Syarah Hadits Ka’b bin Malik oleh Syaikh Usamah bin Ladin –hafizhahullah-

Sesungguhnya segala puji milik Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, meminta ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, niscaya tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu baginya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [QS. Ali Imran (3): 102].

Amma ba’du:

Pembahasan kita pada pertemuan kali ini adalah tentang kondisi umat yang agung yang telah ditimpa musibah, sebagaimana yang telah kalian ketahui sendiri, berupa berkuasanya orang-orang kafir atasnya. Mereka menjalankan hokum dengan selain hukum Allah dan menodai berbagai kesuciannya. Lihatlah sekarang telah berlalu lebih dari 8 dekade
atas pendudukan Palestina di tangan orang-orang Nasrani dan setelah mereka orang-orang Yahudi. Telah berlalu 10 tahun pendudukan pasukan salibis yang dipimpin oleh Amerika. Mereka menduduki Masjidil Haram, negeri dua tanah suci (biladul haromain). Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Meskipun musibah besar dan bencana dahsyat ini telah menimpa umat Islam, masih saja ada orang-orang yang berada dalam ketersesatan dan kebingungan. Belum mau bergerak sedikitpun untuk membela Laa ilaaha illallaah. Hanya kepada Allah-lah tempat mengadu. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
Banyak para pentakwil yang membolehkan duduk-duduk berpangku tangan dengan banyak argumen. Hanya saja intinya kaum muslimin dihinakan, dan syariat Allah Yang Maha Penyayang telah dijauhkan agar jangan sampai dijalankan kepada para hamba-Nya sebagai undang-undang dari Allah SWT Rabb kita.

Syariat Allah telah dijauhkan dari masyarakat, sementara mereka tersesat jauh dari manhaj Muhammad SAW dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi, dalam mengangkat kehinaan dan kerendahan diri mereka. Dan diantara cara yang agung untuk menerangkan kebenaran adalah dengan mengingat bersama-sama bagaimana kondisi periode para pendahulu kita ra, bagaimana kehidupan para sahabat yang mulia ra. Dengan demikian kebenaran akan nampak jelas bagi kita daripada kebatilan, kebenaran akan nampak dalam ilustrasi yang gamblang dengan izin Allah SWT.

Saya telah merenungkan sirah mereka ra, dan di antara apa yang saya lihat paling jelas dalam masalah ini adalah hadits Ka’b bin Malik ra sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab hadits yang lainnya. Dalam hadits panjang yang agung ini, sahabat yang mulia ini mengaku dengan terus terang tentang tabiat jiwa manusia dan kelemahannya. Ia ra tidak mendebat atau berdusta sebagaimana orang-orang yang bersumpah dusta sehingga Allah SWT membinasakan mereka dan mengomentarinya dengan komentar yang sangat buruk.

Mari kita mentadabburi bersama-sama kejujuran dan keterusterangan ini agar kita tahu bagaimana tabiat orang-orang yang duduk-duduk tidak berangkat berjihad. Kita berusaha mengobati dan menasehati jiwa kita, saudara-saudara dan ulama kita. Kita berharap kepada Allah agar sudi kiranya mengembalikan kita dengan pengembalian yang baik.

Ka’b bin Malik ra bercerita tentang perang Tabuk yang tidak diikutinya. Padahal ia adalah termasuk dari sahabat Anshar yang pertama-tama masuk Islam ra. Keislamannya tidak dirgukan lagi. Ia termasuk yang hadir, menyaksikan, dan berbai’at pada hari dilaksanakannya bai’at ‘Aqabah. Bai’at agung yang menjadi tonggak tegaknya Daulah Islam. Daulah Islam tegak di Madinah Al-Munawwaroh, sementara kita tidak lain hanyalah salah satu buah diantara buah-buahnya yang penuh barakah.

