Bagaimana Mendidik Anak?

بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya. Dan kami berlindung diri kepada Allah dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal kami. Barangsiapa diberi petunjuk Allah, maka tak ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa Dia sesatkan, maka tak ada yang bisa menunjukinya. Dan Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan yang tak terhingga banyaknya kepadanya, kepada keluarganya serta para sahabatnya.
Amma ba`du: Sesungguhnya banyak orang-orang Islam yang dikarenakan situasi penindasan, teror dan kezhaliman yang dialaminya di negeri tumpah darahnya sendiri --oleh para penguasa Thaghut yang mencengkeram peri kehidupan ummat dan nasib mereka,
dan memaksakan pada rakyat mereka kebijakan politik mereka yang batil dan idiologi-idiologi mereka yang kafir lagi tak bermoral dengan tangan besi dan kekerasan-- terpaksalah mereka berhijrah dan mencari tempat lain. Suatu tempat di mana mereka bisa mendapatkan keamanan dalam batas ukuran relatif bagi diri mereka, keluarga mereka dan anak-anak mereka...
    Dikarenakan negeri-negeri Barat menjanjikan di dalamnya keamanan dalam batas relatif tersebut ... maka negeri-negeri tadi menjadi tujuan banyak orang-orang Islam yang tertindas agama dan penghidupan mereka  ... lantas merekapun berhijrah ke sana membawa serta anak-anak dan istri-istri mereka, untuk menghadapi tantangan baru dalam bentuk lain, yang tak mereka sadari ataupun tak mereka bayangkan sebelumnya. Tantangan tersebut berbeda bentuknya dengan tantangan-tantangan yang dahulu mereka hadapi di negerinya...!
    Tantangan dari sisi "Tazyiinul Baathil wat targhiib bihi" (penampakan baik hal yang batil dan pemikatan terhadapnya) ... tantangan dari sisi ekspose iklan-iklan yang syarat dengan gambar-gambar mesum, cabul dan bejat secara besar-besaran ... tantangan dari sisi tekanan kurikulum-kurikulum pendidikan yang menyesatkan lagi rusak, yang didapat oleh putra-putra Islam di sekolah-sekolah mereka ... tantangan-tantangan dari sisi menyebar-luasnya banyak etika-etika moral yang berjalan di negeri-negeri Barat, yang bertentangan dengan etika-etika moral dan ajaran-ajaran Islam yang lurus ..
    Di bawah atmosfer kehidupan yang menyimpang lagi mengejutkan banyak orang-orang Islam (yang berhijrah ke negeri Barat) ini, maka banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang masih memiliki ghirah terhadap agama dan putra-putranya saling bertanya-tanya: Bagaimana kita mendidik putra-putra kita dengan tarbiyah Islam yang benar. Bagaimana kita menjaga akidah mereka dan budaya asli mereka dari ancaman kepunahan...bagaimana kita menghubungkan mereka dengan cita-cita ummat mereka yang tengah dipadamkan dan digegeroti oleh musuh-musuh dari segenap penjuru dan tempat?!!
    Pertanyaan-pertanyaan ini dan pertanyaan-pertanyaan serupa sering menggoda benak pikiran orang-orang tua muslim yang masih memiliki ghirah terhadap agama mereka, membikin tak jenak tidur mereka dan membuat gelisah hidup mereka...mereka benar, dalam semua hal itu, karena anak merupakan belahan jiwa, penyejuk mata dan harapan ummat. Mereka adalah amanah yang terletak di tangan mereka,  dan kelak mereka akan dimintai pertanggung jawaban atasnya pada hari kiamat: Apakah mereka mengabaikannya ataukah menjaganya dan memberikan pada mereka hak-haknya.
    Karena itu, saya akan berusaha dengan sungguh-sungguh --insya Allah-- untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penting di atas pada lembar-lembar halaman berikut, dengan sedikit lebih detail dan terperinci. Berharap, kiranya Allah Ta`ala berkenan memberikan petunjuk para hamba dengannya serta mewujudkan maksud tujuan daripadanya...sesungguhnya Allah Ta`ala Maha Mendengar, Maha Dekat lagi Maha mengabulkan permintaan.
    Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, mungkin ada pada poin-poin berikut:
Pertama: Rasa Tanggung jawab terhadap anak.
    Yang saya maksud dengan "Rasa tanggung jawab terhadap anak" adalah, bahwa para bapak harus memiliki lebih dahulu perasaan kuat akan tanggung jawab diri mereka terhadap para putra-putrinya. Rasa tanggung jawab yang mendorong mereka untuk senantiasa mengawasi dan memperhatikan para putra-putri mereka sampai pada derajat risau dan khawatir. Sebab perasaan ini bisa dikata sebagai syarat bagi solusi atau teraphi apapun. Sebab tanpanya, tiada guna solusi-solusi yang lain. 
    Perasaan bahwa anak-anak tersebut adalah amanah yang tergantung di leher para bapak, dan mereka akan ditanya tentang anak-anak mereka kelak di hadapan Allah Ta`ala: Apakah mereka sudah memenuhi apa-apa yang menjadi hak mereka, ataukah mereka melalaikan, mengabaikan dan menyia-nyiakannya...?
Rasulullah Saw. bersabda:
" كُلُّكم راعٍ وكلكم مسؤولٌ عن رعيته؛ الإمام راعٍ ومسؤول عن رعيته، والرجلُ راعٍ في أهله ومسؤول عن رعيته، والمرأة راعية في بيت زوجها ومسؤولةٌ عن رعيتها، والخادمُ راعٍ في مالِ سيده ومسؤول عن رعيته، فكلكُم راعٍ ومسؤولٌ عن رعيته " متفق عليه . 
"Masing-masing kalian adalah gembala (penjaga), dan masing-masing kalian akan ditanya tentang gembalaan (apa yang dijaga)nya. Suami adalah penjaga di tengah keluarganya, dan dia akan ditanya tentang anggota keluarganya. Istri adalah penjaga rumah suaminya, dan dia akan ditanya tentang isi rumahnya. Pembantu adalah penjaga harta milik tuannya, dan dia akan ditanya tentang harta yang dijaganya. Masing-masing kalian adalah penjaga, dan akan ditanya tentang apa yang dijaganya." Muttafaqqun `alaih.
    Di antara wujud rasa tanggung jawab orang tua terhadap anaknya adalah memberikan kepada mereka hak-hak mereka tanpa mengurangi ataupun melampaui batas, dan tidak pula mengalihkan perhatian mereka kepada hak-hak yang lain... yang mana setiap pemilik hak diberikan haknya secara penuh dan sempurna.
    Maka tidaklah adil, tidak bijak dan tidak perwira apabila seseorang sibuk membangun rumah orang lain, sementara rumahnya sendiri hancur digerogoti wabah dan penyakit, material dan spiritual..!
Rasulullah Saw.
" كفى بالمرءِ إثماً أن يُضيع من يَقوتَ "
"Cukuplah seseorang dikatakan berdosa bila dia mengabaikan orang harus dia beri makan"
Yakni istri dan anak-anak yang harus dinafkahinya.
