Kewajiban Jihad Dimata Seorang Mujahid Sejati

(an-najah.net) – Entah mengapa, kata jihad hari ini menjadi salah satu kosakata yang diperbincangkan banyak pihak. Ada pihak yang begitu semangat, pihak lain berupaya menyimpangkan dari maksud yang sebenarnya. Dampaknya adalah sikap yang berlebih-lebihan, hingga muncul keyakinan bahwa hari ini tidak perlu lagi belajar ngaji, mendalami fikih, dan semacamnya. Hari ini adalah hari untuk jihad, tiada lain.

Di sisi lain, ada pihak yang begitu takut kepada kata ini setiap kali disebutkan. Padahal perintah wajib untuk berjihad fi sabilillah sama halnya seperti wajibnya shalat fardhu dan puasa Ramadhan. Kita tahu bahwa shalat fardhu dapat menghapuskan dosa-dosa kecil yang kita lakukan; puasa Ramadhan selain menghapus dosa juga dapat meningkatkan rasa solidaritas sesama muslim yang lain. Pun demikian dengan jihad fi sabilillah, ia mempunyai keutamaan seperti ibadah-ibadah yang lain. Di antaranya ialah menghilangkan kekafiran dan kesyirikan, mengeluarkan manusia dari gelapnya kebodohan, membawa mereka kepada cahaya iman dan ilmu, menumpas orang-orang yang memusuhi Islam, menghilangkan fitnah, meninggikan kalimat Allah, menyebarkan agama-Nya, serta menyingkirkan setiap orang yang menghalangi tersebarnya dakwah Islam.

Begitu indah dan banyak manfaat yang dapat diambil dari ibadah jihad ini, tapi mengapa banyak di antara kaum muslimin pada hari ini hanya memandang sebelah mata ibadah yang agung ini, bahkan mendefinisikan jihad ini dengan hal-hal yang sepele, jihad hanya diartikan dengan “bersungguh-sungguh” melakukan pekerjaan apa pun.

Bila kita mengetahui arti jihad yang sebenarnya, kita akan merasakan bahwa jihad itu indah seperti indahnya ibadah shalat. Syaikh Abdullah Azzam menerangkan bagaimana jihad dapat membentuk karakter seorang manusia dalam kehidupannya, dalam bukunya “Wasiat Asy-Syahid Dr. Abdullah Azzam: BEGINILAH JIHAD MENGAJARIKU”

Pertama, keimanan kita kepada takdir tidak akan terwujud dalam jihad manusia melebihi perwujudannya di medan jihad. Tawakal seseorang kepada Allah tidak akan sekuat di medan peperangan, terutama tentang ajal dan rezeki. Akidah ini dituangkan jelas dalam lembaran Al-Qur’an dengan ayat muhkamat.
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (Ali Imran: 145)

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (Adz-Dzariyat: 22)
Kedua, izzah dan kemuliaan. Jihad mengajarkan kepadaku bahwa muslim mujahid adalah makhluk paling mulia di bumi. Sebab yang paling berharga dimiliki seseorang adalah nyawanya sementara ia mempertaruhkannya dalam bahaya setiap hari demi membela agama-Nya. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)

Ketiga, kehinaan dunia di mata seorang mujahid seperti yang disebutkan dalam hadits, “Seandainya dunia itu sepadan di sisi Allah dengan sayap lalat, maka Dia tidak akan memberikan minum kepada orang kafir seteguk air dunia.”  Ini sesuai dengan kejiwaan seorang mujahid dan tingginya kepeduliannya terhadap puncak ajaran Islam yakni jihad di mana ia hanya menilai dunia amat-amat kecil.

Sayyaf pernah berkata kepada anak-anak penguasa, “Demi Allah, sesungguhnya 100 istana seperti istana ayahmu, tidak pernah sepadan dengan sedetik pun saat berjihad.”

Keempat, saya belajar dari jihad bahwa kehidupan hakiki adalah kehidupan jihad dan mujahid. Ini sesuai dengan pendapat sebagian ahli tafsir tentang makna ayat, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya  kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Al Anfal: 24)
Yang dimaksud “kepada sesuatu yang memberikan kehidupan” adalah jihad.

Kelima, jihad mengajariku bahwa Islam adalah pohon yang tidak akan hidup kecuali di atas darah. Jika darah itu mengering, maka urat dan syaraf agama ini akan mati.

