Derita Karena Dunia


Alloh menurunkan Adam dan Hawa ke dunia ini bukan karena Adam akan diberi nikmat yang lebih baik dari sebelumnya. Tetapi justru Adam diturunkan ke dunia ini karena saru dosa yang telah diperbuatnya. Maknanya, sebenarnya dunia ini bukanlah tempat untuk bersenang-senang tetapi dunia adalah tempat menjalani ujian. Karenanya, sangatlah keliru orang yang hidup di dunia ini hanya utuk bersenang-senang.
Memang Alloh telah menghiasi dunia ini sehingga nampak indah dan menyenangkan yang karenanya terkadang orang lupa akan hakikat hidup di dunia yang sebenarnya, yaitu menjalani ujian. Bahkan ada orang yang malah menjadikan dunia ini sebagai tempat untuk bersenang-senang. Hidup sekali mengapa harus dibuah susah, begitu katanya.

Tapi ada jaminan dari Alloh bahwa siapa saja yang menginginkan kehidupan dunia dengan segala perhiasannya pasti ia akan mendapatkannya. Tetapi Alloh juga memberikan peringatan kepada orang yang berbuat demikian bahwa suatu saat apa yang telah ia usahakan di dunia itu tidak akan ada manfaatnya sama sekali bagi dirinya manakala memang tidak ada sebagian dari apa yang telah ia dapatkan di dunia ini tidak ia investasikan untuk akhiratnya.

Haruslah disadari bahwa sekali dunia adalah ujian dan termasuk ujian itu adalah keinginan manusia untuk mendapatkan dunia yang menyenangkan. Padahal ada derita bagi siapa saja yang hidupnya hanya terarah kepada dunia. Minimal ada 3 derita yang akan dialami sesorang pecinta dunia.

Kepedihan Dalam Usahanya mendapatkan Apa yang diingininya

Tentu kita masih ingat hiruk pikuk pemilu. Kita juga bisa merasakan betapa beratnya usaha yang mereka lakukan untuk mendapatkan kekuasaan. Saling cemooh dan mencela. Mendakwa dan menggunggat bahkan menyiksa dan membunuh saingan. Ini tentu (kalau mereka jujur) bentuk siksaan tersendiri. Ingat pula orang yang menginginkan menjadi artis sehingga ia harus show kesana sini demi mendapatkan kepopuleran, dan sebagainya. Pokoknya usaha seseorang dalam mencapai dunia sungguh sebenarnya merupakan bentuk siksaan tersendiri bagi dirinya. Baik siksaan pisik maupun psikis.

Takutnya ia kehilangan dari Apa yang telah mereka peroleh.

Ingatkah kisah fir'aun dan Musa? Konon di jaman nabi musa sebelum lahir fir'aun membuat satu perja (peraturan kerajaan), mungkin sekarang di sebut undang-undang, yang berisi perintah membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Dan masih ingatkah Anda apa penyebab munculnya undang-undang itu? Betul, karena menurut seorang ahli takwil mimpi pada saat itu bahwa kerajaanya akan dimusnahkan atau dia akan dibunuh oleh seorang laki-laki dari negerinya. Akhirnya, munscullah undang-undang itu.

Apa yang bisa diambil dari peristiwa itu? Yah, Seorang penguasa yang takut kehilangan kekuasaannya, takut dilengser akhirnya dia membuat undang-udang yang mengharuskan para bawahannya membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir karena sang raja was-was jangan-jangan bayi itulah yang nantinya akan membunuh dan menghancurkan kekuasaannya. Sangat dasyat. Ini adalah gambaran dari ketakutannya kehilangan apa yang telah ia dapatkan dari dunia.

Derita saat ia benar-benar kehilangan dunia yang sudah didapatkannya.

 Anda tentu sering mendengar kasus bunuh diri gara-gara kehilangan pacar. Atau orang yang tiba-tiba gila karena kehilangan dunia yang telah didapatkannya. Apa yang dapat anda petik darinya.

Itulah pecinta dunia. Kelihatannya ia mendapatkan kesenangan tetapi ternyata derita dasyat yang ia alami.

Lalu bagaimana seharusnya bersikap agar dunia tidak membuat derita. Satu kata kunci yang barangkali bisa kita renungkan. Genggamlah dunia dengan tanganmu tetapi jangan dengan hatimu. Inilah yang menentramkan kita. Kalau kita mampu bersikap demikian niscaya segala persoalan yang berkaitan dengan dunia tidak akan sampai menyebabkan derita hatinya. Dan bagusnya, kalau kita senantiasa ingat bahwa kehidupan dunia ibarat seorang musafir yang akan kembali ke tempat asalnya yaitu akhirat. Baik buruknya kehidupan di akhirat sangat tergatung benih apa yang telah kita tanam di dunia. Tentu semuanya harus berpijak pada niatan ikhlas tatkala beramal dan selalu Alloh dan RasulNya yang selalu kita jadikan pedoman dalam beramal.
Share on Google Plus

About Buletin Alinshof