    Pengabaian mereka dari sisi keagamaan, akhlak dan tarbiyah merupakan pengabaian yang punya dampak pengaruh --di dunia dan akherat-- jauh lebih besar daripada pengabaian mereka dari sisi kehidupan materiil.. !
Rasulullah Saw. bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah sebaik-baik kalian terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku."
Dan kebaikan yang datang dalam hadits tersebut di sini ialah kebaikan yang mencakup semua aspek: baik materiil maupun spirituil. Yang kami maksud dengan spirituil adalah aspek keimanan dan akhlak, serta aspek pengajaran yang berguna...hadits tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang terdapat pada dirinya kebaikan, maka kebaikannya adalah hal pertama yang seharusnya dia nampakkan kepada istri dan anak-anaknya. Apabila kebaikannya jauh dari istri dan anaknya, maka sudah sepantasnyalah bila kebaikannya juga jauh dari ummatnya dan jauh dari yang lain. Dan jika dia mengatakan yang sebaliknya, maka dia --menurut petunjuk hadits tersebut-- termasuk di antara para pendusta..!   
    Jadi siapa yang tidak berusaha ataupun bekerja untuk mendirikan Daulah Islam di tengah keluarga dan rumahnya, maka dia tidak jujur dalam upayanya mendirikan Daulah Islam di tengah masyarakat dan ummatnya.
Rasulullah Saw. bersabda:
من كتم علماً عن أهلهِ، أُلجمَ يومَ القيامة لجاماً من نار
"Siapa yang menyembunyikan satu ilmu dari keluarganya, maka kelak pada hari kiamat dia akan diberi kekang dengan kekang api "
Allah Ta`ala berfirman:
يا أيها الذين آمنوا قُوا أنفسَكم وأهليكم ناراً
"Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka."
`Ali ra. berkata menafsirkan ayat di atas:
(Ajarkan kebaikan pada keluarga kalian)
    Tapi semua itu tidak akan jadi kenyataan kecuali setelah orang tua memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarga dan putra-putrinya.
    Inilah poin jawaban yang pertama atas pertanyaan penting yang datang di awal pembahasan ini...untuk kita beralih setelahnya --dengan idzin Allah-- kepada poin jawaban yang kedua.

Kedua: Malakukan kontrol dan pengawasan terhadap sumber-sumber penerimaan di kalangan para putra
    Melalui tekanan yang bercokol di dalam dada mereka, yang dipraktekkan oleh masyarakat jahiliyah, dalam lingkungan di mana mereka hidup di dalamnya, maka mereka menghadapi banyak sumber penerimaan yang telah tercemar: Di antaranya adalah nilai-nilai rusak, pemikiran-pemikiran usang lagi atheis dan perilaku-perilaku buruk yang mungkin mereka dapatkan dari sekolah-sekolah sekuler yang sesat (menyimpang dari ajaran Islam) ... jadi sekolah-sekolah yang sesat tadi --dan ia adalah sekolah-sekolah yang saat ini tengah menguasai dan mendominasi  -- padanyalah digantungkan kepercayaan terbesar di dalam merusak generasi Islam dan menggiring mereka mengikut skenario-skenario dan plot-plot para biang kemusyrikan dan kekafiran...!
    Di antaranya adalah adat kebiasaan, perilaku dan kata-kata jorok yang mereka peroleh dari teman-teman jahat --di sekolah dan tempat-tempat yang lain--...!
    Di antaranya adalah nilai-nilai dan pemikiran-pemikiran batil yang mereka terima melalui bacaan-bacaan pelajaran sekolah, atau buku-buku dan buletin-buletin yang jatuh ke tangan mereka, atau majalah-majalah yang dialirkan semuanya ke dalam bilik-bilik kebatilan dan perusak, kemesuman dan kejahatan, yang menyebarkan  syubhat-syubhat serta membangkitkan nafsu syahwat...!
    Di antaranya juga pengawasan terhadap apa yang mungkin mereka peroleh dari mas media, khususnya mas media visual...karena banyak paket-paket program yang disiarkan jaringan televisi tujuannya adalah melayani kepentingan thaghut, mempropagandakan ketuhanannya dan penyembahannya sebagai tuhan selain Allah Ta`ala..!
    Televisi adalah media para penguasa thaghut dan poros kejahatan untuk menyerang rumah-rumah orang Islam dan menyerang akhlak serta nilai-nilai keislaman mereka.. jika persoalannya adalah demikian, maka bukanlah suatu kebijaksanaan ataupun keselamatan memberikan idzin kepada putra-putra kita untuk duduk selama berjam-jam memegang "Remote Kontrol", berpindah-pindah dari satu saluran ke saluran yang lain menikmati siaran yang menayangkan berbagai macam kebejatan, kecabulan dan guyonan mesum yang bertujuan merusak moral, agama, keutamaan dan nilai-nilai keutamaan...!
    Bukan suatu keselamatan, mengidzinkan kaum musyrikin penyembah hawa nafsu dan perbuatan tak bermoral untuk menyebarkan paket-paket siaran mereka yang beracun untuk ditonton oleh anak-anak kita dengan penuh keasyikan tanpa mereka menyadari bahayanya dan racunnya yang amat berbisa..!
    Demikian pula internet dan mas media-mas media yang lain, harus pula diawasi dan diarahkan penggunaannya, agar anak-anak bisa mengambil sisi-sisi positipnya dan meninggalkan sisi-sisi negatipnya yang merusak..!
    Saya katakan: "Kita harus mengawasi sumber-sumber penerimaan itu semua, dan mengawasi apa yang diperoleh anak-anak kita --berupa makna-makna, nilai-nilai dan perilaku-perilaku yang batil lagi rusak-- melaluinya, dan mengatasinya secara dini, sebelum pengaruh buruk tersebut melekat kuat di dalam jiwa, tabi`at dan perilaku anak, sehingga sukar saat itu untuk mengatasi dan memecahkannya..!
    Sesungguhnya mengabaikan anak dari aspek yang satu ini bisa mengakibatkan sang anak banyak melakukan hal-hal yang jahat, meski bukan semua kejahatan. Si orang tua baru akan menyadari pada saat sang anak tumbuh dewasa dan ia mengejutkannya dengan segenap keberaniannya, dengan seabrek persepsi-persepsi dan konsepsi-konsepsi batil yang telah bertumpuk-tumpuk dalam benaknya sejak dia kecil dan seiring dengan perjalanan zaman, sehingga --konsepsi-konsepsi batil ini-- membentuk kepribadiannya, pemikirannya dan persepsinya tentang hidup dan kehidupan...dia akan mempertahankannya dengan penuh berani, tanpa rasa segan ataupun malu-malu...!!
    Maka saat itu sang ayah dibuat shock, karena ia ada di hadapan seorang pribadi yang berbeda jauh dengan kepribadian bocah yang polos lagi patuh, yang dahulu dapat dipimpinnya menurut keinginannya, dan dapat dia bungkam mulutnya hanya dengan satu patah kata..!!
    Saat itulah datang sang ayah menanyakan kepada orang-orang pandai tentang problemanya dengan anaknya, bagaimana dia harus mempergaulinya atau bagaimana cara mengatasinya..?!