Ia menceritakan: Saya tidak pernah absen dari setiap perang yang dipimpin Rasulullah SAW sama sekali kecuali perang Badar. Dan Rasulullah SAW sendiri tidak mencela seorang pun yang absen pada perang-perang tersebut. Ia termasuk yang aktif ikut di semua perang Rasulullah SAW kecuali perang Badar. Ia termasuk yang menikmati berbagai peperangan dan mempersembahkan lehernya untuk membela laa ilaaha illallaah. Namun, manusia tetaplah manusia, yang kadang kala digelincirkan oleh setan, sekali waktu lemah dan tertipu oleh dirinya sendiri. Inilah yang dinyatakan dengan jelas oleh beliau ra.

Ia melanjutkan: Rasulullah SAW mengajak untuk berangkat berperang ketika hari semakin panas menyengat di saat orang-orang sedang qoilulah (istirahat sejenak) di bawah pohon-pohon kurma mereka. Buah kurma yang ada di pohon sudah mulai tampak matang. Ia berkata: “Waktu itu saya senang dengannya”, dalam artian ia cenderung/senang dengan naungan/keteduhan tersebut dan cenderung/senang dengan buah kurma tersebut. Inilah tabiat jiwa manusia. Kita bisa membacanya pada orang-orang besar semacam mereka ra. Jika mereka saja ada yang absen dari jihad, maka tak heran apabila ada orang-orang pilihan pada hari ini yang juga absen dari jihad. Karena orang-orang yang lebih baik dari kita dan dari mereka saja pernah ada yang absen sebagaimana disebutkan dalam hadits ini yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Saya lebih senang dan cenderung kepada pohon-pohon kurma tempat berteduh. Sementara orang-orang mulai bersiap-siap. Saya pun bersiap-siap. Waktu berlalu. Hari pertama berlalu, saya belum menyiapkan apapun. Saya berkata: Saya akan mempersiapkan diri besok. Namun belum juga melakukan apapun. Saya berkata pada diri sendiri –perhatikan pernyataannya di sini–: Saya berkata pada diriku sendiri, saya kuasa untuk berangkat bersama mereka. Si jiwa menipu pemiliknya yang biasa berjihad. Ia melanjutkan: Ini masalah sederhana, saya bisa berangkat. Saya berkata pada diriku sendiri, saya bisa berangkat dan mampu melakukannya. Saya masih dalam keadaan semula sampai waktu perang semakin dekat. Rombongan menakutkan itu pun berangkat. Sebuah rombongan agung yang dipimpin oleh Muhammad SAW diiringi Abu Bakar, Umar dan para sahabat yang mulia.

Sebagian besar ahli siroh memperkirakan mereka berjumlah 30 ribu sahabat ra. Di sini seorang muslim harus ingat akan tipu daya jiwa. Berapa banyak orang yang duduk, berapa banyak orang yang berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah tertipu oleh jiwanya. Seandainya ia mau pergi ia pasti pergi. Seandainya bapaknya, pemimpinnya atau penunjuk jalannya ingin beragkat pasti berangkat. Namun ketidakberangkatannya termasuk ketertipuan yang nyata dan jelas. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Ia tertipu oleh jiwanya. Ia yang sudah berpengalaman dalam peperangan dan pertempuran. Kaum Anshar yang terbiasa dengan perang dan bertempur. Mereka mewarisi kebiasaan itu dari orang-orang tua mereka. Namun ia tertiupu oleh jiwanya. Lalu bagaimana dengan orang yang belum pernah berangkat perang sama sekali? Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Akan sangat mudah bagi jiwa untuk menipu pemiliknya. Mereka yang hidup dalam kehidupan yang sulit. Tidak ada listrik, AC dan tidak ada apa-apa. Buah kurma yang kelihatan mau masak di pohon kurma membuatnya berat untuk berangkat jihad. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang longgar dalam hal-hal yang mubah sampai malah berlebihan. Tenggelam dalam kemewahan. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Bagaimana dengan mereka tidak tertipu oleh jiwanya kecuali orang yang Allah kehendaki selamat.

Orang-orang telah berangkat. Ka’b jatuh dalam dosa besar yang memalukan. Duduk tidak ikut membela laa ilaah illallaah. Duduk tidak ikut membela tauhid dan akidah. Merasa berat karena kenikmatan kehidupan dunia yang pada waktu masih sangat sedikit.

