Sifat-Sifat Thaifah Al-Manshurah Yang Harus Kita Raih



Tha`ifah Manshurah bukan sifat yang dapat dimonopoli oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi ia adalah sifat yang dikenal melalui ciri dan karakteristik yang ditunjukkan oleh nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah.
Siapa yang melekat padanya ciri sifat tersebut, dia termasuk di antara Tha`ifah Manshurah, baik orang menerimanya ataupun menolaknya. Sebaliknya, siapa pun yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut, dia bukan tergolong Tha`ifah Manshurah, meskipun dia mengaku-ngaku seribu kali!Adapun ciri-ciri Thaifah Al-Manshurah dapat diringkas dalam poin-poin berikut:

1. Ittiba` (mengikut sunnah) bukan Ibtida` (membuat bid`ah)

Mereka berjalan mengikuti Minhaj Nubuwwah (methode kenabian); shirathal mustaqim, mencari petunjuk melalui pemahaman Salafush Shaleh terhadap nash-nash Al-Kitab dan As-SunnahDalam seluruh urusan mereka. Hawa nafsu dan beraneka macam jalan yang dibuat-buat oleh kaum musyrikin dan ahli bid`ah, tidak dapat memalingkan pandangan mereka.
Sebagaimana sabda Rasulullah n: "Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan sesat sepeninggal saya selama-lamanya, yakni Kitabullah dan sunnahku."Beliau juga bersabda, "…Ketahuilah bahwa apa yang diharamkan Rasulullah Saw. adalah seperti apa yang diharamkan Allah."
2. Berjihad fi sabilillah.

Jihad fi sabilillah merupakan ciri yang senantiasa melekat dan tidak bisa dilepaskan dari sifat Tha`ifah Manshurah. Dalam keadaan apapun, mereka dikenali melalui sifat ini.
Apabila mereka terpisah dari jihad fi sabilillah karena keadaan yang luar biasa, kita akan melihat bahwa mereka begitu bersemangat untuk menyingkirkan penghalang jihad dengan mengorganisir diri dalam suatu jamaah yang teratur rapi dalam rangka i’dad, agar mereka bisa memulai kembali berjihad fi sabilillah. Hal ini bisa kita simak dalam sabda-sabda Nabi n tentang mereka.

Berkenaan dengan hal tersebut, Allah l berfirman:

"Wahai orang-orang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu`min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui."(Al Maa-idah 54)
Demikianlah, mereka adalah kaum, mereka adalah kelompok, mereka adalah jamaah yang senantiasa bekerja dan terorganisir secara rapi, dipimpin seorang amir muthaa` (pemimpin yang dita`ati). Dalam rangka jihad untuk menegakkan Islam.

3. Membangun kesetian dan memulai permusuhan karena Allah.

Benar, mereka berwala`[ Mempersahabati, mendukung dan menolongnya ] dan mencintai karena Allah, memusuhi dan membenci karena Allah. Mereka lemah lembut dan belas kasih terhadap orang-orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka tidak mengenal wala`/loyalitas kecuali yang ditegakkan di atas aqidah
Berkenaan dengan hal tersebut Allah l berfirman, "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka."(Al-Fath: 29)

4. Totalitas dalam ber-Islam

Tha`ifah Manshurah mengambil Islam secara keseluruhan tanpa mengabaikan salah satu aspek di antara aspek-aspeknya. Mereka bukanlah jama`ah yang manhaj serta aktifitasnya hanya tegak dan terfokus pada aspek dakwah dan tabligh saja! Juga bukan jama`ah yang hanya terpaku dan terfokus pada jihad saja.
Mereka juga bukan jama`ah yang manhaj-manhajnya berdiri di atas prinsip mencari ilmu dan fiqh saja, tanpa menaruh perhatian terhadap aspek-aspek amaliyah/pengamalan dari agama ini.

5. Bersikap Adil     

Mereka bersikap adil dalam semua aspek kehidupan agama dan dunia mereka, di mana mereka tidak bersikap ghuluw (melewati batas) ataupun jafaa` (menjauh), tidak Ifraath (berlebih-lebihan) maupun Tafriith (melalaikan).
Sebagai catatan, sikap adil di sini bukanlah sikap kompromistis, yang justru mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, tetapi ia adalah sikap untuk selalu mengembalikan persoalan pada syariat Islam sebagaimana yang dipahami oleh para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yakni 3 generasi utama Islam yang dijamin kebenarannya oleh Rasulullah.
Sebagaimana firman Allah l, "Demikianlah Kami jadikan kalian sebagai ummat "Wasathan" (yang adil dan terbaik) agar kalian jadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul jadi saksi atas (perbuatan) kalian." (Al-Baqarah: 143)

6. Ilmu.

Mereka adalah ulama (orang-orang yang berilmu) dalam urusan agama dan dunia mereka. Sebab, ciri-ciri dan sifat mereka yang telah disebutkan di muka menunjukkan kepada kita bahwa mereka adalah ulama.
Namun demikian, bukan berarti setiap personal dalam Tha`ifah Manshurah adalah orang-orang alim yang menonjol, dalam pencarian ilmu dan pencapaiannya. Hanya saja, kelompok yang mendapatkan sifat Tha`ifah Manshurah tersebut tidak boleh kosong dari ulama rabbaniyun dan amilun.

7. Sabar dan teguh hati.

Beratnya beban tugas yang terpikul di atas pundak Tha`ifah Manshurah, menuntut adanya satu sifat khusus yang harus mereka miliki, yakni Sabar dan Tsabat/teguh hati. Mengapa demikian? Karena mereka adalah kelompok yang tidak bisa lepas dari ujian.

Jika disebut kata Thaifah Al-Manshurah, pasti juga akan diikuti kata ujian, pasti juga disebutkan kata sakit dan luka! Oleh karena itu, para anggota Thaifah Al-Manshurah ini pasti terbiasa dengan kesulitan hidup, pengusiran, penangkapan, penyiksaan, bahkan pembunuhan dan jihad.

Demikianlah ciri-ciri Thaifah Al-Manshurah dan sudah selayaknya kita berlomba-lomba untuk menuju pada mereka. Sebagai penutup, agaknya perlu kita renungi kutipan utuh hadits shahih berikut:

"Akan senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang berperang menegakkan agama Allah, mengalahkan musuh mereka, dan tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang hari kiamat atas mereka, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian. Kemudian Allah mengirim angin seperti angin misk, sentuhannya seperti sentuhan sutera, dan ia tidak meninggalkan jiwa yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji sawi, kecuali ia akan mencabutnya, kemudian tinggallah seburuk-buruk manusia, terhadap merekalah kiamat aka
Share on Google Plus

Tentang Al Inshof

Al Inshof merupakan situs yang mencoba memberi gambaran kepada pembaca tentang Islam dan informasi-informasi terkait dunia Islam. Semoga apa yang ada di Al Inshof bermanfaat bagi Anda semua. Kritik dan saran dapat Anda emailkan ke buletinalinshof@gmail.com