    Saya katakan padanya: "Anda telah ketinggalan kereta...anda telah terlambat memberikan obat pada anak anda, sehingga penyakit tersebut sukar anda sembuhkan, dan sukar pula bagi para dokter untuk menyembuhkan penyakitnya yang sudah kronis...kecuali siapa yang Allah berkehendak memberikan petunjuk dan kesembuhan padanya. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
    Karena itu --supaya tidak terjadi hal itu, tidak timbul penyesalan, dan kata penyesalan sudah terlambat-- kami menasehati para bapak agar mereka memotivasi putra-putra mereka untuk menceritakan kepada mereka tentang apa saja yang mereka saksikan dan mereka dapatkan, dari konsepsi-konsepsi dan nilai-nilai yang datang dari sumber-sumber penerimaan yang telah disebutkan di muka. Dan bersabar terhadap mereka --tanpa menggertak atau menakut-nakuti anak dengan kata celaan tatkala mendengar apa yang ia ceritakan-- dan terhadap penuturan mereka. Kemudian dia menyaring dengan cara yang bijak dan sederhana, sesuai dengan tingkatan berpikir sang anak, atas apa yang didapat sang anak hari itu juga tanpa menunda-nundanya kepada hari esok. Lalu dia membuang pandangan-pandangan salah pada diri anaknya, dan menguatkan pandangan-pandangan yang benar lagi bermanfaat yang ada padanya.
    Seorang bapak haruslah bisa memaklumi pertanyaan-pertanyaan anak mereka, seperti perkataan mereka: Mengapa Allah menciptakan kita...siapa yang menciptakan Allah...kenapa ini halal dan itu haram.. dan bahwa `Isa As adalah putra Allah --sebagaimana yang dia dengar dari teman-temannya di sekolah-sekolah-- bahwasanya `Isa As disalib... bahwasanya Paus Noil (Sinterklas) dapat mendatangkan manisan dan hal-hal yang menyenangkan anak... serta pertanyaan-pertanyaan dan syubhat-syubhat lain disebabkan karena pikiran sang anak telah terkontaminasi oleh lingkungan budaya sesat yang mengelilinginya!!
    Seorang bapak harus --tanpa disertai kemarahan atau sikap emosi, yang boleh jadi bisa membuat anak segan untuk mengajukan pertanyaan yang lain kepada bapaknya -- bersabar menyikapi berbagai pertanyaan anak mereka dan menjawabnya dengan cara yang benar, mudah dan sederhana..
    Dan siapa yang tak mampu melakukan itu, maka tak mengapa atasnya minta pertolongan kepada saudara-saudaranya yang memiliki pengetahuan dan pengalaman.
   
KETIGA: MENGARAHKAN ANAK KEPADA SUMBER-SUMBER PENERIMAAN YANG BENAR

     Tak cukup hanya mengawasi sumber-sumber penerimaan yang didapat oleh anak anak kita, dan berhenti saat mengatasi nilai-nilai rusak yang mereka dapatkan dari sumber-sumber tersebut...Itu saja tak cukup. Kita harus mengarahkan mereka kepada sumber-sumber penerimaan yang bermanfaat dan membangun. Mengarahkan mereka kepada sisi yang mereka ambil, di antaranya adalah nilai-nilai, prinsip-prinsip dan hukum-hukum...
Yang saya maksud dengan sisi ini adalah: Al Kitab dan As Sunnah yang mengandung peri kehidupan Nabi Saw...baik perkataan dan perbuatan...yang mencakup kebaikan dunia dan akherat serta kebahagiaan di dunia dan di akherat..
Mengarahkan mereka kepada ilmu yang bermanfaat, yang mengambil hujjahnya dari Al Kitab dan As Sunnah mengikuti pemahaman Salafush-shaleh.
    Nabi Saw. tidak meninggalkan suatu kebaikan yang bisa mendekatkan kepada Allah dan surga melainkan dia telah menerangkannya kepada ummatnya, sebagaimana beliau tidak meninggalkan suatu keburukan yang bisa menjauhkan dari Allah dan mendekatkan kepada neraka melainkan dia telah menerangkannya kepada ummatnya dan melarang mereka daripadanya. Sebagaimana dalam hadits:
:" إنه ليس شيءٌ يقربكم إلى الجنة إلا وقد أمرتُكم به، وليس شيءٌ يقربكم إلى النار إلا وقد نهيتكم عنه "
"Sesungguhnya tiada sesuatu yang bisa mendekatkan kalian kepada surga kecuali aku telah memerintahkan kalian dengannya, dan tiada sesuatu yang bisa mendekatkan kalian kepada neraka, kecuali aku telah melarang kalian daripadanya."
    Jika persoalannya adalah demikian, maka sia-sia dan sesatlah jika kita mencari kebaikan dan petunjuk kepada selain misykat (lentera) Nabi Saw. Kita pergi untuk mencari pinjaman dan mengemis bantuan kepada para pendosa penghisap darah, sebelum kita merujuk kepada stok kekayaan kita yang amat besar lagi melimpah dengan segala kebaikan, yang membuat kita cukup dan tidak perlu lagi mengulurkan tangan kepada orang lain untuk mengemis ampas-ampas pemikiran dan prinsip-prinsip yang rendah dari mereka...!
    Dahulu Nabi Saw. benar-benar menjaga aspek yang satu ini terhadap para sahabatnya dengan sepenuh penjagaan, agar dari sebagian mereka tampil sebagai generasi unik yang pernah ada pada level tingkatan agama ini...yakni pada level tanggung jawab besar yang tengah menunggu-nunggu mereka... 
    Tatkala `Umar ra datang membawa lembaran-lembaran Taurat, dan ia hendak membacakannya pada Nabi Saw...maka Nabi Saw. marah bukan kepalang, yang mendorong `Umar terus berkata: "Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya...aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya...aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya...aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai Rasulku" ..sampai reda kemarahan Nabi Saw. Lantas beliau berkata: "Demi Dzat yang mana jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya Musa As hidup, kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku, pasti kalian akan sesat. Sesungguhnya kalian adalah bagianku di antara ummat-ummat yang ada, dan aku adalah bagian kalian dari Nabi-nabi yang ada.
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Sungguh, demi Allah, sekiranya Musa hidup di tengah-tengah kalian, tidak halal baginya kecuali dia harus mengikuti aku."
    Ini adalah persoalan yang betul-betul sangat penting...persoalan dari siapa nilai-nilai, konsep-konsep dan prinsip-prinsip itu diambil...persoalan yang berhubungan dengan masalah  Itbaa` wa Talaggi "Pengikutan dan penerimaan", dan ia adalah persoalan yang berkaitan dengan akidah dan tauhid serta keselamatan agama...persoalan yang tak bisa tangani dengan cara "Bagaimana keadaan kaum" atau dengan "Isyarat", di mana persoalan tersebut harus dijelaskan dan dispesifikkan...karena itu, Nabi Saw. bersikap keras terhadap `Umar ra., agar tampil daripadanya seorang panglima besar tiada dua, yang sejarah belum mengenal --sesudah Abu bakar ra--bandingan ataupun tandingannya.