Udara waktu itu panas. Dalam beberapa atsar lain di Tabuk, Umar ra berkata: Jika salah seorang dari kita keluar menuju kendaraanya lehernya terasa mau putus karena saking panasnya. Lalu apa kata pecinta dunia. Apa kata mereka?

 (( وَقَالُواْ لاَ تَنفِرُواْ فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ )) ,

“Dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.” [QTS. At-Taubah (9): 81].

Mereka menghadiri hadits-hadits Rasulullah SAW, khutbah-khutbah jum’at dan mengetahui apa yang beliau sampaikan. Mengatakan dengan lisan mereka namun tidak paham. Karena masalah paham adalah berkaitan dengan kepahaman hati dan rasa takut kepada Allah. Mereka tidak paham walaupun mengetahui. Seandainya paham pasti mengetahui bahwa api neraka jahannam lebih dahsyat panasnya. Lebih dahsyat panasnya.

Sekarang apa yang bisa dikatakan kepada saudara-saudara kita? Dikatakan kepada mereka: Sesungguhnya jika kalian kembali cambuk sudah menunggu. Dan sesungguhnya cambuk di penjara-penjara itu panas. Dikatakan kepada mereka: Sesungguhnya aparat keamanan dan intelejen selalu mengikuti kalian. Maka kami katakana kepada mereka:

(( قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ )) ,

“Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.” [QTS. At-Taubah (9): 81].

Kita berharap kepada Allah agar menganugerahi kita dan kalian akan kefakihan (kepahaman) dan ilmu.

Hari-hari kita terbatas. Apakaha kita akan meninggalkan surga Rabb kita SWT hanya karena ancaman manusia? Tidak demi Allah. Siapa yang yakin bahwa ajal manusia terbatas, tidak bisa dimajukan dan dimundurkan. Siapa yang yakin bahwa rezeki sudah diketahui, tidak akan bertambah dan berkurang, ia tidak akan perduli. Sebagaimana dalam hadits Nabi kita SAW ketika mengajari anak muda Abdullah bin Abbas ra: “Wahai anak muda, saya ajari kamu beberapa kalimat: jagalah Allah niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah engkau dapati-Nya di depanmu. Jika kamu meminta mintalah kepada Allah. Jika kamu minta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali yang sudah ditetapkan Allah untukmu. Dan jika bersatu untuk membahayakanmu dengan sesuatu niscaya tidak bisa melakukannya kecuali yang sudah ditetapkan Allah kepadamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” Hadits ini memberikan pelajaran dan ilmu kepada kaum Muslimin. Ini merupakan anugerah nimat dari Allah kepada kita. Namun para pemuda Islam membutuhkan ilmu dan amal sekaligus untuk menyuarakan kebenaran dengan terang-terangan demi laa ilaaha illallaah sehingga masalahnya menjadi sempurna. Mempelajari ilmu namun tidak diamalkan malah akan menjadi argument yang akan mencelakakan kita. Harus dengan dua-duanya, ilmu dan mengamalkannya. Karena buah dari amal adalah rasa takut kepada Allah. Dan buah ilmu adalah beramal di atas jalan yang sudah dijelaskan Muhammad SAW agar kita mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Setelah itu, ia tertinggal rombongan perang. Ka’b berkata: Saya ingin menyusul mereka namun itu tidak ditakdirkan untukku. Ia melanjutkan: Duhai seandainya saya melakukannya. Perang agung yang penuh barakah itu termasuk perang terakhir yang diikuti Rasul kita SAW. Kesempatan besar hilang darinya, apalagi melakukan dosa besar yang memalukan. Duhai seandainya saya melakukannya.

