Janji Alloh vs Ancaman Syetan

Dalam surat Al Baqorah Alloh berfirman:"“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui” (QS. al-Baqarah: 268)"
Dalam ayat tersebut jelas satu sisi Alloh menjanjikan ampunan dan karunia-Nya sementara syetan menjanjikan kemiskinan. Sebuah ancaman yang sering membuat manusia khususnya pecinta dunia merinding, takut jangan-jangan nanti benar-benar miskin.

Untuk itu ada baiknya kita simak perkataan Hasan al Bashri salah seorang tabi'in yang terkenal dengan kezuhudannya. Ia menyebutkan sekitar 90 tempat dalam Al Quran menegaskan bahwa Alloh telah menetapkan kadar rejeki dan menjaminnya untuk makhuk-Nya dan hanya pada satu ayat Alloh menyebutkan ancaman syetan."
Itulah yang dijelaskan oleh seorang tabi'in, sebuah generasi yang telah mendapat jaminan Allah bahwa generasi tersebut telah diridloi-Nya dan mereka pun ridlo kepada Alloh. Tapi sekarang mari kita lihat realitanya.
Ternyata kebanyankkan manusia lebih memilih dan percaya pada ancama syetan daripada janji Alloh. Indikasi dari hal ini bisa kita lihat sebagai berikut:
  • Tidak selektif dalam mencari penghasilan
Banyak orang yang takut miskin. Akibat dari takut miskin ini adalah tidak selektifnya manusia dalam mencari dan mendapatkan penghasilan. Bahkan ada kredo di kalangan manusia, cari yang haram saja a palagi yang halal.' Slogan ini tentu saja menunjukkan bahwa mereka telah su'udzan pada Alloh. Seolah ketika Alloh mengatakan makanlah dari yang halal dan yang baik, mereka segera membantah, bagaimana bisa mencukupi kebutuhan dengan yang halal wong cari yang haram saja sulit.......
Nah, mereka sama sekali tidak yakin bahwa Alloh akan mencukupi kebutuhannya hanya dengan yang halal saja. Akibatnya, dalam mencari pengahasilan mereka tidak selektif, pokok e yang pentig dapat, meski dengan cara yang haram, yang dilarang oleh Alloh.
Padahal justru sebaliknya, jika manusia memilih jalan yang dilarang Alloh dalam mencari rejeki bisa jadi hal tersebut justru menjadi penghalang datangnya rizki Alloh. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah, yang artinya:"Sesungguhnya seseorang bisa terhalang dari rizki dikarenakan dosa yang ia perbuat "(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Atau kalaulah mereka mendapat rizki dari  yang halal, barokah dari rizki tersebut dicabut oleh Alloh sehingga justru harta yang ia peroleh tidak membawa kebahagiaan dalam hidupnya, bahkan bisa jadi Alloh mengadzabnya dengan harta tersebut. Naudzubillahi min dzalik.

  • Tenggelam dalam mencari kesibukan dunia dan menelantarkan kewajiban taat kepada Alloh.
Bekerja keras dan sungguh-sungguh bukanlah sesuatu yang tercela dalam pandangan islam, selama kewajiban dan hak Alloh tidak terganggu. Tetapi manakala kesibukan dunia itu telah menyebabkan ia abai terhadap hak-hak Alloh yang harus ia tunaikan, tentu ini merupakan wujud keberhasilan syetan dan mengancam manusia. Manusia sibuk karena takut tidak mendapatkan bagian dari dunia. Sehingga hampir-hampir 24 jam waktu yang diberikan oleh Alloh tidak cukup meski hanya untuk mengejar dunia. Padahal rejeki itu mutlak dari Alloh, Dia-lah penjaminnya.

Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” (QS. al-Mulk: 21)

Bagaimana seseorang akan mendapatkan bagian cukup dari karunia-Nya, sementara ia berpaling dari ketaatan kepada-Nya? Logika yang sehat justru menunjukkan, bahwa dengan amal shalih, menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat dan mendatangkan keridhaan Allah akan mengundang hadirnya kemurahan Allah. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi , bahwa beliau bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Anak Adam, luangkanlah olehmu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan, dan aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, niscaya Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan “shahih”)
  • Tanda ketiga adalah bakhil. 
Ibnu Qayyim al-Jauziyah menelaskan firman Allah, Yakni setan menakut-nakutimu dengan membisikkan, “Jika kamu menginfakkan hartamu, kamu akan menjadi fakir” dan menyuruhmu berbuat fahsya’ yakni bakhil. Muqatil dan al-Kulabi mengatakan, “Semua kata fahsya’ dalam al-Qur’an maknanya adalah zina kecuali pada ayat ini, makna fahsya’ di sini adalah bakhil.”

Muqotil mengatakan semua kata fasya' dalam al Qur'an berarti zina tetapi pada ayat ini berarti  bakhil. Indikasi bahawa seseorang terkena yakin ancaman syetan ini adalah mereka bakhil dalam sedekah. Mereka menyangka bahwa tatkala harta mereka sedekahkan, kemiskinan akan menimpa mereka. Padahal pada kenyataannta justru Alloh membuka dan mengembangkan rizki manusia tatkala mereka mau sedekah.

Allah menghendaki penambahan nikmat itu dengan cara sedekah, dan tercabutnya nikmat itu dengan maksiat dan menolak sedekah. Bahkan setiap datang pagi hari, dua malaikat turun untuk berdoa. Satu malaikat berdoa,
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
“Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi yang bersedekah” (HR Bukhari)
Sedangkan malaikat satunya berdoa,
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Ya Allah, berilah kebangkrutan bagi orang yang menahan sedekah.” (HR Bukhari)
Share on Google Plus

About Buletin Alinshof