    Kendati `Umar itu sendiri adalah orang yang amat ditakuti oleh syetan manusia dan jin, sampai-sampai Nabi Saw. mengatakan tentang diri `Umar dengan perkataannya yang amat masyhur: "Tiadalah `Umar berjalan di satu gang, melainkan syetan akan berjalan di gang yang lain."  Beliau mengatakan pula tentangnya: : Sekiranya ada Nabi sesudahku, tentu dia adalah `Umar."
    Tapi semua itu tidak mencegah Nabi Saw. untuk melarang `Umar sibuk menekuni bacaan lembar-lembar Taurat sebelum dia meminum mata air petunjuk Nabi Saw. sampai batas puas dan kenyang..!!
    Dengan tarbiyah nabawi yang agung ini, generasi sahabat berbeda dengan generasi-generasi Islam yang datang sesudahnya...khususnya generasi-generasi belakangan, yang mana kita adalah bagian daripadanya... di mana kamu lihat kita orang sibuk menekuni ilmu-ilmu dan beraneka ragam bacaan, yang tidak diketahui kebaikannya di antara keburukannya, sebelum kita minum hingga puas atau mengetahui apa yang datang dalam Al Kitab dan As Sunnah!!
    Kita membaca ratusan buku tulisan Fulan dan Polan, sebelum kita membaca --sekalipun-- Kitabullah Ta`ala, memikirkan makna dan maksudnya..!!
    Putra-putra kita berpaling pada bacaan bacaan yang datang dari manusia-manusia rendah --dengan mengatas namakan kebebasan, pentingnya melakukan penelitian dan penemuan-- sebelum mereka membaca Shahih Al Bukhari atau Shahih Muslim...!
    Kemudian setelah itu, kita bertanya-tanya mengenai sebab-sebab kekalahan moral dan intelektual yang dialami putra-putra kita..?!
    Kita bertanya-tanya mengenai  berbagai penyakit dan berbagai penyelewengan moral dan intelektual yang menimpa pemahaman dan benak pikiran mereka...seolah-olah kita tidak tahu bahwa kita sendirilah yang menjadi sebab semua itu, ketika kita memberikan kemudahan kepada kita untuk mengetahui segala sesuatu...kecuali mengetahui Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya...biografi sahabat, para pahlawan ummat ini, pahlawan mereka hingga hari kiamat..!!
    Perumpamaan kita dan perumpamaan generasi Islam yang pertama dari golongan sahabat adalah: Bahwa para sahabat dahulu meminum hingga kenyang dari mata air jernih yang paling atas. Mereka minum air yang suci dan bersih dari noda serta kotoran...mereka selamat dari gangguan, penyakit dan pencemaran...maka dari itu, mereka beda dengan generasi dan bangsa-bangsa sesudah mereka.
    Sementara perumpamaan kita dan perumpamaan generasi-generasi kita yang telah tercemar pemikirannya dan mengalami kekalahan akidahnya...adalah seperti orang yang minum dari aliran sungai yang paling akhir, setelah aliran tersebut diminum oleh binatang ternak, hewan melata, kuman dan penyakit yang  berkubang di dalamnya...lalu sampailah pada mereka aliran air yang penuh dengan limbah, kuman dan kotoran...maka mereka terserang penyakit, bahkan berbagai penyakit!!
    Inilah perumpamaan kita dan perumpamaan mereka...kemudian setelah itu datang orang yang mengatakan dengan lancang la9i tanpa malu-malu: "Kaum Khalaf (orang-orang Islam generasi datan9 kemudian) lebih paham dan lebih bijak daripada kaum Salaf (orang-orang Islam generasi pertama).. "Alangkah jelek perkataan yang keluar dari mulut mereka, tiadalah mereka berkata kecuali dusta."!!
    Semoga Allah merahmati Sayyid Guthb, yang mengatakan: "Saya melihat kita ini mengambil sistem hidup kita, hukum-hukum kita, undang-undang kita dari sumber-sumber yang datang dari luar...saya melihat kita mendapatkan norma-norma perilaku, etika dan moral kita dari genangan rawa-rawa yang menjadi muara akhir peradaban materi yang kosong dari spirit agama...agama apapun...kemudian kita masih mengaku --demi Allah-- kita adalah orang-orang Islam!  Ini adalah pengakuan yang dosanya lebih berat daripada dosa Kufrun Bawwah (kekafiran yang nyata). Kita mempersaksikan Islam dengan kegagalan dan pencemaran, di mana tidak mempersaksikan denan kesaksian berdosa seperti itu orang-orang yang tidak mengaku seperti kita bahwa mereka adalah orang-orang Islam!!  Selesai.

   
   
Keempat: Menjaga penyampaian prioritas saat mengajar atau mendikte anak:

 Di mana dalam proses pengajaran yang telah disebutkan di muka, kita harus senantiasa menjaga prioritas, yang paling penting baru kemudian yang penting...dengan itu kami hendak menunjukkan pentingnya menanamkan pengajaran akidah dan tauhid dalam jiwa anak sejak usia dini, dan memberikan prioritas tersebut ketika terjadi benturan kepentingan, yang harus diberikan dan disampaikan kepada anak. Adapun yang mendorong saya mengutarakan hal di atas adalah karena alasan-alasan sebagai berikut:
Di antaranya: Bahwa penyampaian tauhid dan pemprioritasannya..adalah manhaj para Nabi, kaum salafus shaleh dalam berdakwah kepada Allah Ta`ala, dan dalam mentarbiyah putra-putra serta generasi ummat.
    Maka camkan dan renungkan wasiat Luqman Al Hakim pada putranya saat ia menasehatinya, sebagaimana yang dituturkan oleh Al Qur`anul Karim kepada kita. Dan bagaimana dia memberi nasehat dan bimbingan pada putranya secara berurut menurut skala prioritas: "Hei anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu adalah benar-benar kezhaliman yang besar...hei anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) sebiji sawi, lalu dia ada di batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Maha halus lagi Maha Mengetahui...hei anakku dirikanlah shalat dan perintahlah (manusia) untuk mengerjakan yang ma`ruf dan cegahlah (mereka) dari mengerjakan yang munkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)...dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri...dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adala suara keledai."  Qs Luqman.
    Perhatikanlah urutan dalam pengarahan di atas, bagaimana Luqman mengawali nasehatnya kepada sang anak dengan penanaman akidah dan tauhid  .. لا تُشرك بالله , oleh karena syirik adalah  biang dibalik semua penyakit dan musibah...
    Kemudian bagaimana dia berbicara padanya --jauh dari methode Ahli Kalam dan keyakinan-keyakinan mereka-- tentang kebesaran ilmu Allah Ta`ala dan kekuasaan-Nya, dan tentang ilmu-Nya yang meliputi semua makhluk ciptaan; bahkan biji sawi --yang demikian amat kecil-- di batu atau di langit atau di bumi, maka sesungguhnya Allah Ta`ala meliputinya dengan ilmu-Nya dan sanggup mendatangkannya...Allahu Akbar!!