Wahai hamba Allah gunakan kesehatanmu. Manfaatkan waktu luang dan masa mudamu. Inilah medan-medan surga telah terbuka lebar. Terdapat keterangan shahih dari Nabi kita SAW: “Sesungguhnya pintu-pintu surga terletak di bawah naungan pedang”. Ketika Abu Musa Al-Asy’ari mengatakan hadits ini, ada seseorang bertanya: Wahai Abu Musa apakah engkau mendengar hadits ini dari Rasulullah SAW?. Lihatlah kepada kepahaman mereka, ingin mengetahui untuk mengamalkannya. Bukan untuk memperbanyak ilmu yang justru akan menjadi argument yang akan mencelakakannya. Jadi harus dengan ilmu dan amal. Apakah engkau mendengar hadits ini dari Rasulullah SAW? Injgin meyakinkan bahwa hadits itu adalah hadits shahih. Abu Musa menjawab: Ya. Ia pun berlalu menuju kaumnya, mengucapkan salam kepada mereka lalu mengambil sarung pedangnya kemudian ia patahkan, terus pergi untuk berperang sampai terbunuh rhm.

Inilah manhaj para sahabat yang mulia. Manhaj para pendahulu kita yang shaleh ra. Ka'b berkata: Duhai seandainya saya melakukannya. Kesempatan masih kamu miliki sebelum datangnya hari H baru kamu berkata: Duhai seandainya saya melakukannya.

Diriwayatkan, ada ada seorang ulama shaleh sedang menghadapi sakaratul maut, ia ada di atas tempat tidur kematiannya. Kedua matanya menteskan air mata, ia adalah termasuk orang yang bertakwa dan berilmu. Ia ditanya: Apa yang membuatmu menangis? Sambil melihat kedua telapak kakinya ia menjawab: Saya menangis karena kedua telapak kakiku belum pernah terkena debu di jalan Allah.

Kalian tahu hadits shahih dari Nabi kita SAW: Kedua telapak kaki seorang hamba yang terkena debu di jalan Allah tidak akan disentuh api neraka. Allahu Akbar (Allah Mahabesar!). Suatu ibadah, hanya dengan menyentuh debunya saja bisa melindungimu dari api neraka. Bagimana dengan orang yang keluar dengan jiwanya dan hartanya dan tidak kembali lagi dengan keduanya maka itu adalah sebaik-baik amalan. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari, ketika ditanya tentang perbedaan keutamaan amalan dan amalan yang paling utama, beliau SAW menjawab: Seorang laki-laki yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya di jalan Allah”. Banyak saudara-saudara kita menakut-nakuti kita dengan bahaya. Padahal bahaya yang sebenarnya adalah bahaya ketika ada dalam kubur. Kita memohon kepada Allah SWT agar menjadikan kubur kita sebagai salah satu taman surga.

Bahaya sebenarnya adalah kelak pada hari perhitungan (yaumul hisab), hari kiamat, hari dinampakkan kesalahan-kesalahan (yaumut taghabun). Engkau datang padahal telah tertipu. Umurmu telah habis pada perkara-perkara yang membuatmu duduk-duduk tidak ikut membela laa ilaaha illallaah. Allah Ta’ala berfirman memperingatkan kaum mukminin agar jangan sekali-sekali dekat-dekat dengan sifat orang-orang munafik, karena sifat orang-orang munafik yang paling menonjol adalah duduk-duduk tidak membela Allah,

(( وَجَاء الْمُعَذِّرُونَ مِنَ الأَعْرَابِ لِيُؤْذَنَ لَهُمْ وَقَعَدَ الَّذِينَ كَذَبُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ ))

“Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan 'uzur, yaitu orang-orang Arab Baswi agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja.” [QTS. At-Taubah (9): 90].
Semoga Allah menjaga kita dan kalian dari sikap duduk-duduk berpangku tangan tidak membela Allah dan Rasul-Nya SAW.

Lihatlah para pendahulu kita itu. Ia menjelaskan dalam haditsnya ra, ia melanjutkan: Ketika rombongan perang sudah bertolak, saya keluar di Madinah. Yang membuat saya bersedih adalah saya tidak melihat di jalan-jalan Madinah kecuali orang yang sudah tenggelam dalam kemunafikan atau ia termasuk salah satu orang-orang yang memiliki udzur. Itulah mereka para pendahulu kita ra.

