Jalur 'ABG', Cara Soeharto Mengatur Menteri

JAKARTA- Presiden RI kedua Soeharto mengatakan Susilo Bambang Yudhoyono adalah sosok yang cerdas, sayang menterinya tidak nyambung. Hal itu membuat kinerja pemerintahan menjadi terganggu.

Berbeda pada saat Soeharto menduduki posisi kepala negara. Ketika itu semua menteri berada di bawah kendalinya. Sehingga fragmentasi politik para menteri di masa kepemimpinannya bukan menjadi penghalang stabilitas pemerintahannya.
“Soeharto itu kepemimpinannya sentralistik, dia di puncak otoritas politik dengan mengendalikan hampir seluruh kekuatan potensial di masyarakat. Menteri itu hanya mengenal monoloyalitas pada Soeharto,” kata pengamat politik Gun Gun heryanto saat dihubungi okezone, Minggu (20/11/2011).

Gun Gun mengatakan, banyak faktor yang membuat seorang menteri di era Soeharto menjadi sangat loyal. “Pertama karena Soeharto sangat hegemonik dengan anatomi kekuasaan yang mengacu ke jalur ABG (ABRI, Birokrasi, Golkar). Kedua, parpol lain hanya ornamen demokrasi. Seluruh penentuan menteri sangat bergantung pada 'need and want'-nya Soeharto,’ katanya.

Sementara itu, di zaman SBY, Gun Gun menilai fragmentasi kekuatan sangat beragam.  “Kabinet merupakan konfigurasi dari kekuatan parpol yang berinvestasi di kekuasaan. Koalisi besar dalam pemerintahan, menyebabkan sebaran menteri tidak selalu sama dengan yang diinginkan SBY atau tidak selalu sejalan dengan ritme kerja dan orientasi capaian SBY,” katanya.

Bahkan, di masa kepemimpinan SBY ini ada kecenderungan, adanya loyalitas ganda dalam diri para menteri. “Loyal pada presiden menjadi nomor dua setelah loyalitas pada partai. Para menteri itu dari parpol lantas punya conflict of interest dengan jabatannya. Sehinga, praktiknya pemerintahan paling bagus hanya sampai pada capaian-capaian minimum atau bahkan grade di bawahnya,” katanya.

Pernyataan Soeharto tentang menteri SBY terungkap dalam buku berjudul ‘Pak Harto the Untold Stories’ edisi ke-2. Salah satu mantan ajudan Soeharto, Mayjen (Purn) Issantoso yang mengaku pernah berbincang-bincang waktu Soeharto masih hidup. Menurut Issantoso, Pak Harto pernah menyampaikan pandangannya soal menteri-menteri SBY-Jusuf Kalla waktu itu.

Dia bercerita bagaimana Indonesia dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat ini. Menurut Pak Harto, SBY adalah orang pintar, hanya saja tidak didukung oleh para menteri-menterinya yang cakap.

“Waktu beliau masih hidup, saya bertanya kepada Pak Harto, bagaimana negeri kita ini sekarang, kok jadi seperti ini sekarang. Pak Harto bilang Bambang itu pinter, tapi menterinya tidak nyambung," ujar Mayjen (Purn) Issantoso.
Share on Google Plus

About Buletin Alinshof