    Seakan-akan ia mengatakan pada putranya:  "Janganlah kamu mengira bahwa kamu dapat menyembunyikan diri dari pengamatan Allah Ta`ala, atau melepaskan diri dari kekuasaan-Nya jika kami hendak berbuat dosa atau maksiat...sesungguhnya Allah Ta`ala melihatmu...dan tak ada sesuatu yang bisa luput dari pandangan dan kekuasaan-Nya"!!
    Jika persoalannya adalah demikian, maka ini mendorongmu untuk tidak mendurhakai Allah dalam hal apapun...!!
    Luqman melarang putranya mengerjakan maksiat dan dosa...bukan dengan cara menakut-nakutinya dengan neraka dan siksaannya yang sangat pedih, tapi dengan cara menjelaskan tauhid dan menjelaskan keagungan Sang Khalik Swt. Cara ini lebih mengena dan lebih mencegah.
    Kemudian Luqman melanjutkan nasehatnya kepada sang putra dengan mengarahkan dan memerintahkan kepada rukun dan fardu terbesar sesuda tauhid, yakni   وأقم الصلاة  --Dirikanlah shalat!__ ...kenapa demikian...ole karena shalat, baik cepat atau lambat akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar         إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر 
    Shalat adalah faridhah satu-satunya yang mana Nabi Saw. mengidzinkan orang tua memukul anaknya --setelah menginjak usia 10 tahun bukan sebelumnya-- jika mereka lalai dalam menunaikannya, sebagaimana dalam hadits Shahih:
"Perintahlah anak-anak kalian shalat ketika mereka berumur 7 tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka"   Yakni dalam tidur.
    Kemudian setelah itu dia mengarahkannya untuk memikul amanat agama ini kepada yang lain.. dan mengarahkannya untuk berjihad dan bersabar dalam menanggung beban dan resiko dakwah kepada Allah.. perintahlah (manusia) untuk mengerjakan yang ma`ruf dan cegahlah (mereka) dari mengerjakan yang munkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpa kamu...penanaman didikan yang seperti ini akan membuat si anak memiliki perasaan bahwa dia adalah sesuatu yang besar --dan memang demikianlah keadaannya--, bahwa dia mengemban amanat --yang mana dia harus bergerak memikulnya-- padahal gunung-gunung yang kokoh menjulang tak mampu memikulnya...ini tak pelak lagi, menjadikan dia senantiasa memandang kepada pencapaian cita-cita yang tinggi dan tidak berpaling kepada hal-hal sepele dan perkara-perkara yang remeh. Sebagaimana dia mewarnai hidupnya dengan kesungguhan dan jauh dari sendau gurau dan kemewahan...dan ini sesuai dengan dakwah yang diperjuangkannya. Dalam hadits disebutkan:
"Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar kagum pada pemuda yang tak mengalami masa kanak-kanak."
    Kemudian Luqman menuntun anaknya kepada adab dan akhlak yang terpuji...yang dengan adab dan akhlak itu, dia naik ke level tingkatan agama yang agung ini, dan naik ke tingkatan sebagai da`i  yang menyeru manusia kepada Allah Ta`ala:
 ولا تصعر خدك للناس ولا تمشِ في الأرض مرحاً إن الله لا يُحب كلَّ مختالٍ فخور، واقصِد في مشيك واغضض من صوتكَ إنَّ أنكر الأصوات لصوتُ الحمير 
"dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri...dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adala suara keledai." 
    Jadi kebenaran yang  tidak dikelilingi dengan pagar adab dan akhlak nabawi yang luhur...maka akan berkurang efektifitasnya, dan akan lemah pengaruhnya di dalam jiwa orang lain, bahkan mungkin menjadi sebab yang memalingkan orang dari mengikut agama ini dan masuk ke dalamnya, sebagaimana firman Allah Ta`ala kepada Nabi-Nya Saw:
"Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (Qs Ali `Imran 159)
Akan tetapi Nabi kita Saw. diberi akhlak yang paling luhur dan paling mulia, yang tak diberikan kepada seorangpun di alam semesta, sebagaimana Allah Rabbul `Alamien memberikan pengakuan atas hal itu padanya:
 وإنك لعلى خُلُقٍ عظيم 
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung" (Qs Al Qalam 4)
    Tertib urutan dalam pengarahan dan pengajaran ini tidak disebut Al Qur`an secara sia-sia tanpa maksud tujuan yang dikehendaki Allah dari kita.
    Adapun hal yang menunjukkan wajibnya menjaga sisi tauhid dan memberikan padanya prioritas dalam pengajaran, adalah hadits Jundab bin `Abdullah, yang mengatakan: "Kami bersama Nabi Saw. saat usia kami masih muda belia. Kami mempelajari iman sebelum kami mempelajari Al Qur`an. Kemudian kami mempelajari Al Qur`an, sehingga bertambahlah keimanan kami karenanya."
    Inilah salah satu sebab di antara sebab-sebab yang mengharuskan kita memberikan tauhid sebagai prioritas..
    Di antara alasannya yang lain: Bahwa tauhid adalah syarat sahnya amal dan keta`atan; tidak diterima amalan atau keta`atan seseorang kecuali setelah dia menyempurnakan tauhid dan merealisir tauhid dalam dirinya dalam wujud keyakinan, perkataan dan amalan...dan di antara tuntutannya adalah hendaknya orang  tua bersungguh-sungguh di dalam mewujudkan tauhid dalam diri anak-anak mereka sebelum umur mereka menginjak usia di mana berjalan atas mereka pena (pencatat amal) dan hisab (perhitungan).
    Jadi problematikanya adalah manakala anak menjadi dewasa dan menginjak usia akil baligh, sementara dia tidak tahu terhadap tauhid, yang menjadi hak Allah atas diri hamba...tidak mengenal Tuhannya dengan Asma-asma dan sifat-sifat-Nya, dan tidak mengetahui pula hak Allah  atas dirinya dalam kehidupan...ini adalah musibah besar yang boleh jadi remeh bila seseorang tidak tahu sebagian hukum-hukum agama dan cabang-cabangnya...sebaliknya jika dia tidak tahu tentang tauhid!
    Inilah sebab rasional yang mendorong kami untuk mengingatkan para orang tua untuk memberikan tauhid sebagai prioritas pada saat mereka mendidik dan mengajar putra-putrinya.
    Di antara alasannya yang lain: Bahwa akidah tauhid akan memberikan benteng yang kuat pada diri seseorang untuk menangkal serangan budaya atau pemikiran apapun...sebagaimana ia akan memberikan padanya kekebalan terhadap pelarutan dalam tradisi kaum, perilaku dan moralitas mereka yang menyimpang; khususnya apabila akidah wala` dan barro` telah kokoh terpatri dalam dirinya. Akidah yang mendorongnya untuk mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, dan mendorongnya untuk menyatakan baik apa yang dinyatakan baik oleh Allah Ta`ala, dan menyatakan buruk semua apa yang diburukkan Allah Ta`ala dalam syari`at-Nya.