Keenam, saya keluar untuk jihad dengan keyakinan bahwa jihad adalah sangat penting bagi gerakan Islam. Demikian juga gerakan Islam sangat penting untuk menyalakan lentera jihad. Pimpinan gerakan dan umat juga sangat penting  bagi gerakan Islam agar jihad itu tetap menyala dengan bahan bakarnya yakni bangsa dan masyarakat. Jika gerakan Islam tidak berjihad, maka ia akan termakan dan habis sendiri dengan fitnah dan terpecah-pecah. Gerakan Islam adalah detonator berton-ton bahan  peledak. Masyarakat adalah bahan peledaknya. Gerakan Islam tidak akan bisa berperang dalam jangka panjang meski hanya melawan negara kecil apalagi besar, jika gerakan itu mengisolir dari masyarakatnya. Ibarat dahan yang diputus dari pohonnya. Banyaknya pengetahuan dalam gerakan Islam akan berbahaya bagi jiwa sebab hanya membekukan hati dan perdebatan.

Ketujuh,  agama ini tidak bisa dipahami kecuali melalui jihad agar diakui secara nyata di bumi. mereka yang bergelut dengan ilmu agama dan fikih tidak akan mengetahui tabiat dan rahasianya kecuali dengan jihad.

Kedelapan,  jihad mengajariku bahwa negara Islam tidak mungkin ditegakkan kecuali melalui jihad rakyat dalam jangka panjang. Dari sana akan tampak kelebihan dan perbedaan masing-masing.

Kesembilan,  jihad mengajariku bahwa negara Islam yang tegak karena jihad tidak mungkin berdiri dengan kekuatan militer  sebab semua manusia membawa senjata dan takdir akan muncul melalui kerja mereka dan kesabaran mereka serta pengorbanan mereka. Juga karena mencapai pemerintahan tidak akan terjadi dalam kegelapan melalui konspirasi namun ia terang seperti bawah matahari. Kepemimpinan akan diberikan kepada mereka yang paling kuat, paling bersih, paling sederhana hidupnya, dan paling jujur. Kepemimpinan ini diberikan sebagai harga mahal sebagai pengakuan negara sehingga tidak boleh teledor.

Kesepuluh,  jihad mengajariku bahwa jihad adalah sarana terbaik untuk membina diri manusia. Marabahaya akan membersihkan fitrah manusia dan hanya kembali kepada Allah, perang akan membuka hari untuk menghubungkan dengan Allah. Di tengah panas dan pahitnya ujian inilah jiwa menjadi lembut. Seperti besi yang lembek oleh panas api. Sehingga tidak mudah lalai karena setiap saat dekat dengan kematian.

Kesebelas,  saya belajar dari jihad bahwa ia adalah faktor terbesar untuk menyatukan umat Islam.
Kedua belas,  saya belajar dari jihad bahwa kepemimpinan dan tanggung jawab harus diserahkan kepada orang yang ikhlas dan jujur. Merekalah jaminan keamanan, dan penjaga nyawa manusia, harta dan kehormatannya.

Ketiga belas,  saya paham dari jihad bahwa pendidikan (tarbiyah) menjadi penting dan sangat mendesak sebelum memanggul senjata. Jika tidak maka orang yang membawa senjata tanpa tarbiyah akan menjadi mafia senjata yang justru mengancam keamanan manusia.

Keempat belas,  saya belajar dari jihad bahwa kesabaran itu tiangnya jihad itu  sendiri. Bahkan ujung tombak agama ini. Tidak ada jihad tanpa kesabaran. Anda bisa belajar ini dari mereka yang 10 tahun berjihad dengan kelaparan, sakit dan pakaian apa adanya.

Kelima belas, jihad mengajariku bahwa pelangi besar yang meliputi negara-negara besar seperti Amerika dan Rusia tidak sepadan sama sekali dengan kekuatan Allah Tuhan semesta alam dan pertolongan-Nya kepada orang beriman.

Itulah di antara nasihat-nasihat dari Syaikh Abdullah Azzam bagaimana ibadah jihad fi Sabilillah ini dapat membentuk karakter seorang manusia dalam kehidupannya. Karena itulah,  ajarkanlah ibadah ini kepada setiap keluarga kita, kepada anak-anak kita supaya kelak menjadi seorang yang berjiwa mujahid. Wallahu’alam. [Dany]
Share on Google Plus

Tentang Al Inshof

Al Inshof merupakan situs yang mencoba memberi gambaran kepada pembaca tentang Islam dan informasi-informasi terkait dunia Islam. Semoga apa yang ada di Al Inshof bermanfaat bagi Anda semua. Kritik dan saran dapat Anda emailkan ke buletinalinshof@gmail.com