bagian 3 Syarah Hadits Ka’b bin Malik oleh Syaikh Usamah bin Ladin –hafizhahullah-

Ka’b melanjutkan: Ketika saya keluar beberapa orang dari Bani Salamah marah, yakni dari kaumnya. Mereka terus mencercaku, mencelaku, kenapa saya mengatakan semacam itu. Seandainya saya beralasan dengan alasan apa saja itu sudah cukup Rasulullah SAW akan memaafkanmu. Perhatikan kelemahan jiwa manusia sampai pada diri orang-orang mulia sekelas para sahabat ra. Ka’b: Mereka terus mencercaku sampai saya hampir kembali untuk berbohong.

Tekanan masyarakat, tekanan keluarga dan tekanan lingkungan sangat keras sampai kepada mereka para sahabat yang mulia ra. Lalu bagaimana sekarang,
mayoritas manusia standar timbangannya sudah terbalik. Mayoritas manusia duduk berpangku tangan dari jihad. Sedikit sekali yang mau mengambil pelajaran dan ingat. Semoga Allah SWT memberikan taufiq kepadanya. Dialah yang memiliki segala puji dan anugerah. Kita berharap kepada-Nya semoga Dia memantapkan kita dan memantapkan berbagai nikmat ini kepada kita sampai kita menemui-Nya dan Dia pun ridha dengan kita.

Ka’b: Kemudian saya berkata kepada mereka, apakah ada orang lain yang mengalami sepertiku? Mereka menjawab: Ya, ada dua orang yang mengalami sepertimu. Mereka berdua berkata seperti apa yang kamu katakan. Mereka berdua juga ditanya seperti kamu ditanya. Maka ia menyebutkan dua orang itu, yaitu Muroroh bin Ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Keduanya pernah ikut perang Badar ra sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat.

Kemudian datang perintah untuk memboikot dan mengucilkan. Mengucilkan orang-orang yang duduk berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah. Ka’b: Bumi menjadi terasa asing bagiku. Seolah-olah ia bukan bumi yang sudah saya kenal dan jiwaku sendiri terasa asing. Siapa yang mengucilkanmu wahai hamba Allah? Yang mengucilkanmu adalah pemimpin anak Adam yang apabila murka kepadamu maka Rabb pemilik langit dan bumi SWT juga murka kepadamu. Suatu perkara yang besar sekali. Ketidakberangkatan tiga orang dari jumlah 30 ribu mujahid sebenarnya tidak berpengaruh terhadap pasukan. Namun, ini adalah masalah yang masuk ke hati. Mengapa hati ini duduk berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah. Di sini tidak penting apakah berpengaruh ataukah tidak. Ini merupakan amanah yang ada di pundakmu dan kewajibanmu yang seharusnya kamu laksanakan.

Ia dikucilkan dan diasingkan, sampai jiwanya juga terasa asing baginya. Ka’b: Setelah pengasinganku berlangsung cukup lama, ada seorang utusan datang dari Raja Ghassan. Kalian tahu kaum Ghassan adalah berasal dari Bani Qailah. Antara mereka dan antara suku Aus dan Khazraj ada pertalian nasab (keturunan), jadi induk mereka satu. Kabar itu sampai ke kaum Ghassan. Raja mereka mengirimkan utusan lagi kepadanya mengatakan: bergabunglah dengan kami, kami akan membantumu dengan harta kami. Kamu tidak akan tinggal di negeri kehinaan dan kesia-siaan. Ka’b menanggapi: Sampai orang-orang kafir antusias kepadaku. Orang-orang musyrik antusias untuk merekrutku. Demikian juga keadaan orang-orang yang duduk-duduk berpangku tangan dari jihad, para penguasa pengkhianat dan antek-antek mereka antusias kepada mereka. Orang-orang kafir itu antusias kepadanya dan menambah kesesatan mereka dari membela laa ilaaha illallaah.
(( وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ ))
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” [QS. Huud (11): 113].
Semoga Allah melindungi kita dan kalian darinya.