    Akidah wala` dan barro` yang mendorong pemiliknya untuk mengikuti syari`at ke manapun syari`at berputar...dalam damai dan perang, dalam mencinta dan membenci, dalam menyatakan baik dan menyatakan buruk...maka dia dengan akidah itu akan jadi seperti bintang di langit, telah mencapai keimanan yang paling tinggi dan paling  kuat...yang sulit dicapai atau larut dalam adat istiadat kaum dan moralitas mereka yang batil.
    Akan tetapi boleh jadi akan timbul pertanyaan: Bagaimana kita mengajarkan akidah dan tauhid pada putra-putri kita. Apakah ini memaksa kita untuk membacakan kepada mereka sebagian matan-matan akidah atau kitab-kitab yang berisikan akidah Islam yang benar...atau bagaimana?!
    Saya katakan: "Dalam tahap-tahap awal pengajaran tidak disyaratkan membacakan matan-matan akidah kepada anak , yang menjadikan mereka harus duduk berjam-jam lamanya mendengarkan bacaan tersebut, sementara banyak di antara mereka yang tak kuat melakukannya...banyak cara lain yang mudah namun cocok untuk kondisi anak, dan ia mudah bagi orang tua,  bisa dijadikan alternatip untuk menggantikan pembacaan kitab-kitab atau matan-matan yang panjang...di antara cara-cara dan sarana-sarana tersebut ialah:
1-- Memanfaatkan tempat-tempat mengaji yang memungkinkan hal tersebut: Adapun bentuknya adalah bapak bersama putra-putrinya, saat membaca bersama sebagian ayat-ayat Al Qur`an, memahami sebagian ayat-ayat Al Qur`an yang menjelaskan sebagian makna-makna tauhid, seperti pemahaman mereka --misalnya-- terhadap ayat-ayat Al Qur`an yang menunjukkan bahwa `Isa As adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, bahwasanya dia tidak mati disalib --seperti yang dikatakan orang-orang Nashrani--, akan tetapi yang disalib itu adalah orang lain yang diserupakan dengan wajahnya...lalu bapak menjelaskan makna-makna dan maksud-maksud dari ayat tersebut kepada putra-putrinya dengan cara yang sesuai dengan tingkatan berpikir mereka.   
    Demikian puka makna-makna tauhid dan akidah selebihnya, saat mereka mereka melewatinya dalam Al Qur`anul Karim...
2-- Melalui penuturan kisah-kisah Nabi Saw., kisah-kisah para sahabat radhiyallahu `anhum dan para pahlawan dalam sejarah Islam: Biasanya anak-anak cenderung suka mendengarkan kisah-kisah...maka orang tua harus memanfaatkan hal tersebut. Tak cukup hanya menuturkan kisah-kisah tersebut tanpa memahami sebagian makna-makna akidah dan iman yang demikian banyak di sela-sela penuturan kisah-kisah itu tadi...tapi dia perlu menjelaskan kepada mereka misalnya: Melalui peristiwa kejadian di mana seorang bapak yang mu`min memerangi anaknya yang kafir, dan seorang anak mu`min memerangi bapaknya yang kafir, sebagaimana pernah terjadi dalam sebagian perang-perang Islam...bagaimana wala` (loyalitas) dalam Islam adalah untuk akidah dan iman bukan untuk darah atau kabilah atau bangsa atau ikatan-ikatan yang lain.
    Demikian pula melalui penuturan kisah-kisah hijrah, bapak menjelaskan misalnya bagaimana para sahabat mengutamakan keselamatan akidah dan ibadah daripada kecintaan terhadap negeri dan kampung halaman, oleh karena manusia itu diciptakan untuk beribadah kepada Allah Ta`ala. Dus dengan demikian dia harus senantiasa berputar bersama tujuan ini ke manapun berputarnya atau adanya.
    Demikianlah makna-makna tauhid selebihnya, orang tua perlu menyampaikannya ke telinga putra-putranya melalui penuturan kisah-kisah yang pasti dan benar dari para pahlawan ummat ini.
3-- Melalui ulasan singkat terhadap sebagian peristiwa-peristiwa yang terjadi: Seorang bapak menuturkan misalnya, pembantaian yang dilakukan orang kafir terhadap kaum muslimin di Bosnia dan Herzegovina, dan apa yang terjadi sekarang di Chechna, yakni upaya musuh melenyapkan bangsa muslim Chechna...kemudian dia menyampaikan padanya bahwa sebabnya adalah karena bangsa tersebut memeluk Islam, dan oleh karena mereka adalah orang-orang Islam; dengan  cara tersebut, dia menanamkan ke dalam hati anaknya kecintaan terhadap orang-orang beriman dan menaruh simpati terhadap mereka, membenci orang-orang kafir dan berlepas diri dari mereka.
    Demikian pula apa yang telah terjadi dan sedang terjadi di Palestina, negeri kaum muslimin...ia akan menanamkan di dalam hatinya kebencian terhadap orang-orang Yahudi, dan kebencian terhadap agama mereka dan adat istiadat mereka.
    Demikian pula jika si anak sakit...orang tua perlu menjelaskan kepadanya --meski ia berobat dan minum obat-- bahwa yang menyembuhkan sakit hanyalah Allah Ta`ala semata, dan bahwa obat itu tiada lain cuma sebab perantaraan yang Allah menitipkan kesembuhan dan penawar padanya.
    Dan hendaknya orang tua menjelaskan padanya bahwa yang memberi manfaat dan memberi bahaya hanyalah Allah Ta`ala semata...tidak boleh berlindung kepada selain-Nya untuk menghindarkan bahaya atau mendatangkan manfaat...dengan pengajaran seperti itu, maka orang tua menanamkan dalam diri anaknya sifat selalu bergantung kepada Allah Ta`ala bukan kepada yang lain. Dan ini termasuk tauhid.
    Demikianlah, pada setiap kesempatan atau kejadian yang lewat, seorang bapak harus memberikan padanya penafsiran menurut akidah dan iman, untuk menjadi masukan yang berharga bagi anak..!!
4-- Melalui panutan yang baik: Yang kami maksud dengan contoh yang baik adalah, hendaknya seorang bapak menjadi panutan yang baik bagi anak-anaknya...mereka membaca tauhid dan akidah melalui sikap dan perkataan bapak mereka sehari-harinya; dia --misalnya-- menyanjung baik seseorang di hadapan anak-anaknya, karena dia adalah seorang lelaki yang shaleh, mu`min dan mujahid, bukan karena alasan yang lain..
    Demikian pula dia memburukkan seseorang, oleh karena dia adalah seorang kafir dan musyrik, buruk perilaku dan agamanya, bukan karena alasan yang lain.. maka melalui perkataan tersebut, anak-anak mendapatkan timbangan dan tolok ukur yang dengannya dan di atas landasannya, mereka bisa menimbang orang-orang lain dan sikap-sikap mereka.
    Dan ketika dia berlepas diri dari rezim tertentu, maka dia berlepas diri darinya karena ia adalah rezim kafir yang memerangi Islam, memusuhi Allah dan Rasul-Nya...bukan karena rezim tersebut tidak memberikan jaminan pekerjaan padanya...demikian pula halnya yang berlaku dengan sikap-sikapnya yang lain.