Ketika tiba berita bahwa Romawi sedang berpikir akan menyerang umat Islam, belum masuk negeri Islam, hanya sekadar tiba berita bahwa mereka sedang berpikir untuk berkumpul mau menyerang, pemimpin kita dan tauladan kita Muhammad SAW keluar dan mengajak orang-orang: Wahai kuda Allah berangkatlah. Yang duduk-duduk berpangku tangan tidak berangkat hanya orang munafik atau termasuk salah orang yang diudzur.
Lihatlah wahai hamba Allah, jika engkau ingin selamat, ikutilah jejak mereka orang-orang yang mulia ra yang mengikuti Muhammad SAW dan orang-orang bersamanya.

(( مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ ))

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” [QTS. Al-Fath (48): 29].

Pengikutan itu harus sempurna dalam apa saja baik yang kau sukai maupun yang kamu benci. Sebagaimana dalam hadits Ubadah ra: “Kami bersumpah setia (bai’at) kepada Rasulullah SAW untuk mendengar dan taat baik dalam hal yang sulit maupun mudah, dan suka maupun benci.”
Orang-orang membenci perang, maka kamu harus menunaikan amanah yang dititipkan kepadamu.

Inilah keadaannya. Ia tidak melihat seseorang kecuali ia termasuk dari kaum munafik atau termasuk orang yang diudzur. Ketika Rasulullah sampai ke Tabuk, beliau bersabda: “Apa yang dilakukan Ka'b bin Malik?” Beliau ingat kepadanya. Seorang dari Bani Salamah menjawab: “Ia disibukkan oleh kedua pakaiannya dan karena menuruti perasaanya.” Beliau membicarakannya karena ia berpangku tangan dari pembelaan dien dan menjadikan dirinya di tempat yang tidak selayaknya bagi orang beriman, yakni berpangku tangan tidak membela dien. Mu’adz bin Jabal ra menanggapi (komentar seorang dari Bani Salamah tersebut): “Buruk sekali omonganmu. Demi Allah, wahai Rasulullah kami tidak tahu tentangnya kecuali kebaikan.” Ibnu Hajar mengomentari perkataan seseorang dari Bani Salamah tersebut: “Apa yang telah saya katakan kepada kalian bahwa orang yang berpangku tangan dari jihad telah menjadikan pembenaran bagi orang-orang untuk mencela dirinya, karena membela dien adalah termasuk kewajiban yang paling agung.” Kita berharap kepada Allah SWT agar mematikan kita dalam keadaan sedang menunaikan amanah dalam membela dien Rabb kita sampai kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan ridha kepada kita.

Ketika dalam keadaan seperti itu beliau melihat seorang lelaki dari kejauhan berwarna putih menyibak fatamorgana. Seorang lelaki datang dari jauh. Rasulullah SAW bersabda: “Pasti ia Abu Khoitsamah”. Dan ternyata ia benar Abu bKhoitsamah Al-Anshariy ra. Ia tiba setelah mereka semua berjalan semua. Berjalan sendirian tidak menunggu ditemani para qo’idun (orang-orang yang berpangku tangan duduk-duduk saja). Hampir saja syaitan akan menyelewengkannya kepada kesesatan padahal ia adalah seorang sahabat yang mulia ra. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari beberapa perkataan ulama ahli Maghazi (pengarang kitab masalah peperangan Rasulullah SAW) mengenai kisah Abu Khoitsamah. Abu Khoitsamah berkata: Saya masuk rumahku, saya melihat pondokan yang telah diciprati air. Padahal betapa bagusnya pondokan itu jika diciprati air di musim panas. Saya melihat pondokan yang telah diciprati air dan saya memandang istriku –lihatlah orang yang beriman, lihatlah orang yang berakidah lurus dan berkeyakinan menancap kuat di hatinya- saya berkata: Demi Allah ini tidak adil, Rasulullah SAW di bawah matahari terik dan kepanasan sedangkan saya di sini berteduh dan bersenang-senang. Ia pun mengambil tunggangannya dan sedikit kurma lalu berjalan hingga menyusul Rasul kita SAW. Untuk apa Rasulullah SAW keluar? Bukankah belua keluar demi laa ilaaha illallaah? Bagaimana dengan kita yang duduk berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah? Sedangkan kita mengira telah membelanya. Padahal ia telah ditiadakan dari hukum manusia. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
bersambung


Share on Google Plus

About Buletin Alinshof