Ka’b: Saya mengambil kitab atau lembaran kitab, saya melemparkannya. Ia menaruhnya di tungku perapian. Ketika permasalahannya membuatnya merasa sempit. Ia berkata: Saya naik tembok sepupuku Abu Qotadah, dia orang yang paling aku sukai. Saya bertanya: Wahai Abu Qotadah: “Saya memintamu karena Allah.” Perhatikan wahai para hamba Allah, keterikatan iman dengan jihad dan keterikatan jihad dengan iman. Bumi terasa sempit baginya, demikian jiwanya. Manusia terbaik SAW telah memboikotnya. Bagaimana bumi akan terasa luas dan bagaimana jiwanya akan terasa lapang. Ka’b: “Saya berkata: Wahai Abu Qotadah, kehilangan apa saja ketenangan itu?” Karena begitu sempitnya perasaanya, ketenangan dari sesuatu teragung dalam hati, (yakni) dari iman. Ka’b ingin merasa tenang dari cinta Allah dan cinta Rasul-Nya SAW.

Ka’b: “Saya minta kepadamu wahai Abu Qotadah, apakah kamu tahu bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Kejahatan besar sekali apabila engkau menelantarkan laa ilaaha illallaah. Bukankah yang menerangi hati kita hanya laa ilaaha illallaah? Bagaimana engkau meninggalkan kalimat agung ini, engkau duduk-duduk bersama dengan orang-orang yang tidak berangkat berjihad. Sementara engkau menganggap bahwa engkau mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ka’b: “Abu Qotadah tidak menanggapiku, sebagai bentuk pemboikotan!” Sampai Ka’b mengatakan di awal hadits: “Saya memberi salam kepadanya, tapi orang yang paling saya cintai tidak menjawab salamku, demi komitmen dengan perintah Allah untuk melaksanakan sangsi kepada mereka orang-orang yang duduk-duduk berpangku tangan dari membela Allah. Hanya saja setelah itu Allah melimpahkan rahmat-Nya (kasih sayang-Nya) kepada mereka dan menerima taubat mereka ra. Ka’b: “Saya memohon dengan sangat kepadanya kedua kali: Apakah engkau tahu bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Ka’b: “Abu Qotadah tidak menjawab.” Saya memohon dengan sangat kepadanya ketiga kali: Apakah engkau tahu bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Abu Qotadah: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ka’b berkata: ”Saya pun pergi dengan air mata yang membanjir dari kedua mataku.” Ka’b menangis! Sesuatu teragung yang ada pada dirinya yaitu keimanannya kepada Allah, orang yang paling ia cintai tidak mampu menetapkannya untuknya perkara yang agung ini. Lalu apa nilai hidup (tanpa iman kepada Allah)? Abu Qotadah tidak menetapkan keimanannya kepada Allah dan tidak menafikannya darinya. Ia berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Setelah itu Ka’b ra mengatakan –ini termasuk pelajaran yang patut kita jadikan pelajaran-: Setelah berlalu 40 hari, seorang utusan Rasulullah SAW datang, ia berkata: “Rasulullah SAW memerintahkan kepadamu.” Perhatikan wahai para hamba Allah, termasuk sesuatu yang paling special ada pada para tokoh adalah rumah dan istri. Tiba perintah untuk meninggalkan istrinya, meninggalkan ibu rumah tangganya. Utusan itu mengatakan: “Rasulullah SAW memerintahkan kepadamu untuk meninggalkan istrimu.” Hati yang hidup, apabila lalai akan teringat dan kembali kepada kebenaran. Mereka (tiga orang itu) menyadari besarnya kejahatan yang dilakukannya dengan meninggalkan laa ilaaha illallaah. Utusan itu mengatakan: “Rasulullah SAW memerintahkanmu untuk meninggalkan istrimu.” Ka’b: “Saya disuruh menceraikannya atau apa?” Ka’b ra sudah siap menceraikan ibunya anak-anaknya demi meraih keridhaan Allah SWT.” Utusan: “Tidak, tapi jangan sekali-kali engkau mendekatinya.” Ka’b berkata kepada istrinya: “Pulanglah ke keluargamu sampai Allah memutuskan urusan kita.”

Dengan kalimat Allah, dengan dien ini kita menghalalkan kemaluan wanita di atas kitab Allah dan di atas sunnah Rasulullah SAW. Rabb kita SWT Dzat Yang menciptakan mereka untuk kita.

(( وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا ))

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” [QS. Ar-Ruum (30): 21].
Termasuk keutamaan Allah yang diberikan kepadamu wanita ini dalam penciptaannya, dan dalam menikahinya. Ketentraman, rasa kasih dan sayang. Bagaimana engkau menelantarkan dien ini yang menjadi sebab Allah SWT menganugerahimu segalanya. Bagaimana engkau menelantarkan dien Rabbmu SWT yang telah menciptakanmu dari sebelumnya tidak berwujud tanpa daya, kekuatan dan upaya darimu.
Share on Google Plus

About Buletin Alinshof