    Agar supaya timbangan ini tidak goyah dalam benak kepala anak, maka sudah seharusnyalah bagi orang tua untuk berhati-hati dengan perkataan-perkataan mereka di hadapan anak-anak mereka; jangan sampai misalnya mereka terlalu gampang memuji orang kafir atau orang musyrik...atau memuji adat kebiasaan dan perbuatan orang-orang musyrik...atau memuji sebagian dari rezim-rezim thaghut...karena anak-anak itu akan mengulang-ulang dan mempercayai apa yang dikatakan bapak-bapak mereka  di belakang mereka!
    Camkanlah sabda Nabi Saw. sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits shahih:
"Kedua orang tuannyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi..."
Itu terjadi melalui proses pengajaran yang tidak benar terhadap anak-anak mereka, setelah mana Allah menciptakan mereka di atas fitrah, yakni lurus dan mentauhidkan Allah.
    Saya hendak menunjukkan, melalui point persoalan di atas, bahwa anak-anak mendapatkan banyak makna-makna akidah dan tauhid melalui pembicaraan orang tua mereka di depan mereka, dan melalui perilaku dan perbuatan mereka sehari-hari...karena itu orang tua harus senantiasa mengontrol diri, perkataan dan perbuatan mereka, khususnya di hadapan anak-anak mereka.
5-- Melalui koreksi tindakan dan perkataan yang salah yang dilakukan oleh anak-anak: Jadi anak-anak itu, lewat aktifitasnya sehari-hari, pasti akan timbul kesalahan daripadanya juga...maka orang tuan harus mengingatkan kesalahan-kesalahan tersebut, bahwasanya kesalahan itu menafikan kesempurnaan tauhid.
    Contohnya, boleh jadi orang tua mendengar di antara anak-anaknya ada yang bersumpah dengan nama selain Allah...maka dia mengingatkannya bahwa perkataan itu termasuk perbuatan syirik yang dilarang oleh Allah Ta`ala dan Rasul-Nya Saw. ...dan jika dia harus bersumpah, maka hendaknya dia bersumpah dengan nama Allah Ta`ala saja.
    Dan jika dia mengatakan --disebabkan masukan yang ia perleh dari sekolah atau lingkungan yang lain-- bahwa Sinterclas bisa memberi manfaat dan mampu mendatangkan manis-manisan dan hadiah-hadiah yang bagus dan berharga...maka orang tua harus menjelaskan kepadanya bahwa Sinterclas tiada lain hanyalah berhala semata. Ia adalah tahayul yang dibikin oleh tangan pendeta-pendeta dan rahib-rahib, yang tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak bahaya bagi dirinya sendiri, lebih-lebih memberikannya kepada yang lain.
    Demikian pula jika si anak menonton adegan-adegan dalam film-film karton, di mana tokoh-tokoh pahlawan dalam film tersebut digambarkan bisa mengendalikan angin, hujan dan alam semesta...maka orang tua harus membenarkan kesalahan tersebut, dan menjelaskan kepada mereka bahwa itu termasuk syirik, yang tidak  boleh ditonton.
    Demikianlah melalui koreksi tindakan-tindakan dan perkataan-perkataan salah yang dilakukan anak, maka mereka mendapatkan banyak makna-makna akidah dan tauhid.
    Inilah sebagian di antara sarana-sarana dan cara-cara yang sederhana dan mudah --dan penting dalam waktu yang sama--, melalui perantaraannya, orang tua mampu menjelaskan akidah dan tauhid kepada putra-putra mereka.
Kelima: Perkawanan dan pertemanan.
    Yang kami maksud dengannya --sebagai tambahan dari poin-poin di muka-- adalah, seorang ayah haruslah mempergauli putra-putranya sebagai seorang kawan dan teman mereka, di samping statusnya sebagai seorang ayah yang punya hak atas diri mereka, hak-hak yang dilindungi oleh syara`. Ini akan membantu tercapainya dua tuntutan penting dalam proses pendidikan dan pemeliharaan anak di negeri-negeri Barat. Pertama: Anak-anak tidak mendapatkan kendala-kendala yang menghalangi mereka untuk berterus terang kepada bapak-bapak mereka dalam hal apapun, atau meminta pendapat mereka dalam setiap hal baru bagi mereka...dan ini memungkinkan orang tua untuk mengetahui semua problem anak dan dan apa saja yang mereka hadapi, sebagaimana ia memungkinkan mereka untuk mengarahkan anak-anak mereka secara bijak, ke arah kecenderungan yang benar dan diminta.
    Sesungguhnya ketidak terus terangan anak terhadap orang tua untuk menyampaikan berbagai problem dan persoalan-persoalan baru yang dihadapinya, yang memang membutuhkan bantuan orang lain, pada umumnya akan membuat anak melakukan curhat/mengadu kepada teman-temannya yang tak baik. Ia akan meminta pendapat mereka dalam urusannya dan dalam memecahkan problem yang dihadapinya, untuk ia dapatkan pada mereka pendapat-pendapat yang terburuk dan solusi-solusi yang terjelek, yang bisa merusak dan membinasakannya, sekiranya ia melakukannya...!
    Tidak ada dalam lingkungan kehidupan anak-anak, seseorang yang menghendaki kebaikan untuk diri mereka seperti halnya orang tua-orang tua yang shaleh...tentu saja ini menuntut terciptanya hubungan yang baik (harmonis) dalam bentuk lain, yang memudahkan proses keterus terangan dan pengarahan tanpa ada kendala atau hambatan psychologis yang tak bermanfaat dan tak perlu.  
    Kedua: Sesungguhnya persahabatan yang benar seperti ini akan memberikan kepada anak perasaan yang tulus terhadap kecintaan, kasih sayang dan belas kasih orang tua terhadap mereka...!
    Perasaan akan kecintaan orang lain terhadap mereka, sangat mereka hajatkan di negeri-negeri ini.. anak selamanya akan mencari seseorang yang mencintai dan perduli terhadapnya, dan ia akan tertarik kepadanya, kepada pengarahan-pengarahan dan pengajaran-pengajarannya...jika dia tidak menemukan kecintaan ini pada diri orang tuanya, maka dia akan mencari seseorang yang mana dia dapat menemukan perasaan itu padanya, untuk memenuhi kebutuhannya pada sisi ini...!
    Problem bisa menjadi besar dan sangat berbahaya, pada saat anak tidak mendapatkan kecintaan dan kasih sayang dari orang tua mereka, kemudian mereka mendapatkan sesuatu daripada itu pada diri guru-guru mereka, yang musyrik dan fasik, atau pada diri sahabat-sahabat mereka dari kalangan teman-teman jahat..!!
    Maka saat itu, guru yang rusak dan teman yang jahat, keduanya bisa menjadi idola dan panutan bagi anak, dan dari keduanya dia menerima banyak nilai-nilai, pemahaman-pemahaman dan adat kelakuan-adat kelakuan yang buruk...!
    Sisi persoalan ini, karena sangat pentingnya, maka Islam sangat menaruh perhatian besar padanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits muttafaq `alaih, riwayat Al Bukhari dan Muslim, dari `A'isyah ra, dia berkata: Seorang Arab Badui datang menemui Nabi Saw., lalu dia bertanya: "Apakah kalian biasa mencium anak-anak kecil? Kami tidak biasa mencium mereka!!"  Maka berkatalah Nabi Saw.: "Apa yang bisa kuperbuat atasmu, kalau Allah telah mencabut sifat belas kasih dari hatimu."
