta sehingga saya tidak binasa sebagaimana orang-orang munafik binasa. Sungguh Allah mengatakan kepada mereka dengan seburuk-buruk ucapan yang diucapkan kepada seseorang.


 (( سَيَحْلِفُونَ بِاللّهِ لَكُمْ إِذَا انقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُواْ عَنْهُمْ فَأَعْرِضُواْ عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاء بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ * يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْاْ عَنْهُمْ فَإِن تَرْضَوْاْ عَنْهُمْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يَرْضَى ))

“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha ...” [QS. At-Taubah (9): 95-96].

Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Apa nilai hidupmu jika engkau duduk-duduk berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah dan Allah SWT tidak ridha kepadamu.

(( فَإِن تَرْضَوْاْ عَنْهُمْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يَرْضَى عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ ))

“Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.” [QS. At-Taubah (9): 96].

Allah mensifati mereka dengan sifat-sifat yang tercela; zalim dalam beberapa ayat dan fasik dalam ayat ini dan ayat yang lainnya.

Hadits agung ini, dimana Ka’b ra menjelaskan dan mengaku. Ia adalah teladan bagi orang-orang agar memeriksa jiwanya dan mengatasinya serta mengembalikannya kepada kebenaran. Salaful ummah, mereka adalah:
(( لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ جَاهَدُواْ ))

“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad.” [QS. At-Taubah (9): 88].
Pada waktu itu yang absent hanyalah orang-orang Arab Badui yang tidak paham dien. Namun meskipun demikian, mereka mengira bahwa mereka telah beriman ketika mereka merasa memberi nikmat kepada Rasul kita SAW. Mereka mendatangi beliau SAW mengatakan bahwa kami telah beriman.
 (( قَالَتْ الأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلْ الإِيمَانُ فِي قُلُوبكمُ )).

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman." Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” [QS. Al-Hujurat (49): 14].

Ayat berikutnya menjelaskan kepada mereka sifat-sifat orang-orang beriman; menjelaskan kepada mereka keadaan orang-orang beriman. Perhatikan wahai para hamba Allah.

(( إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ))

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.” [QS. Al-Hujurat (49): 15].

Allahu Akbar. Ini sudah cukup bagi orang-orang yang berakal. Ayat ini menjelaskan kepada mereka sifat iman. Jika engkau ingin menjadi bagian dari golongan orang-orang beriman. Sifat yang paling menonjol adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa keragu-raguan dan jihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwa.
Bersambung
Share on Google Plus

About Buletin Alinshof