    Dan dari Abu Hurairah ra., dia berkata: " Nabi Saw. mencium Husein bin `Ali ra, sedang di sampingnya ada Aqra` bin Habis. Lalu Aqra` bertanya: "Sesungguhnya aku punya sepuluh orang anak, tak seorangpun di antara mereka yang pernah kucium." Mendengar perkataan tersebut, Nabi Saw. menoleh kepadanya kemudian berkata: "Siapa yang tidak berbelas kasih, tidak akan dibelas kasihi" Muttafaqqun `alaih.
    Dan dari `A'isyah ra., dia berkata:"Aku belum pernah melihat seseorang yang paling mirip terhadap Rasulullah Saw daripada Fathimah, semoga Allah memuliakan wajahnya. Adalah Fathimah, apabila dia mengunjungi Nabi Saw, maka beliau menyongsongnya, memegangnya dan menciumnya dan kemudian mendudukkannya di tempat duduknya. Dan apabila beliau mengunjunginya, maka ia memegangnya dan menciumnya dan kemudian mendudukkannya di tempat duduknya."
    Dari Al Barra`, dia berkata: Aku mengunjungi Abu Bakar pada saat pertama dia datang ke Madinah. Kulihat `A'isyah putrinya tengah berbaring terserang demam. Lalu Abu Bakar ra mendatanginya dan bertanya padanya: "Bagaimana keadaanmu wahai putriku?"Lalu dia mencium pipinya.
    Dari Abu Hurairah, dia berkata: Adalah Rasulullah Saw. pernah lidahnya kepada Husein bin `Ali, lalu anak tersebut melihat merah lidahnya, maka ia pergi cepat-sepat mendatanginya."
    Dan dari Buraidah, dia berkata: "Rasulullah Saw. sedang berkhotbah di hadapan kami, lalu Hasan dan Husein mendatanginya mengenakan dua ghamis mereah. Keduanya jatuh dan bangun. Maka beliau turun dan memegang keduanya dan membawa keduanya naik ke mimbar, kemudian beliau berkata: Maha Benar Allah  (Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah). Kulihat dua orang bocah ini, lalu aku tidak sabar, kemudian aku ambil dalam khotbah."
    Adalah Nabi Saw. pernah berjalan untuk satu keperluan bersama beberapa orang sahabatnya. Lalu datanglah anak-anak, memegang ujung baju Nabi Saw,...lalu beliau berjalan bersama mereka ke manapun mereka mau!!
    Allahu Akbar...pemimpin ummat manusia dan gurunya yang paling besar secara mutlak...dituntun oleh anak-anak Madinah...lalu dia berjalan bersama mereka -- karena rasa belas kasih dan sayangnya kepada mereka-- ke manapun mereka mau...!!
    Inilah sebagian di antara akhlak guru kita yang terbesar dan Nabi kita yang agung Muhammad Saw....Lalu di mana mereka yang mengikutinya dan mengambil petunjuknya, akhlaknya dan adabnya yang luhur...kemudian di mana mereka yang berpaling dari petunjuk dan akhlak Nabi kita Saw, dan mengambil akhlak dan budaya-budaya paganis lagi usang yang masuk kepada kita dari negeri-negeri Barat dan negeri-negeri non Muslim yang lain...?!!
    Janganlah mereka menganggap bahwa mereka baik-baik...atau bahkan menganggap bahwa mereka adalah orang-orang Islam...!!
    Jika ada yang menanya, mengapa saya mengkhususkan masjid-masjid di Pakistan...? Maka saya jawab: "Saya tidak melihat masjid-masjid yang menganjurkan ummat untuk menjauhkan anak-anak daripadanya --meski mereka menjaga ketenangan dan kebersihan-- seperti halnya masjid-masjid yang diurus dan dikelola oleh saudara-saudara muslim dari Pakistan..!!

Peringatan:
    Semua uraian yang telah disampaikan di muka tidak khusus menjelaskan hubungan pergaulan orang tua dengan anak laki-laki mereka saja, tapi ia mencakup anak laki-laki dan anak-anak perempuan. Bahkan anak-anak perempuan, pendidikan mereka dan keharusan berbuat baik kepada mereka, memiliki keistimewaan khusus di dalam Islam, yang hanya menjadi hak monopoli mereka, sedangkan anak laki-laki tidak ikut berserikat di dalamnya.
Rasulullah Saw. bersabda:
" مَن عالَ ثلاثاً من بناتٍ يكفيهِنَّ ويرحَمهُنَّ، ويُرفقُ بهنَّ، فهو في الجنَّةِ "
"Siapa yang menanggung nafkah 3 orang anak perempuan, dia mencukupi (kebutuhan hidup) mereka, menyayangi mereka dan berlaku baik pada mereka, maka dia di surga."
Rasulullah Saw. bersabda:
"Siapa yang  menanggung nafkah dua anak gadis hingga keduanya akil baligh, maka aku dan dia masuk surga, seperti ini" Beliau mengucapkan demikian seraya merapatkan jari-jari tangannya."  HR. Muslim.
Ini adalah keistimewaan yang menjadi monopoli anak-anak perempuan, anak-anak lelaki tidak ikut berserikat di dalamnya.
    Maka camkan dan renungkan wahai orang yang hanya memperhatikan anak-anak lelaki dan mengabaikan anak-anak perempuan serta hak-hak mereka atasnya...!!
    Adapun selanjutnya: Ketahuilah bahwa yang menunjukkan kepada setiap kebaikan adalah Allah Ta`ala semata. Barangsiapa yang Allah hendan memberinya petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, meskipun seluruh bangsa jin dan manusia bersatu padu untuk menyesatkannya, sebagaimana firman Allah Ta`ala:
 من يهدِ اللهُ فهو المهتد ومَن يُضلل فلن تجد له ولياً مرشداً 

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang Dia sesatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang penolongpun yang dapat menunjukinya." (Qs Al Kahfi 17)
 ومن يُضلل اللهُ فما له من هاد 
"Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tak seorangpun yang bisa memberi petunjuk padanya." (Qs Az Zumar 23)
    Maka dari itu tidak ada jalan keluar bagimu, wahai hamba Allah --di samping iltizammu kepada poin-poin solusi di atas-- selain berlindung selalu kepada Allah Ta`ala; memohon petunjuk dan keselamatan untuk dirimu dan keluargamu...karena Allah adalah sebaik-baik penjaga, dan Dia adalah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Dan akhir seruan kami adalah ucapan "Alhamdulillaahi rabbil `Alamien"


www.abubaseer.com


Share on Google Plus

Tentang Al Inshof

Al Inshof merupakan situs yang mencoba memberi gambaran kepada pembaca tentang Islam dan informasi-informasi terkait dunia Islam. Semoga apa yang ada di Al Inshof bermanfaat bagi Anda semua. Kritik dan saran dapat Anda emailkan ke buletinalinshof@gmail.com